close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Presiden Joko Widodo dan ibu negara Iriana Jokowi menunjukkan jari kelingking yang bertinta ungu usai mencoblos di TPS 10, Gambir, Jakarta Pusat, 14 Februari 2024. /Foto Instagram @jokowi
icon caption
Presiden Joko Widodo dan ibu negara Iriana Jokowi menunjukkan jari kelingking yang bertinta ungu usai mencoblos di TPS 10, Gambir, Jakarta Pusat, 14 Februari 2024. /Foto Instagram @jokowi
Politik
Kamis, 15 Februari 2024 17:03

Skenario gurita politik Jokowi usai Prabowo-Gibran menang Pilpres 2024

Meskipun tak akan lagi berkuasa, Jokowi disebut-sebut akan menancapkan pengaruh politiknya di parpol-parpol.
swipe

Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 3 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) hampir pasti memenangi Pilpres 2024. Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menunjukkan Prabowo-Gibran mendominasi raihan suara nasional pada kisaran 55-59%. 

Kemenangan Prabowo-Gibran itu tak terlepas dari peran Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saat elektabilitas Prabowo-Gibran sempat stagnan pada Desember 2023, Jokowi "turun gunung", mulai dari mengonsolidasi ketua umum parpol, menggelar kampanye terselubung, hingga menggelontorkan beragam jenis bansos. 

Meskipun tak lagi berkuasa dalam beberapa bulan ke depan, Jokowi bakal tetap berpengaruh di kancah perpolitikan nasional berkat jasanya mengantarkan Prabowo-Gibran ke kursi penguasa. Apalagi, Jokowi bakal punya akses ke Istana Negara lantaran Gibran, putra sulungnya, bakal mendampingi Prabowo. 

Analis politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak mengamini itu. Menurut dia, Jokowi bakal diistimewakan oleh Prabowo. Orang-orang Jokowi kemungkinan bakal ditempatkan di posisi-posisi strategis dalam pemerintahan Prabowo-Gibran. 

"Jadi, dia tetap  berpengaruh meskipun hanya di belakang layar. Namun, saya yakin tidak sampai mengendalikan Prabowo. Presiden terpilih, biar bagaimanapun, memiliki kewenangan konstitusional yang besar," ucap Zaki kepada Alinea.id di Jakarta, belum lama ini. 

Selepas tak menjabat presiden, menurut Zaki, Jokowi akan berusaha memperbaiki hubungan dengan PDI-Perjuangan (PDI-P). Ia menduga Jokowi bahkan bakal berupaya mengendalikan partai berlambang banteng itu. Indikasi itu kuat lantaran Jokowi sempat bermanuver untuk rujuk kembali dengan Megawati Soekarnoputri, Ketum PDI-P. 

"Dalam waktu dekat, saya membaca dia (Jokowi) akan melobi Megawati untuk diberikan posisi terhormat di partai itu. Secara formal, Jokowi kan masih anggota PDI-P hingga hari ini," ucap Zaki. 

Selain menjaga pengaruh di PDI-P, menurut Zaki, Jokowi juga akan berupaya membangun gurita politik di parpol-parpol lainnya. Ia mencontohkan langkah Jokowi menempatkan putra bungsunya, Kaesang Pangarep, sebagai Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).  

"Selain itu, saya melihat ada beberapa kemungkinan. Dia (Jokowi) akan menanam mantunya, Bobby (Nasution) di Golkar. Entah itu sebagai sekjen atau posisi penting lainnya. Jokowi juga akan menaruh orangnya di Gerindra. Tetapi, kita tunggu siapa yang akan dipasang di sana," ucap Zaki.

Di sisa masa jabatannya, Zaki berpendapat Jokowi juga akan rajin bagi-bagi "gula-gula" ke petinggi partai, termasuk di antaranya merayu Puan Maharani untuk jadi bagian dari pemerintahan Prabowo-Gibran. Itu dilakukan demi memuluskan skenario gurita dinasti politik Jokowi. 

"Jika skenario itu berjalan, dinasti Jokowi akan menjadi salah satu kekuatan baru yang berpengaruh secara nasional. Tetapi, tentu saja ini tidak mudah karena resistensi publik atas politik dinasti tampaknya akan semakin menguat ke depannya," kata dia. 

Pendapat berbeda diutarakan guru besar ilmu politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi. Menurut Muradi, bulan madu antara rezim Jokowi dan Prabowo tak akan berlangsung lama sekalipun Jokowi sukses mengamankan posisi wakil presiden untuk Gibran. 

"Jadi, delapan bulan lagi, Pak Jokowi akan kehilangan cengkeraman pada kekuasan. Dia tidak akan punya efek apa pun untuk di pemerintahan 2024. Seseorang yang punya power akan cenderung mengganggap orang lain bukan siapa-siapa," kata Muradi kepada Alinea.id, Rabu (14/2).

Eksistensi Gibran sebagai pendamping Prabowo, kata Muradi, juga tak akan berpengaruh banyak. Pasalnya, jabatan wakil presiden hanya sebagai "ban serep" presiden. "Saya lihat, dalam seminggu ini, orang-orang akan lebih mendatangi Prabowo ketimbang Jokowi," kata Muradi.

Muradi juga pesimistis Jokowi bisa rujuk dengan Megawati dan diberikan posisi terhormat di PDI-P. Setelah tak jadi presiden, Muradi menerka Jokowi akan berlabuh di parpol lain di luar PDI-P demi menjaga pengaruh politiknya tak pudar. 

"Ibu Megawati itu memiliki prinsip yang sulit ditawar setelah mengalami pengkhianatan. Jadi, kemungkinan dia akan bernegosiasi dengan Pak Prabowo untuk jadi petinggi Gerindra. Struktur di Gerindra itu kan ketua dewan pembina Prabowo dan ketua umum juga Prabowo. Nanti bisa saja ketua umumnya Jokowi dan ketua dewan pembina itu Prabowo atau sebaliknya," ucap Muradi.

Langkah Jokowi untuk memperkuat dinasti politiknya, kata Muradi, tak akan mudah meskipun Prabowo-Gibran telah berkuasa. Kubu Jokowi akan perlawanan sengit dari kekuatan oposisi seperti PDI-P dan parpol-parpol pengusung Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Resistensi masyarakat sipil juga kuat karena protes mereka diabaikan oleh Jokowi ketika berkuasa. 

"Eskalasi ini akan menunggu sejauh mana respons negara. Kalau negara kemudian tidak membuat kebijakan yang sifatnya tidak menenangkan, saya kira, ini akan menjadi bola salju yang menggelinding dalam proses politik ke depan," jelas Muradi.

 

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan