close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Bakal calon presiden (bacapres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo bersama cawapres Mahfud MD. /Foto Instagram@ganjar_pranowo
icon caption
Bakal calon presiden (bacapres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo bersama cawapres Mahfud MD. /Foto Instagram@ganjar_pranowo
Politik
Senin, 30 Oktober 2023 06:00

Tanpa Jokowi, mungkinkah Ganjar-Mahfud jadi jawara di Pilpres 2024?

Jokowi sudah hampir tak mungkin mendukung Ganjar Pranowo-Mahfud MD di Pilpres 2024.
swipe

Meskipun belum mengumumkan secara terbuka, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hampir pasti bakal mendukung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (Prabowo). Jokowi diyakini bakal berseberangan dengan PDI-P yang resmi mengusung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD (Ganjar Mahfud). 

Sinyalemen itu setidaknya diungkap Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani. Dalam sebuah acara di Tapos, Depok, Jawa Barat, Minggu (28/10), Rosan mengatakan dukungan relawan Jokowi kepada Prabowo ialah indikasi tegas arah politik Jokowi. 

"Kalau Pak Jokowinya ada di mana, relawannya bulet ada di situ. Relawan ini meyakini yang terbaik adalah Prabowo-Gibran. Dan, Mas Gibran ini, saya bicara dengan Bapak Presiden, Bapak Presiden menyampaikan, 'Ini adalah stempelnya saya. Mas Gibran itu, stempel saya'," ujar Rosan menirukan ucapan Jokowi.  

Di lain kubu, PDI-Perjuangan pun seolah sudah pasrah bakal pisah jalan dengan Jokowi. Dalam keterangan pers yang diterima Alinea.id, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto mengatakan partainya sedang terluka lantaran Jokowi telah meninggalkan PDI-P. 

"Kami begitu mencintai dan memberikan privilege yang begitu besar kepada Presiden Jokowi dan keluarga. Namun, kami ditinggalkan karena masih ada permintaan lain yang berpotensi melanggar pranata kebaikan dan konstitusi," ujar Hasto. 

Pernyataan Hasto itu seolah menegaskan PDI-P dan tiga parpol di koalisi pengusung Ganjar-Mahfud tak akan lagi berharap dukungan dari Jokowi. Sebelumnya, PDI-P rutin mengklaim Jokowi tegak lurus dengan keputusan parpol untuk mendukung Ganjar. 

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai dukungan Jokowi krusial dalam kontestasi Pilpres 2024. Tak hanya karena punya kelompok relawan yang besar, Jokowi dinilai mampu menggerakkan beragam instrumen negara untuk memenangkan salah satu paslon. 

"Ke depan, kalau Jokowi turun dan sudah meng-endorse pasangan capres- cawapres Prabowo-Gibran, itu saya lihat (elektabilitasnya) bisa naik. Semisal sekarang bantuan sosial digelontorkan itu akan mempengaruhi persepsi publik positif ke Jokowi," kata Ujang kepada Alinea.id, Sabtu (28/10).

Ditanya soal hasil survei beragam lembaga yang masih menunjukkan selisih tipis antara Prabowo-Gibran dan Ganjar-Mahfud, Ujang berkata itu terjadi karena Jokowi belum turun gunung. Ia meyakini Jokowi bakal all out setelah penetapan resmi pasangan calon oleh KPU pada 14 November. 

"Ganjar-Mahfud juga membutuhkan sosok Jokowi. Tapi, Jokowi malah mendukung Gibran. Apakah dengan selisih (elektabilitas) sedikit itu lantas Jokowi berlaku, ya, saya rasa tidak berlaku. Walaupun tadi lembaga survei tertentu beda tipis, tapi (survei) itu dilakukan saat Jokowi belum turun gunung," ucap Ujang. 

Menurut Ujang, elektabilitas Prabowo-Gibran bakal signifikan melampaui Ganjar-Mahfud ketika Jokowi terang-terangan mendeklarasikan dukungan. Program-progam prorakyat dan tebar sembako bakal jadi salah satu instrumen pemenangan. "Ini berimbas positif ke Jokowi dan Prabowo- Gibran," ucap Ujang. 

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad  punya pandangan berbeda. Meski tanpa sokongan Jokowi, ia meyakini Ganjar-Mahfud masih punya peluang besar untuk memenangi kontestasi Pilpres 2024. 

"Sejauh ini, belum bisa dipastikan siapa yang nomor satu. Tapi, kami melihat Gibran sebagai orang yang di-endorse Jokowi ternyata tidak signifikan (mendongkrak elektabilitas Prabowo). Pengaruh Jokowi ternyata sangat terbatas," ucap Saidiman. 

Selain kelompok relawan, salah satu kekuatan Jokowi saat ini ialah tingginya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya. Survei terbaru Litbang Kompas yang dirilis pada Agustus 2023 menemukan tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi-Ma'ruf mencapai 74,3%. Itu merupakan tingkat kepuasan publik tertinggi Jokowi sejak 2019. 

Menurut Saidiman, tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi tidak serta-merta bisa diwariskan kepada Gibran. Sebagian masyarakat, kata dia, justru kecewa lantaran Gibran "diloloskan" menjadi cawapres Prabowo melalui proses yang kurang adil dan demokratis. 

"Ada sentimen negatif juga semisal bergabungnya Gibran ke Prabowo itu justru bisa menurunkan suara Pak Prabowo karena proses masuknya Gibran sebagai cawapres tidak dilakukan secara normal sebagai calon," kata Saidiman. 

Gibran memenuhi syarat sebagai cawapres setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian gugatan terhadap Pasal 169 huruf q Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang mengatur batas usia minimal capres dan cawapres. 

Dalam putusannya, MK menetapkan syarat pendaftaran capres-cawapres harus berusia minimal 40 tahun atau berpengalaman sebagai kepala daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Saat putusan itu diketok, Gibran masih berusia 36 tahun. 

Bakal calon presiden Prabowo Subianto (kanan) bersama bakal calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka (kiri). /Foto Instagram @prabowoRekam jejak dan debat

Saidiman meyakini rekam jejak masih menjadi acuan utama memilih capres-cawapres. Selain itu, Saidiman berpendapat dinamika elektabilitas para paslon juga bakal kuat dipengaruhi debat publik. Pada momen debat itu, ia meyakini Prabowo- Gibran potensial keok saat beradu gagasan melawan Ganjar Mahfud atau Anies-Muhaimin. 

"Debat itu saya rasa punya pengaruh elektoral bagaimana publik melihat siapa yang paling ikhtiar di antara kandidat ini yang kira-kira melanjutkan keberhasilan Presiden Jokowi. Dari situ kemudian terlihat siapa yang tidak punya konteks dan tidak punya subtansi," ucap Saidiman.

Dinamika elektabilitas setidaknya bisa dilihat dari sigi sejumlah lembaga. Survei Alvara Research Center pada periode 1-6 Oktober, misalnya,  menunjukkan duet Ganjar-Mahfud meraup elektabilitas hingga 36,5%, diekor Prabowo-Gibran (30,1%), dan Anies-Muhaimin (19,4%). 

Adapun survei LSI Denny JA yang digelar pada 4-12 September menunjukkan pasangan Prabowo-Gibran unggul dengan elektabilitas 39,3%, dipepet Ganjar-Mahfud dengan tingkat keterpilihan 36,9%. Pasangan Anies-Muhaimin hanya dipilih 15% responden dalam sigi tersebut. 

Sejauh ini, Saidiman menilai, publik melihat Ganjar sebagai figur yang paling bisa meneruskan warisan Jokowi. Setelah itu, baru Prabowo. Anies yang menempatkan diri sebagai oposisi sangat kecil bakal dipilih simpatisan Jokowi. "Karena Anies mengusung narasi perubahan," kata Saidiman.

 

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Tag Terkait

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan