Data BPS Februari 2026 tampak positif, namun menyimpan kerentanan struktural pada sektor kerja, kemiskinan, dan ketimpangan.
Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 menunjukkan sejumlah indikator ekonomi yang terlihat menggembirakan. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% sepanjang 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 4,74%, dan angka kemiskinan berhasil ditekan ke satu digit, yakni 8,25%.
Namun, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menilai capaian tersebut perlu dibaca secara lebih kritis. Dalam siaran pers yang dirilis Rabu (11/2), INFID menyebut data BPS sebagai “peringatan dini” karena masih menyimpan kerentanan struktural, terutama pada kualitas lapangan kerja, ketimpangan, dan keberlanjutan penurunan kemiskinan.
Dominasi sektor informal
BPS mencatat jumlah penduduk bekerja meningkat 1,37 juta orang menjadi 147,91 juta orang, sementara TPT turun ke level terendah dalam satu dekade terakhir. Namun, di balik itu, sebanyak 57,70% pekerja masih berada di sektor informal dan 12,88% merupakan pekerja keluarga tidak dibayar.
Selain itu, 32,06% penduduk bekerja atau sekitar 47,42 juta orang masih tergolong pekerja tidak penuh waktu, yang terdiri dari pekerja paruh waktu (24,24%) dan setengah pengangguran (7,81%). Artinya, satu dari tiga pekerja Indonesia belum memiliki pekerjaan penuh waktu.