close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
icon caption
Bisnis
Selasa, 08 September 2026 07:05

Kenapa reputasi perusahaan sekarang lebih sulit dikendalikan?

Berdasarkan studi APPRI bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, lonjakan 180 juta pengguna media sosial di Indonesia membuat persepsi publik makin menantang untuk dikontrol secara mutlak.
swipe

Pada era sebelumnya, perusahaan dapat mengontrol citra publik secara terpusat melalui siaran pers dan hubungan media resmi.

Namun, riset Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI, 2026) menunjukkan bahwa hampir 100% perusahaan kini merasa butuh strategi manajemen reputasi yang jauh lebih dinamis, seiring munculnya berbagai saluran digital yang memungkinkan semua orang bersuara secara bebas.

Persepsi masyarakat terhadap sebuah brand tidak lagi terbentuk dari satu arah. Sebaliknya, setiap komentar di media sosial, ulasan pelanggan, hingga unggahan karyawan dapat membentuk narasi publik mengenai perusahaan dalam hitungan detik.

Reputasi perusahaan saat ini jauh lebih sulit dikendalikan karena adanya lanskap komunikasi yang semakin terfragmentasi, pergerakan informasi yang serba cepat, serta dominasi teknologi dan sumber pengaruh baru. Memahami dinamika ini bisa membantu perusahaan terhindar dari risiko reputasi.

Berikut penjelasannya lebih lanjut, dilansir dari riset APPRI bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (2026). 

Faktor Utama yang Menyebabkan Reputasi Makin Sulit Dikontrol

Data We Are Social & Meltwater tahun 2026 mencatat ada 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia yang setara dengan 62,9% dari populasi. 

Keaktifan mengakses puluhan platform media sosial dan saluran berita secara bersamaan setiap harinya dapat membuat isu atau keluhan menyebar dengan cepat dalam hitungan detik, bahkan sebelum perusahaan bisa memberikan klarifikasi resmi.

Selain itu, masyarakat cenderung lebih mempercayai opini influencer atau kreator konten daripada pernyataan resmi korporasi atau perusahaan. Dukungan atau kritik dari seorang figur publik di media sosial dapat mengubah pandangan ratusan ribu pengikutnya secara instan, sehingga kecepatan teknologi menciptakan risiko reputasi baru. 

Belum lagi, maraknya misinformasi yang beredar di internet berpotensi merusak citra brand yang sudah dibangun dalam waktu singkat. 

Strategi Menghadapi Kompleksitas Reputasi di Era Modern

Dari faktor-faktor di atas, perusahaan harus beradaptasi dengan tolok ukur baru. Kerangka kerja AMEC kini diadopsi oleh 37% organisasi, dan 25% perusahaan secara spesifik menuntut Return on Investment (ROI) sebagai dampak akhir dari pengelolaan reputasi, membuang cara lama yang sekadar mengejar cakupan media (output).

Di samping itu, mengakui kesalahan secara jujur, memberikan solusi nyata, dan menyampaikan komunikasi secara humanis menjadi kunci utama untuk mempertahankan simpati publik.

Menilik dari studi riset, pengelolaan komunikasi tidak boleh bekerja secara terpisah-pisah. Seluruh tim—baik humas, pemasaran digital, maupun layanan pelanggan—harus menyampaikan pesan dan nilai yang sejalan demi menjaga kepercayaan.

Kesimpulan

Tingginya optimisme 52% pelaku industri terhadap pertumbuhan komunikasi strategis membuktikan bahwa tantangan reputasi justru membuka peluang baru. Perusahaan yang responsif dan berbasis data akan lebih siap bertahan di tengah krisis.

Terlebih, kontrol mutlak atas opini publik adalah hal yang mustahil di tengah lanskap digital modern. Perusahaan yang mampu menghubungkan reputasi, data, kreativitas, dan keputusan bisnis yang etis akan selalu berhasil memenangkan kepercayaan publik dalam jangka panjang.  

img
Shabrina Dwi Arsa
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan