Ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi menuai sorotan: prestasi simbolik atau kebijakan mahal yang sarat subsidi demi citra pemerintah?
Sejarah baru perberasan Tanah Air kembali terukir. Bertempat di gudang BULOG Kelapa Gading, Jakarta, 4 Februari 2026, sejarah anyar itu dilukis: prosesi pelepasan ekspor beras ke Arab Saudi. Pengapalan secara bertahap dilakukan mulai 7 Maret 2026. Ini bagian dari ekspor beras sebanyak 2.280 ton. Beras itu untuk memenuhi konsumsi jemaah haji Indonesia, yang setiap tahun jumlahnya sekitar 215.000 orang.
Jika selama ini Indonesia identik dengan importir beras, kali ini predikat itu dibalik: eksportir beras. Prestasi itu melengkapi capaian-capaian sebelumnya: stok beras di BULOG tertinggi sepanjang sejarah (4 juta ton pada Mei 2025), swasembada beras kembali diraih dan produksi meningkat lebih dua digit (13,3%) pada 2025. Boleh dibilang, ekspor telah melengkapi capaian yang diraih menjadi lebih paripurna.
Karena begitu membanggakan, prosesi itu dihadiri para pejabat penting: Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, anggota Komisi IV DPR RI Abdul Kharis, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Haji dan Umrah Jaenal Effendi, Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy, dan Direktur Utama BULOG Ahmad Rizal Ramdhani dan jajaran.
BULOG sebagai pelaksana ekspor. Berbeda dengan yang beredar di Tanah Air, beras merek NUSANTARA di bawah bendera brand Befood itu hasil panenan baru. Setelah dibeli dari petani langsung diproses menjadi beras. Beras diolah di PT Padi Indonesia Maju di Serang, Banten, penggilingan padi milik Wilmar. Kata Ahmad Rizal, ada juga yang diolah di sentra penggilingan padi BULOG di Karawang dan Subang, Jawa Barat.
BULOG memiliki 10 sentra pengolahan padi (SPP) dan 7 sentra pengolahan beras di berbagai wilayah. Tiap SPP dilengkapi dryer berkapasitas 120 ton gabah kering panen (GKP)/hari dan 3 unit silo berkapasitas 6.000 ton. Dengan kapasitas giling 6 ton per jam dan asumsi kerja 10 jam sehari dan 25 hari/bulan total produksi hanya 18.000 ton/bulan atau 306.000 ton beras/tahun. Produksi riil bisa jauh dibawah asumsi itu.