Kolom

Industri perunggasan memasuki lorong ketidakpastian baru

Kebijakan impor bungkil kedelai lewat BUMN berisiko mengganggu pasokan pakan dan mendorong kenaikan harga telur serta daging ayam.

Rabu, 14 Januari 2026 16:24

Diputuskan 19 Desember 2025, kebijakan berlaku 1 Januari 2026. Cepat dan kilat. Tentu maksudnya baik. Akan tetapi, kalau kebijakan itu dibuat tidak berbasiskan data, fakta, dan riset ilmiah, kebijakan berpotensi bermasalah. Maksudnya memastikan pasokan, yang terjadi pasokan berpeluang tidak terjamin. Harapannya harga stabil, ternyata harga berpotensi kian tidak pasti. Ada peluang terjadi pukulan balik.

Ilustrasi itulah yang hari-hari ini dihadapi para pelaku industri perunggasan. Baik petelur maupun ayam pedaging. Bagai disambar geledek, tiba-tiba pemerintah memutuskan impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) hanya dilakukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN): PT Berdikari. Tanpa transisi. Tanpa ujicoba. Semula, impor SBM diserahkan ke swasta. Ini berarti PT Berdikari sebagai penerima penugasan baru harus siap melaksanakan.

Masalah muncul karena BUMN pangan ini belum sepenuhnya siap. Selain tidak terbiasa impor SBM, Berdikari tidak memiliki sumber daya dan infrastruktur pendukung: gudang, trucking, dan lainnya. Salah satu indikasi ketidaksiapan adalah periode 25 Desember 2025 hingga 9 Januari 2026 SBM sulit didapat dan harganya naik Rp1.000/kg. Informasi ini disampaikan oleh petinggi peternak layer yang biasa mencampur pakan sendiri.

Ketidakpasian pasokan SBM, juga kenaikan harga, adalah dua isu sensitif di industri perunggasan. Bungkil kedelai adalah salah satu bahan baku penting pakan ternak, selain jagung. Bungkil kedelai menjadi sumber protein nabati berkualitas tinggi dan menyediakan asam amino esensial buat unggas, ikan atau ternak ruminansia. Dalam formulasi pakan ternak, SBM menyumbang 21%, jagung 42,5%, sisanya bahan baku lain.

Jika jagung dari produksi domestik, bungkil kedelai sepenuhnya dari impor. Dari 32,75% porsi bahan baku pakan ternak asal impor, porsi kedelai paling besar. Sebaliknya, dari 67,25% porsi bahan baku pakan ternak domestik, pangsa jagung tertinggi (Desianto, 2025). Karena porsi biaya pakan ternak 70% dari total biaya, harga bahan baku pakan ternak jadi isu sensitif. Tinggi-rendahnya bahan baku pakan akan memengaruhi harga pakan, yang akhirnya menentukan daya saing produk ternak.

Khudori Reporter
sat Editor

Tag Terkait

Berita Terkait