Elektabilitas Golkar jatuh, cambuk bagi partai

"Kalau ada tindakan koruptif, pasti merugikan partai."

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Lodewijk mengatakan turunnya elektabilitas partai Golkar berdasarkan hasil survei tersebut bisa menjadi cambuk bagi Partai Golkar. (Robi Ardianto/Alinea)

Berdasarkan hasil survei lembaga Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Partai Golkar terancam tidak masuk dalam dua besar hasil untuk pertama kalinya dalam Pemilu. 

Bahkan, PG cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1999, Golkar mendapatkan 22,4%, 2004 turun ke 21,6%, 2009 sebesar 14,5%, kemudian pada tahun 2014 kembali 14,8%. 

Terbaru, berdasarkan hasil survei LSI Denny JA yang dilakukan pada tanggal 12-19 Agustus 2018 dengan melibatkan 1.200 responden, Golkar hanya mendapatkan 11,3%. Digeser oleh Partai Gerindra yang menempati posisi kedua 13,1% dan pada posisi pertama ditempati oleh PDI Perjuangan 24,8%. 

Penurunan tersebut, karena dua faktor utama. Yakni, warisan kasus kasus Setya Novanto, mantan Ketum Partai Golkar. Serta, adanya kasus korupsi PLTU Riau yang memiliki dampak elektoral negatif secara signifikan. 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar Lodewijk mengatakan turunnya elektabilitas partai Golkar berdasarkan hasil survei tersebut bisa menjadi cambuk bagi Partai Golkar untuk bebenah dan tidak melakukan tindakan koruptif.