Hari ibu, momen merayakan semangat perjuangan perempuan

Hari ibu ditandai dengan dimulainya Kongres Perempuan pada 1928. Kala itu, kaum hawa membahas peningkatan hak-hak perempuan.

Peringatan hari ibu. (Foto: Antara)

22 Desember 1928, sekira 30 organisasi perepuan di Jawa dan Sumatera, berkumpul di Yogyakarta untuk melakukan Kongres Perempuan. Acara tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

Hingga setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno memperingati momen berkumpulnya perempuan tersebut sebagai hari ibu guna merayakan semangat perempuan Indonesia dan membangkitkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, 89 tahun berselang, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa perempuan di seluruh pelosok Tanah Air memiliki kontribusi besar bagi pembangunan bangsa dan negara, termasuk para mama-mama Papua.

"Fakta-fakta di lapangan betapa yang di Papua, wanita-wanita, perempuan-perempuan berjuang keras dalam rangka Indonesia yang maju, Indonesia yang sejahtera, Indonesia yang makmur," ujar Jokowi seperti dikutip dari Antara, Jumat (22/12).

Jokowi pun mengaku bangga kepada kaum ibu yang berusaha membantu membangun kehidupan keluarga. "Kita lihat, ibu-ibu yang menjual salak, sagu, pinang. Saya kira ini menunjukkan sebuah kekuatan perjuangan kaum perempuan dalam rangka, ada yang menyekolahkan anaknya, menguliahkan anaknya, membangun rumah," sambungnya.

"Jadilah Ibu Bangsa Wahai Perempuan Indonesia. Selamat Hari Ibu," kata Jokowi.

Namun, catatan tahunan (Catahu) Komnas Perempuan yang dipaparkan pada Maret silam mengungkapkan kisah pilu bagi kaum hawa. Dalam laporan itu, disebutkan sebanyak 259.150 kasus kekerasan menimpa kaum hawa sepanjang 2016. Ironisnya, dari jumlah tersebut, kekerasan yang terjadi di ranah personal menjadi kasus paling tinggi. Bahkan, 245.548 diantaranya ialah kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian.