Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengeluarkan peringatan keras bahwa kawasan Eropa akan memasuki musim dingin tahun ini dengan cadangan gas alam yang berada pada level terendah dalam catatan sejarah.
Kondisi ini membuat Eropa sangat rentan dan tidak akan mampu bertahan menghadapi guncangan pasokan energi di tengah konflik berkepanjangan akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Berdasarkan laporan yang ditulis Al Jazeera (23/10/2026), Birol menjelaskan bahwa gangguan pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi gas cair, telah memukul berbagai kawasan di dunia. Namun, Eropa dinilai paling rentan menghadapi lonjakan harga energi dalam beberapa bulan ke depan.
Biasanya, negara-negara Eropa akan menghimpun cadangan gas dalam jumlah besar menjelang musim dingin. Kendati demikian, tingkat penyimpanan gas alam Uni Eropa saat ini tercatat hanya berada di kisaran 72 persen, jauh dari rata-rata normal yang biasanya mencapai 90 persen.
Kekurangan pasokan tersebut diperkirakan setara dengan kebutuhan energi untuk menghidupkan 10 hingga 12 juta rumah tangga.
Eropa juga menghadapi ancaman kelangkaan produk bahan bakar seperti solar yang menopang sektor logistik, pertanian, dan industri. Kelangkaan ini turut diperparah oleh serangan terhadap kilang minyak di Rusia yang memangkas sekitar sepertiga pasokan pengiriman dari Moskow.
Birol menyayangkan kurangnya langkah antisipasi yang memadai dari para pengambil kebijakan di masa lalu terkait ketergantungan energi yang terlalu tinggi pada jalur pelayaran rentan di Timur Tengah.
Di tengah lonjakan harga gas yang melambung tajam, ia menegaskan bahwa tahun ini dan tahun depan akan menjadi masa yang sangat sulit bagi perekonomian dan stabilitas politik Eropa.