Tokyo memiliki industri seks komersial yang dikenal sebagai fuzoku. Area ini berpusat pada beberapa tempat usaha yang diatur secara resmi untuk melayani berbagai macam aksi serta hasrat ‘tersembunyi’, mulai dari pemandian hingga “pink salon”.
Namun, gelombang kekhawatiran atas lonjakan drastis industri tersebut menuai sorotan, terutama dari para aktivis Rescue Hub, lembaga non-profit yang mendukung kesejahteraan perempuan rentan.
Distrik Kabukicho tidak dikenal sebagai “kota tanpa tidur” tanpa alasan. Meski putaran ekonomi malam Tokyo biasanya ada pada sesi karaoke. Akan tetapi, sisi gelap mereka timbul di balik jalan-jalan belakang yang dihuni oleh wanita yang menawarkan seks dengan imbalan uang.
Berdasarkan berita yang ditulis oleh The Guardian (3/11/2026), sejak peraturan COVID-19 dilonggarkan tiga tahun lalu, fenomena baru yang didorong maraknya wisatawan internasional telah menimbulkan berkembangnya kasus terhadap perempuan rentan yang menawarkan jasa seks di jalanan sehingga memicu pelecehan dan infeksi menular seksual.
Praktik ‘Tachinbo’ atau slang Jepang yang berarti ‘standing around’ telah meningkatkan keresahan warga, sebagaimana Jepang kini mulai dikenal sebagai tujuan wisata seks internasional.
Pria-pria asing yang mengetahui sisi gelap Kabukicho melalui media sosial tidak merasa khawatir akan hambatan bahasa, larangan resmi terhadap pelanggan non-jepang, dan bahkan mulai melakukan negosiasi melalui aplikasi terjemahan di handphone mereka.
Hal ini mengundang seruan tajam dari para anggota parlemen dan aktivis untuk memperketat undang-undang, dan untuk pertama kalinya, meminta menjatuhkan sanksi kepada para pria yang membeli jasa seks di jalanan.
Para aktivis, serta sejumlah politisi, menyerukan perubahan, dengan alasan bahwa hal itu akan berfungsi sebagai pencegah bagi konsumen asing, yang mereka yakini saat ini tidak ada undang-undang yang berlaku untuk mereka.
Kepala Rescue Hub, Arata Sakamoto, melalui The Guardian (3/11/2026), mengatakan bahwa hal ini merupakan hal paling memalukan bagi mereka dan menjadi masalah bagi masyarakat Jepang.
Ia juga menambahkan, banyak dari wanita tersebut merupakan perempuan dengan latar belakang keluarga tidak bahagia dan menderita kondisi kesehatan mental.
Dalam beberapa kasus serupa, mereka mengalami kekerasan fisik, memiliki orang tua yang memaksa dan membiarkan mereka membuat pilihan tentang pendidikan, hobi, dan teman.
Isu ini bukan sekadar masalah pelanggaran moral semata, melainkan persoalan perlindungan hak asasi, kesejahteraan sosial, dan dukungan finansial bagi kelompok rentan agar tidak terjebak di jalanan.