Survei menunjukkan mayoritas orang muda skeptis pada kinerja pemerintah soal kerja dan HAM, serta menilai ruang ekspresi dan keadilan masih lemah.
Tingkat kepuasan orang muda terhadap pemenuhan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia berada pada level rendah. Mayoritas responden memberikan penilaian rendah, yakni 38% memberi skor 1 (sangat tidak puas) dan 47,2% skor 2 (tidak puas). Selain isu sipil dan politik (sipol), orang muda juga menyimpan keresahan terhadap pemenuhan HAM di bidang ekonomi, sosial, dan budaya (ekosob).
Dalam survei terbaru INFID, 82,4% orang muda secara konsisten memandang pendidikan dan pekerjaan layak sebagai isu HAM paling mendesak. Disusul kebebasan berekspresi (60,2%), akses kesehatan dan kesejahteraan (49,1%), serta kesetaraan gender dan non-diskriminasi (40,7%).
Hasil ini terungkap dalam survei berjudul “Generasi Emas ‘Dibuat’ Cemas: Persepsi Orang Muda terhadap HAM dan Retaknya Kepercayaan pada Negara” yang didiseminasikan pada Jumat, 24 April 2026. Survei kuantitatif ini dilakukan melalui kuesioner daring terhadap 108 responden usia 16–35 tahun pada 24 November–1 Desember 2025.
Analisis menggunakan statistik deskriptif berbasis skala Likert 1 (sangat rendah) hingga 4 (sangat tinggi), dengan pendekatan interseksional (gender, pekerjaan, wilayah), serta dilengkapi pertanyaan terbuka dan studi pustaka.
Temuan ini sejalan dengan catatan INFID terhadap data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026. Meski tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 4,74%, sebanyak 57,70% pekerja masih berada di sektor informal, dan 12,88% merupakan pekerja keluarga tidak dibayar.