Manuver partai politik anggota Kabinet Merah Putih yang mulai menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk kembali maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 atau menjabat dua periode mulai menguat.
Dukungan kepada Prabowo untuk kembali menjabat sebagai presiden mencuat setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara terbuka menyampaikan dukungannya terhadap pasangan Prabowo-Gibran untuk kembali maju pada Pilpres 2029. Setelah itu, sejumlah elite partai politik seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN) turut menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk kembali maju pada Pilpres 2029.
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin menegaskan partainya siap kembali mendukung Prabowo Subianto untuk dua periode kepemimpinan. Menurut Muhaimin, dukungan tersebut didasarkan pada kepuasan PKB terhadap kinerja pemerintahan Prabowo. Namun, Cak Imin belum menegaskan apakah dukungan dua periode itu sepaket dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Hal serupa disampaikan PAN. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menilai dukungan dua periode diperlukan agar seluruh program pemerintahan Prabowo dapat direalisasikan secara optimal. PAN bahkan telah memiliki sikap final untuk kembali mendukung Prabowo pada Pilpres 2029. Hal itu ditegaskan Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno. Namun, PAN belum memutuskan sikap mengenai posisi wakil presiden pendamping Prabowo di Pilpres 2029.
Peneliti politik dari Citra Institute, Efriza, mengatakan manuver sejumlah parpol yang menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk kembali maju pada Pilpres 2029 menandakan adanya perebutan posisi calon wakil presiden. Kendati demikian, jika merunut periode kedua Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 Joko Widodo, sosok nonpartai justru dipinang sebagai cawapres.
“Meski begitu, memungkinkan pula Prabowo dan Gerindra menyiapkan estafet kepemimpinan dari kadernya untuk mendampingi Prabowo,” kata Efriza, Sabtu (14/2).
Efriza menilai figur potensial yang akan saling berebut posisi cawapres Prabowo juga diramaikan kepala daerah yang saat ini banyak tampil dalam konten media sosial, seperti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
“Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Zulkifli Hasan, Amran Sulaiman, Menko Purbaya, Seskab Teddy, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Sedangkan nama-nama seperti Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar juga turut diperhitungkan. Tokoh nonpolitisi partai seperti Erick Thohir dan Ferry Irwandi juga memungkinkan,” kata Efriza.
Namun, Efriza menilai sangat disayangkan jika ketua umum partai yang menjadi anggota Kabinet Merah Putih terlalu dini menyatakan dukungan kepada Prabowo. Padahal, masih banyak program pemerintah yang dinilai publik belum optimal, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), pendidikan, dan kesehatan.
Efriza menilai dinamika Pilpres 2029 akan semakin menghangat pada 2028. Dukungan terhadap Prabowo kembali menjabat sebagai presiden sangat ditentukan capaian pemerintahan pada periode pertama. Jika berhasil, dukungan akan menguat. Sebaliknya, jika dinilai gagal, akan muncul poros-poros baru yang menantang Prabowo di Pilpres 2029.
“Skenario memungkinkan antara dua atau tiga pasangan calon. Jika pemerintahan Prabowo dinilai mengecewakan, skenario dua pasangan calon akan menguat, antara barisan pemerintah dan oposisi. Namun, jika pemerintahannya masih cukup kuat, tiga pasangan calon bisa saja muncul dengan harapan suara pemerintahan terpecah,” kata Efriza.
Sementara itu, konfigurasi lawan tanding Prabowo pada Pilpres 2029 juga sangat bergantung pada kekuatan partai papan atas seperti PDIP, Golkar, NasDem, dan PKS. Demokrat masih menunggu peluang AHY dipasangkan dengan Prabowo.
“Untuk PKB dan PAN, diduga hanya menunggu arah opini publik. Bahkan Jokowi dengan PSI juga diperkirakan tidak akan berseberangan, kecuali jika Gerindra sejak awal menolak Gibran dan tidak ingin diatur oleh Jokowi serta partai lain mau diajak bekerja sama, maka Jokowi baru bisa bermanuver,” kata Efriza.
Peneliti Charta Politika Indonesia Ardha Ranadireksa menilai dukungan elite parpol kepada Prabowo untuk kembali maju pada Pilpres 2029 tidak semata-mata karena perebutan posisi cawapres.
“Lebih kepada upaya mencari muka di hadapan petahana agar dapat mempertahankan posisi di pemerintahan. Hal tersebut tidak berlebihan karena jika diperhatikan, dukungan terhadap ‘Prabowo 2 Periode’ mengemuka semakin santer seiring isu reshuffle keempat beberapa waktu lalu,” kata Ardha.