Tarif Transjabodetabek Rp3.500 dinilai terlalu murah untuk rute jauh. Namun, pengamat meminta Pemprov DKI tetap melindungi pekerja bandara.
Pengamat transportasi Deddy Herlambang mendukung rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penyesuaian tarif layanan Transjabodetabek. Ia menyebut tarif flat Rp3.500 yang selama ini berlaku untuk semua rute tidak lagi relevan, terutama untuk rute jarak jauh seperti Blok M–Bogor dan Blok M–Bandara Soekarno-Hatta.
Menurutnya, tarif Transjabodetabek seharusnya kompetitif dengan tarif Kereta Rel Listrik (KRL).
"Kalau Rp3.500 untuk Transjabodetabek itu memang terlalu murah. KRL saja kalau Bogor–Manggarai Rp6.000, Depok–Manggarai Rp5.000. Makanya, kalau Rp3.500 sangat-sangat murah. Paling tidak harganya kompetitif dengan KRL," ucap Deddy kepada awak media di Jakarta, Kamis (11/6).
Meski mendukung penyesuaian tarif Transjabodetabek, Deddy menekankan agar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan timnya melakukan kajian mendalam terkait kemauan dan kemampuan membayar masyarakat atau ability to pay dan willingness to pay (ATP-WTP). Ia berharap penyesuaian tarif tetap mengedepankan dialog dengan seluruh pemangku kepentingan, terutama para pengguna layanan.