Transportasi umum masih menjadi ruang rawan pelecehan seksual. Kombinasi kepadatan ruang publik, minimnya rasa aman, rendahnya kesadaran dan penegakan hukum, serta norma sosial yang kerap membenarkan relasi kuasa dan diskriminasi gender, menciptakan kerentanan bagi penumpang—terutama perempuan.
Dalam banyak kasus, korban memilih diam. Rasa takut, malu, hingga anggapan bahwa laporan tidak akan ditindaklanjuti membuat pelecehan—baik fisik, verbal, maupun visual—sering dibiarkan terjadi.
Karena itu, pencegahan menjadi langkah awal yang krusial. Kewaspadaan dengan membatasi penggunaan telepon, memilih posisi yang lebih aman seperti area khusus perempuan, menunjukkan sikap percaya diri, membawa perlengkapan bela diri sederhana, serta mengetahui akses bantuan darurat dapat membantu meminimalkan risiko dan memungkinkan respons cepat saat menghadapi situasi berbahaya.
Berikut lima cara mengantisipasi dan mencegah pelecehan seksual di transportasi umum, dikutip dari visureikalas.
Tingkatkan kesadaran situasional
Hindari penggunaan ponsel atau headphone secara berlebihan. Tetap waspada terhadap lingkungan sekitar membantu Anda mengenali potensi ancaman sejak dini.
Pilih lokasi dengan bijak
Duduk atau berdiri di dekat pintu keluar, pengemudi, atau area dengan petugas dan penumpang lain. Manfaatkan area khusus perempuan jika tersedia.
Tunjukkan kepercayaan diri
Kontak mata, bahasa tubuh tegas, dan sikap waspada dapat menjadi sinyal penolakan. Membawa perlengkapan sederhana seperti payung atau peluit juga bisa berfungsi sebagai alat pencegah atau penarik perhatian.
Ketahui sumber daya darurat
Simpan nomor darurat layanan transportasi seperti TransJakarta dan MRT Jakarta. Gunakan aplikasi JAKI yang menyediakan tombol darurat untuk akses bantuan cepat.
Pahami pola eskalasi pelecehan
Pelecehan sering dimulai secara halus—komentar tak diinginkan atau tatapan sugestif—sebelum meningkat menjadi sentuhan fisik. Mengenali tanda awal ini penting agar Anda dapat segera bertindak.
Keselamatan di transportasi umum bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga sistem dan budaya. Namun, kewaspadaan dan pengetahuan tetap menjadi benteng pertama untuk melindungi diri.