Sikap Partai Demokrat yang membiarkan empat DPD-nya memiliki pilihan politik berbeda di Pemilu Presiden (Pilpres) 2019, dinilai akan semakin merugikan partai di Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Keputusan Demokrat untuk mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019, seharusnya menjadi keputusan seluruh kader partai.
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby, mengatakan elektabilitas Partai Demokrat justru akan semakin menurun, karena perbedaan sikap politik tersebut. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan LSI pada Agustus lalu, Partai Demokrat hanya memperoleh angka elektabilitas 5,2%.
“Jika dibandingkan dengan Pileg 2014 lalu di mana Demokrat memperoleh angka 10,19%, sedangkan survei terakhir yang kami lakukan bulan Agustus, menunjukkan elektabilitasnya menurun sampai 5,2%,” ujar Adjie di Kantor LSI, Rabu (12/9).
Menurutnya, akan ada sentimen negatif dari masyarakat karena sikap politik Demokrat yang dinilai bermain dua kaki. Hal ini akan berdampak langsung pada menurunnya angka elektabilitas partai.
Di sisi lain, efek elektoral yang muncul akan semakin menguntungkan Gerindra, karena sosok capres Prabowo yang identik dengan partai berlambang burung Garuda. Bahkan, kata Adjie, tidak menutup kemungkinan efek elektoral itu semakin dimonopoli Gerindra.
Menurut Adjie, para petinggi Demokrat seharusnya turun langsung untuk mengkampanyekan capres dan cawapres yang diusung. Dengan demikian, Demokrat akan turut mendapat efek elektoral dan mendongkrak elektabilitas partai.
“Harusnya mereka konsisten, misal AHY turun berkampanye untuk Prabowo-Sandi. Kita lihat itu akan menguntungkan Demokrat, karena orang yang memilih Prabowo-Sandi melihat bahwa Demokrat juga bagian dari Prabowo-Sandi,” ucapnya.