sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ketum PAN ungkap 'perang' di internal oposisi pascapilpres

Zulhas sempat bertemu petinggi PA 212 dan meminta mereka untuk tidak menggelar protes di jalanan.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Rabu, 30 Okt 2019 22:06 WIB
Ketum PAN ungkap 'perang' di internal oposisi pascapilpres

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan mengungkapkan sengitnya perdebatan yang muncul di internal oposisi pascapengumuman pemenang Pilpres 2019, Mei lalu. Menurut Zulkifli, ketika itu mayoritas elite politik di kubu Prabowo-Sandi setuju menggelar aksi protes di jalanan menolak hasil pilpres. 

“Satu hari setelah pilpres itu, bahkan waktu mau demo ramai waktu bulan puasa itu. Demo apa itu? Saya satu-satunya orang di oposisi yang menentang keras,” kata Zulhas, sapaan Zulkifli, di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (30/10).

Zulhas menceritakan, ia dan para elite partai politik pendukung Prabowo-Sandi atau Koalisi Indonesia Adil Makmur sempat bertemu untuk merespons keinginan ormas-ormas menggelar demonstrasi menolak hasil keputusan KPU yang memenangkan Jokowi-Ma'ruf. 

Dalam pertemuan itu, Zulhas mengaku sudah menolak keras rencana demonstrasi. Ia khawatir, aksi unjuk rasa justru meningkatkan tensi politik dan menimbulkan ekses negatif. 

Namun demikian, menurut dia, suaranya tidak didengar. Elite-elite politik kubu Prabowo-Sandi justru malah menganggap rencana aksi unjuk rasa tersebut sebagai sikap politik yang wajar.

"Tapi, saya kalah suara. Saya anggap buat apa ribut-ribut seperti itu. Apalagi, bulan puasa saat itu. Masyarakat juga saya rasa punya pikiran sama, kecuali (mereka yang) digerakkan," ungkap dia.

Zulhas juga memprotes rencana tersebut langsung ke ormas terkait. Salah satunya ialah Persaudaraan Alumni (PA) 212. Saat bertemu para petinggi PA 212, Zulhas mengaku telah meminta mereka mengurungkan niat untuk menggelar aksi. 

“Saya juga pernah didatangi beberapa ormas, termasuk PA 212. Mereka izin ke saya mau bikin ijtima (ulama). Tapi, saya bilang tidak usah. Pilpres sudah usai," ujar Zulhas.

Sponsored

Terdapat sejumlah aksi unjuk rasa yang digelar memprotes hasil Pilpres 2019. Salah satunya ialah aksi unjuk rasa di depan Bawaslu pada 21-22 Mei yang berujung rusuh. Total 9 orang tewas dalam kerusuhan tersebut. 

Zulhas berharap ormas pendukung Prabowo tidak lagi menyimpan 'kekecewaan' terkait hasil pilpres. Apalagi, kini Prabowo sudah membawa Gerindra menyeberang ke gerbong koalisi parpol pendukung pemerintahan.

"Sudahlah, pemilu jangan lagi ada demonstrasi. Mudaratnya lebih banyak. Moga-moga kita bisa bersatu, lebih baik konsolidasi dan sama-sama membangun bangsa jika kompetisi sudah usai," kata dia.