close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Bangun perkebunan Indonesia, Kementan perlu kerja sama dan kolaborasi. Foto Dok
icon caption
Bangun perkebunan Indonesia, Kementan perlu kerja sama dan kolaborasi. Foto Dok
Bisnis
Jumat, 23 Desember 2022 13:41

Bangun perkebunan Indonesia, Kementan perlu kerja sama dan kolaborasi

Adanya Perkebunan Indonesia Expo menurut Andi menjadi jawaban bahwa Ditjen Perkebunan fokus, responsif, dan kolaboratif.
swipe

Kementerian Pertanian (Kementan) khususnya Ditjen Perkebunan menggelar Perkebunan Indonesia Expo. Ini tentunya mendapat apresiasi oleh Sekjen Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono yang ia sampaikan saat membuka talkshow peluang dan tantangan sektor pertanian dalam menghadapi perubahan iklim dan krisis pangan dunia, Kamis (23/12).

Ia mengapresiasi Ditjen Perkebunan berkat keberhasilannya meningkatkan potensi besar baik domestik maupun ekspor di industri farmasi, penghimpunan sumber tenaga kerja yang bisa bekerja di sub sektor perkebunan, maupun peningkatan kesejahteraan petani salah satunya dari perkebunan.

“Saat ini perkebunan kelapa sawit masih menjadi unggulan nomor satu, karet nomor dua, kayu manis nomor tiga. Sedangkan kakao dan kopi masih harus ditingkatkan. Perlunya ditingkatkan bagaimana mengkonkritkan terobosan-terobosan program dan merealisasikannya, berkiprah, berkontribusi lagi ke depannya,” ujar Kasdi dikutip dari keterangan resminya, Jumat (23/12).

Kasdi menyampaikan, ada tiga permasalahan utama yang dihadapi dari kondisi saat ini, di antaranya pertama, pandemi Covid-19 masih memberikan dampak yang cukup signifikan. Kedua, perubahan iklim yang semakin ekstrem hingga mempengaruhi kondisi tanaman.

“Maka diperlukan elaborasi supaya tergambarkan ketika kita menghadapi cuaca ekstrem yang tidak biasa, harus menyiapkan langkah strategis,” tambahnya.

Ketiga, geopolitik yang berdampak pada krisis pangan. Sehingga menurutnya, kedepan sangat penting menjaga keseimbangan dari sisi ketersediaan bahan baku maupun harga.

Kasdi pun menegaskan bahwa Kementan tentu tidak akan tinggal diam. Pihaknya akan melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan tiga strategi untuk menangani tantangan tersebut. Strategi itu terdiri dari, pertama adalah peningkatan kapasitas produksi dikaitkan dengan upaya yang bisa mengendalikan atau menekan inflasi, mengurangi impor kedelai gula tebu, daging sapi, bawang putih, dan jagung.

“Contoh, pabrik gula yang berbasis tebu dijumlahkan dan dipenuhi konsistensinya, maka tidak perlu menambah pabrik baru. Menganalisis kesesuaian kebutuhan pabrik agar tepat guna,” jelas Kasdi.

Kedua, substitusi impor seperti gandum digantikan dengan ubi kayu dan sagu, gula tebu digantikan dengan gula non tebu stevia, lontar, aren, daging kambing digantikan dengan domba, itik diganti dengan ayam lokal, dan peningkatan ekspor. Hal yang perlu diperhatikan untuk mengakselerasi gandum supaya tidak ada lagi impor yaitu dengan sagu, namun perlu diatur dengan baik dan mempertimbangkan segala aspek.

Selanjutnya ketiga adalah peningkatan ekspor melalui sarang burung walet, porang, ayam telur.

"Tentu dalam pengimplementasian program tidak mudah, komoditasnya harus fokus, strategi pembangunan pertanian mendukung ketahanan pangan dan peningkatan daya saing berkelanjutan di antaranya peningkatan kapasitas produksi itu suatu keharusan, diversifikasi pangan lokal, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan, pengembangan pertanian modern dan gerakan tiga kali ekspor (gratieks)," imbuh Kasdi.

Kasdi juga menekankan agar insan perkebunan fokus serta pemanfaatan ekspor diperluas. Salah satu instrumen penting adalah business matching. Dengan adanya business matching maka akan terjadi penandatanganan kontrak, sehingga bukan sekadar pameran produk saja.

“Program tidak harus banyak, fokuskan saja pada beberapa komoditas yang kedepannya memiliki prospek baik dan bisa memberikan nilai tambah bagi petani,” tutur Kasdi.

"Kegiatan perkebunan Indonesia expo (Bunex) ini bagus sekali, bisa mencakup semuanya tidak hanya minyak goreng saja tapi kegiatan atau produk perkebunan lainnya. Target 1 triliun dalam bisnis matching itu luar biasa, semoga ke depannya dapat berjalan lancar dan sesuai target," sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah menyampaikan, perlunya kolaborasi.

“Kita di internal pertanian pun harus satu program, satu tujuan, dikolaborasikan, menyatukan tekad, bahwa dalam memajukan perkebunan tidak bisa sendirian harus bersama, identifikasi program,”  jelas Andi.

Adanya Perkebunan Indonesia Expo menurut Andi menjadi jawaban bahwa Ditjen Perkebunan fokus, responsif, dan kolaboratif. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah memperluas relasi, bertukar informasi, sumber daya, dan memperkuat kolaborasi bersama. 

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan