sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Banjir daging kerbau, pasar daging sapi tertekan

Harga daging sapi diprediksi bakal lebih murah pada Lebaran tahun ini dibandingkan pada Lebaran tahun lalu.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Sabtu, 25 Mei 2019 16:21 WIB
Banjir daging kerbau, pasar daging sapi tertekan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 396.454
Dirawat 60.694
Meninggal 13.512
Sembuh 322.248

Pengusaha daging dan industri makanan Yustinus Sadmoko mengatakan, harga sapi hidup diprediksi bakal lebih murah pada Lebaran tahun ini dibandingkan pada Lebaran tahun lalu. Padahal, para pedagang berekspektasi ada kenaikan harga sapi hidup. 

"Tahun lalu harga sapi Rp43.000- Rp44.000 per kilogram, sekarang masih ada yang menjual Rp39-42.000 per kilogram," kata Yustinus dalam sebuah acara diskusi di Restoran Gado-Gado Boplo Cikini, Jakarta, Sabtu (25/5).

Yustinus menyebut, untuk harga industri sapi hidup, pihaknya bisa memberikan harga Rp37-Rp39.000 per kilogram. Harga tersebut mencerminkan harga daging sapi potong untuk ritel.

Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan suplai daging yang masih berlebih pada tahun lalu. Selain itu, pasar daging sapi juga terimpit persaingan baru dengan membanjirnya daging kerbau impor di pasar tradisional. 

"Dari 2017 diperkenalkan secara gencar dan volumenya besar cukup ambil alih pangsa pasar kita. Daging kerbau banyak yang bocor ke pasar tradisional. Kan kerbau masuk ke distributor level satu. Begitu masuk ritel ke pasar, kita enggak bisa pantau," ujarnya.

Menurutnya, daging kerbau mirip dengan daging sapi. Yustinus memprediksi ada 50% daging kerbau di pasar tradisional Jabodetabek. "Dari gizi kesehatan sama baiknya, tapi buruk buat pengusahanya saja," katanya.

Meski demikian, Yustinus mengaku mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjaga kestabilan harga. Namun, ia menyayangkan pemerintah mengambil langkah impor dari luar negeri demi stabilitas harga. 

Yustinus berharap pemerintah tidak hanya fokus menjaga harga barang kebutuhan pokok tetap murah, tapi juga membangun industri dalam negeri. "Ini cukup kejam bagi kami para pengusaha. Kalau pun harus impor, harus ada win-win solution. Kita juga bisa jual keluar," ucap Yustinus.

Sponsored


 

Berita Lainnya