sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bank Mandiri hanya buka 4 kantor cabang baru tahun ini

PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) melakukan efisiensi dengan menahan pengeluaran untuk membuka kantor cabang baru.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 17 Jul 2019 20:05 WIB
Bank Mandiri hanya buka 4 kantor cabang baru tahun ini

PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) berencana mengurangi pembukaan jumlah cabang baru pada 2019. Tahun ini, Bank Mandiri hanya berencana membuka empat cabang untuk mengisi blank spot yang ada. Tahun lalu, Mandiri membuka 50 cabang baru.

Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan saat ini strategi Bank Mandiri bukan lagi berdasarkan pertumbuhan jumlah cabang. Namun, bagaimana perseroan meningkatkan produktivitas cabang Bank Mandiri yang sudah ada.

"Penurunan pembukaan cabang drastis sekali dari tahun lalu,” kata Hery usai paparan publik semester I-2019 di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (17/7). 

Hery melanjutkan pembukaan cabang memakan biaya sewa sekitar Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Selain biaya sewa, ada capital expenditure dan pegawai yang menghabiskan sekitar Rp3 miliar. 

"Jadi kalau tahun lalu bisa buka 50 cabang, jadi Rp150 miliar. Sekarang cuma lima cabang jadi Rp15 miliar, turunnya drastis sekali," ujar Hery. 

Untuk diketahui, manajemen Bank Mandiri menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp4,8 triliun di tahun 2019. BMRI menganggarkan Rp2,4 triliun untuk perawatan bangunan dan pembukaan cabang baru.

Hery menyebut di semua perbankan terjadi shifting transaksi. Hery mencatat tahun lalu 92% transaksi terjadi lewat elektronik, sementara transaksi di cabang hanya terjadi 8%-10% transaksi. 

Bergabungnya Bank Mandiri ke ATM merah putih juga memengaruhi fee based income yang BMRI terima. Sebab, kata Hery, tidak ada lagi biaya transaksi antar bank BUMN atau Himbara.

Sponsored

"Tapi tidak apa-apa, kita akan geser ke Mandiri Online (mandol), bagaimana kita mendorong fee based income dari retail. Dari sisi mandiri online ada user active yang sangat signifikan sebesar 2,5 juta sampai semester ini," ujar Hery. 

Hery melanjutkan, fee based income Bank Mandiri berasal dari pembayaran tagihan seperti pembayaran listrik, pembayaran cicilan mobil, dan asuransi. 

"Kita bisa dapat sekitar Rp9 miliar hingga Rp12 miliar per bulan dari Mandiri Online. Jadi harapannya dari Mandiri Online bisa menutup fee based income yang hilang," kata Hery.

Selain dari Mandiri Online, fee based income juga didaptkan dari e-money yang tumbuh cukup tinggi. Hery mencatat ada pendapatan sejumlah Rp5 miliar sampai Rp6 miliar dari e-money. Pendapatan tersebut, kata Hery, berasal dari top-up dan kartu baru yang sifatnya tematif.