sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

"Orang bilang, ini dunia kriminal. Bagi kami, ini bisnis..."

Kelompok John Kei, Hercules, dan Sangaji, tiarap. Kelompok-kelompok kecil kini bertahan hidup dengan tidak saling mengganggu.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Minggu, 05 Jul 2020 12:31 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 127083
Dirawat 39082
Meninggal 5765
Sembuh 82236

Sekelompok pria berbadan tegap tampak berjaga-jaga di depan sebuah bangunan tua di kawasan Jakarta Barat, Senin (29/6) malam itu. Mata mereka nyalang, mengawasi setiap orang yang melintas di depan bangunan itu.

Rikardo--bukan nama sebenarnya--pemimpin kelompok itu. Ia mengatakan, mereka bersiaga lantaran bangunan itu sempat didatangi gerombolan orang tak dikenal beberapa jam sebelumnya. 

"Mereka disuruh orang seberang (pihak lawan). Kami hadang mereka di sini tadi siang," kata Rikardo ketika berbincang dengan Alinea.id di lokasi itu.

Bangunan itu ditaksir bernilai sekitar Rp100 miliar. Menjadi objek sengketa antara pemilik dan penjualnya, Rikardo dilibatkan salah satu pihak untuk menjaga bangunan tersebut. 

Dalam kontrak, mereka dibayar Rp25 juta untuk operasional dan kebutuhan sehari-hari. Rikardo juga dijanjikan bayaran senilai 15% dari hasil penjualan aset nantinya. 

Sempat bersitegang, pria berusia 38 tahun ini menyebut jika kelompok lawan memilih mundur. "Mereka cuma lima menit di sini. Setelah itu, balik kanan," imbuh Ricardo

Rikardo merupakan pemimpin kelompok penjaga lahan dan penagih utang dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mengaku punya sekitar 300 anak buah yang tersebar di beragai lokasi di ibu kota, semisal kawasan Menteng dan Kelapa Gading. 

Rata-rata anak buahnya, kata Rikardo, berasal dari Flores dan Kupang. "Dunia begini, sebenarnya sepuluh orang saja juga bisa cukup. Asal satu hati (kompak dan loyal). Istilahnya mau jadi apa, ya, jadi," ujar dia.

Sponsored

Ricardo mulai mengenal profesi sebagai penagih utang dan penjaga lahan pada 2011. Sebelumnya, dia sempat bekerja selama bertahun-tahun di sebuah perusahaan rokok di Jakarta. 

"Di kampung saya dikenal sebagai tukang onar. Daripada bikin malu orang tua, akhirnya saya pilih merantau ke Jakarta. Di sini kita jadi petarung yang sebenarnya, tapi menghasilkan," kata dia. 

Kelompok Rikardo kerap disederhanakan menjadi kelompok preman dan kriminal. Namun, Ricardo menepis anggapan itu. Menurut dia, profesi yang dilakoninya murni bisnis. 

"Orang selalu bilang, ini dunia kriminal. Bagi kami, ini bisnis. Kita kan bicara jasa, ada yang pakai jasa kami. Penjahat sebenarnya yang tukang palak, rampok orang lain, yang perkosa. Kami tidak pernah palak orang. Kita beli kok," katanya.

Meski sudah "mapan", Ricardo mengaku punya niat untuk keluar dari dunia premanisme. Apalagi, nama dia kini tercatat sebagai salah seorang mahasiswa di sebuah kampus di Jakarta. 

Ia bahkan sudah punya rencana untuk buka kursus di kampung halamannya di Ende, Flores. "Saya ingin mengembalikan semua pandangan negatif dan perbuatan saya selama ini dengan memberikan hal yang bermanfaat," kata dia. 

Terdakwa Hercules Rosario Marshal meluapkan emosinya seusai sidang tuntutan terkait kasus penguasaan lahan PT Nila Alam, Kalideres, Jakarta Barat, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (27/2)./ Antara Foto

Jejaring dan kelompok baru  

Isu premanisme di ibu kota kembali mencuat setelah John Refra Kei alias John Kei, salah satu preman legendaris di Jakarta ditangkap polisi atas kasus penyerangan di Green Lake City, Cipondoh, Tangerang beberapa waktu lalu.

Kelompok John Kei dikenal dengan nama Pemuda Kei atau Amkei Angkatan Muda Kei (Amkei). Nama ini diambil dari daerah asal mereka yaitu Kei, Maluku. Kerap disebut sebagai kelompok Ambon, kelompok John Kei bergerak di jasa pengamanan tempat hiburan, pembebasan lahan, lahan parkir, dan penagih hutang. 

Kelompok Ambon lainnya adalah kelompok Basri Sangaji. Preman asal Maluku Utara itu tewas dalam suatu pembunuhan sadis di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan, pada  2004. Kematian Basri Sangaji, santer dikaitkan dengan John Kei. 

Ricardo mengatakan, kelompok Basri Sangaji saat ini diteruskan oleh Ali Sangaji. Kelompok ini masih eksis hingga saat ini dan menguasai wilayah Bogor, Jawa Barat. "Kalau kelompok John di Bekasi, (kelompok) Ali di Bogor," katanya.

Pesaing kelompok Ambon adalah kelompok Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipimpin Hercules, preman yang pernah menguasai wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kelompok Hercules juga bergerak di jasa pengamanan, pembebasan lahan, dan penagihan utang. 

Selain Herculues, nama yang terkenal dari kelompok NTT adalah Thalib Makarim. Dia dikenal sebagai pimpinan kelompok Ende, Flores. Ricardo mengatakan, kebanyakan kelompok NTT menguasai wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Meski eksis, kasus-kasus hukum yang menjerat pimpinan kelompok-kelompok itu membuat mereka tercerai-berai membentuk kelompok kecil.

"Yang senior itu sudah tiarap (tumbang) semua. Sekarang tinggal grup kecil seperti kami. Tapi, saling terhubung. Jadi, saling kerja sama," ujarnya sembari memainkan gadget.

Jika zaman dahulu kelompok preman cenderung menguasai wilayah, menurut Ricardo, saat ini mereka bergerak sesuai permintaan klien. "Iya, kalau dulu per wilayah. Sekarang tergantung job. Di mana pun kita terima," katanya.

Untuk menghindari bentrok, Ricardo mengatakan kelompok John, Hercules dan Ali mengedepankan komunikasi. "Sekarang semuanya saling komunikasi. Siapa yang dituakan (pemimpin kelompok) akan kita hubungi untuk koordinasi," katanya.

John Kei dihadirkan saat rilis di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (22/6/2020). Tim gabungan Polda Metro Jaya berhasil menangkap 30 orang yakni John Kei beserta anggota kelompoknya dalam kasus pengeroyokan, pembunuhan dan kekerasan di kawasan Duri Kosambi, Jakarta Barat dan Perumahan Green Lake City, Kota Tangerang, Banten, pada Minggu 21 Juni 2020. /Foto Antara

Munculnya kelompok-kelompok preman yang lebih kecil diamini Vecky, 41 tahun. Pria asal Maluku ini dulunya merupakan anak buah Moksen Aboru, kelompok Ambon yang dipimpin oleh Ohoitenan alias Umar Kei. 

Umar Kei dikenal sebagai Ketua Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM). Umar juga bagian dari Amkei, pimpinan John Kei. Ia terjerat kasus kepemilikan narkoba dan senjata api ilegal. 

"Dulu juga Umar buka bendera sendiri, pisah dari John Kei. John mengatakan perlu juga kalian bendera sendiri untuk membesarkan nama Kei," kata Vecky saat berbincang dengan Alinea.id di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/7) malam.

Menurut Vecky, terbentuknya kelompok baru tak lepas dari kekisruhan di dalam kelompok. Penyebab utamanya adalah pembagian hasil yang tidak sesuai dengan perjanjian. 

Usai mengikuti kelompok Umar Kei selama setahun, Vecky pun membentuk kelompok baru yang beranggotakan pemuda Flores, Kupang dan Ambon pada 2015 lalu. "Saya keluar karena tarif penarikan mobil tidak sesuai perjanjian. Saya kecewanya di situ." kata dia. 

Meskipun berbeda bendera, ia dan kelompok Kei lainnya tetap saling menjaga keharmonisan antarkelompok. Sejak lima tahun terakhir, Vecky menyebut, hampir tidak ada konflik berdarah yang pecah antara kelompok-kelompok preman di Jakarta. 

"Seandainya kita pergi nagih ke orang nih dan orang itu dibeking orang Flores, dari kita yang Flores maju (diplomasi). Begitu juga kalau Ambon. Jadi, selesai di situ. Tidak ada konflik. Kita selesaikan dengan damai," kata dia. 

Ilustrasi bisnis premanisme. /Foto Unsplash

Eksis selama celah bisnis tetap ada

Kepada Alinea.id, kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Josias Simon mengatakan terbentuknya kelompok-kelompok baru sudah berlangsung lama. Menurut dia, nama John Kei, Umar Kei, Ali Sangaji, dan Hercules lebih tenar lantaran tersorot media.

"Dalam kelompok ini, ada figur yang muncul dari peradilan (ditangkap dan diproses hukum). Figur itu dipakai untuk memetakan kelompok-kelompok ini. Padahal, di bawahnya banyak. Pemetaannya tidak seperti yang sekarang," kata Josias melalui sambungan telepon, Rabu (1/7) siang.

Josias mengatakan, kelompok preman di Indonesia cenderung terpetakan melalui wilayah kekuasaan dan daerah asal mereka masing-masing. "Dan hampir setiap wilayah, kalau kita perhatikan, ada semacam penguasa lokal, ya. Penguasa lokal tidak hanya satu. Seperti Banten, Flores, Ambon, dan sebagainya," jelas dia.

Infografis Alinea.id/Dwi Setiawan

Menurut dia, setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan kelompok preman di Indonesia tetap eksis. Pertama, simbiosis mutualisme antara pengguna jasa preman dan kelompok preman serta tersedianya celah bisnis bagi mereka. 

"Ada wilayah-wilayah kemananan seperti lokasi keramaian, pasar, tempat parkir, dan lahan yang luas (yang tidak ada penjaganya). Atau (mereka bergerak di profesi) debt collector atau bidang-bidang yang abu-abu. Mereka mendapat tempat di situ," kata dia.

Kedua, cara kerja kelompok preman yang 'aman' dari tuntutan hukum. "Intimidasi yang (mereka lakukan) sifatnya tidak ada pelanggaran. Itu hal-hal yang mereka lakukan dan belum masuk dalam kategori pelanggaran hukum pidana, ya," kata dia.

Terakhir, kelompok-kelompok preman memiliki jaringan yang luas, termasuk di antaranya dengan penegak hukum, pengusaha, dan politisi. "Itu yang membuat kelompok-kelompok ini susah diberantas," jelas Josias.

Berita Lainnya