sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Belanja online, makin ngetren kala pandemi

Penggunaan aplikasi belanja online tercatat naik hingga 300%.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Kamis, 14 Mei 2020 13:05 WIB
Belanja online, makin ngetren kala pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23851
Dirawat 16321
Meninggal 1473
Sembuh 6057

Duanti Oktarani Tisadewi (24) kini lebih rajin memasak di rumah indekosnya di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat. Aktivitas meramu makanan itu rutin ia lakukan semenjak kantornya menerapkan kebijakan Work From Home (WFH).

Ia pun rutin berbelanja bahan makanan seperti daging, buah-buahan, dan sayuran melalui platform digital. 
Duanti memang terbiasa berbelanja secara daring. Sebelum pandemi Covid-19, ia kerap membeli produk perawatan diri seperti sabun, sampo, dan lainnya secara online di platform e-commerce. Kini, ia sesekali memesan makanan dari restoran melalui aplikasi pesan antar makanan.

“Takut juga sih (keluar rumah). Keluar kalau kerja doang, seminggu sekali. Gue meminimalisir keluar dari kosan. Benar-benar mengurangi kontak dengan orang lain. Kita enggak tahu orang lain dari mana aja,” ujarnya melalui sambungan telepon, Minggu (3/5).

Menurutnya, ongkos kirim belanja daring relatif sama dengan biaya transportasi ke pasar tradisional maupun supermarket. Alih-alih menghabiskan waktu untuk mengantre, dia lebih memilih menunggu barang pesanan di rumah indekosnya. Ketika barangnya sudah sampai, dia keluar rumah mengambil pesanannya seraya memakai masker dan langsung mencuci tangan setelah menerimanya.

“Sekarang jatuhnya lebih murah karena masak sendiri. Di bulan puasa lebih hemat sih. Gue kan enggak suka masak, pulang kantor biasanya beli makan, entah jajan ke mal atau restoran. Itu jatuhnya lebih mahal. Sekali makan Rp20.000 paling murah,” terangnya.

Kebiasaan serupa juga dilakukan oleh Wawie Wahyuningtyas (60). Setelah pandemi, dia kerap memesan sembako, buah-buahan, kudapan, obat-obatan, detergen, dan cairan pembersih secara daring melalui marketplace atau memesan langsung kepada temannya. Sebelum ada Coronavirus, dia lebih sering berbelanja di supermarket, pasar tradisional, atau tukang sayur keliling.

“Enggak apa-apa mahal sedikit, tapi jadi lebih aman. Kalau keluar rumah was-was harus antre. Cari amannya saja. Sekarang kan ada orang yang tanpa gejala (Covid-19). Beda ongkos kirim pasti ada,” ungkapnya ketika berbincang dengan wartawan Alinea.id, Minggu (3/5).

Harga barang, ongkos kirim, dan ulasan pembeli menjadi pertimbangannya dalam memilih produk yang akan dibelinya. Terkadang, dia mendapat diskon maupun gratis ongkos kirim, sehingga harga barang yang didapatkannya lebih murah dibandingkan harga di supermarket.

Sponsored

“Kadang-kadang barangnya enggak dikirim, beberapa hari uangnya dikembalikan. Ada yang kayak gitu karena barangnya habis. Sekarang enggak terlalu. Awal-awal (pandemi), stok cepat habis,” beber warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tersebut.

Saat menerima paket, keluarganya menyediakan keranjang khusus untuk meletakkan barang pesanan. Tak lupa, ia juga menyiapkan sabun dan disinfektan di teras rumahnya. Setelah menerima barang, dia langsung cuci tangan dengan sabun dan menyemprotkan cairan disinfektan ke dalam kemasan atau boks barang pesanannya. Setelah seluruh “ritual” itu selesai, barang pesanan siap dikeluarkan.
 
Kesiapan platform marketplace

Selama dua bulan terakhir, pandemi Covid-19 yang melanda dunia memang telah mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia. Semakin banyak orang yang memilih menghabiskan waktu di rumah seiring dengan anjuran pembatasan fisik (physical distancing), dan bekerja-belajar-beribadah dari rumah. Belum lagi adanya pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah membuat mobilitas masyarakat kian terbatas.

Kondisi ini juga mengubah pola belanja masyarakat. Menurut data Analytic Data Advertising (ADA), perusahaan kecerdasan buatan, terdapat kenaikan drastis pada aktivitas belanja online di Maret 2020. Merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia sejak awal Maret mengakibatkan penggunaan aplikasi belanja online untuk jual-beli kebutuhan sehari-hari hingga barang bekas mengalami kenaikan hingga 300%.

Itu terjadi sejak pemerintah mengumumkan penerapan social distancing. Puncaknya terjadi pada 21-22 Maret, di mana aktivitas transaksi online di aplikasi jenis ini melonjak hingga lebih dari 400%.

Petugas memilah paket kiriman barang di Kantor Pos, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/4/2020). Menurut petugas, dimasa penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), volume pengiriman paket pos khusus belanja online mengalami kenaikan rata-rata 10% dari biasanya. Foto Antara/Yulius Satria Wijaya/pras.

Data serupa juga ditunjukkan oleh hasil survei YouGov dalam ‘Covid-19 Impact on Indonesian Consumer Behavior’ yang menyebut adanya peningkatan belanja online sebesar 20% dan pemesanan makanan melalui delivery service sebesar 14%.

Perubahan gaya hidup tersebut juga dibuktikan oleh data internal PT Tokopedia (Tokopedia) — salah satu perusahaan teknologi Indonesia dengan marketplace terbesar Indonesia — juga menunjukkan adanya tren kenaikan transaksi untuk produk-produk kesehatan dan kebutuhan pokok lain semenjak pandemi Covid-19 merebak di Tanah Air.

Produk yang paling banyak dicari oleh konsumen antara lain; masker mulut, cairan antiseptik atau penyanitasi tangan, hingga camilan sehat.

Menurut Tokopedia, peningkatan penjualan produk-produk ini tak lepas dari strategi perusahaan yang membebaskan biaya layanan 100% untuk penjual produk kesehatan dan kebutuhan pokok selama wabah Covid-19 berlangsung. Hal ini diambil untuk mendorong para penjual dapat selalu menjaga ketersediaan produk dan kestabilan harga. 

Ekhel Chandra Wijaya, External Communications Senior Lead Tokopedia mengatakan Tokopedia menyadari penjualan secara daring bisa menjadi alternatif mengurangi risiko penyebaran virus sekaligus membantu pelaku UMKM untuk tetap bisa menjalankan usahanya. Oleh karena itu, pihaknya menjamin layanan masih berjalan seperti biasanya.

Selain itu, pihaknya juga memastikan bahwa setiap produk yang dikirim nantinya akan dijaga kebersihannya oleh para mitra logistik Tokopedia, antara lain SiCepat, AnterAja, JNE, Tiki, J&T, dan Lion Parcel.

“Salah satunya dengan menyemprotkan disinfektan ke semua paket dan area sortir. Setiap gerai logistik juga dilengkapi dengan cairan antiseptik. Saat mengantar paket, kurir dilengkapi masker dan sarung tangan. Pengecekan suhu tubuh kurir juga dilakukan secara berkala,” ungkap dia.

Sementara bagi para pelaku usaha daring, Tokopedia bakal menggulirkan berbagai inisiatif yang mempermudah mitra penjualnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. William Tanuwijaya, CEO dan Founder Tokopedia menjelaskan, skema inisiatif ini dirancang dalam kampanye ‘Jaga Ekonomi Indonesia’ yang diusung perusahaan guna memerangi Covid-19.

Kampanye tersebut bertujuan agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pokok selama bulan Ramadan, serta membantu para pelaku UMKM yang baru mencoba bisnis daring agar lebih mudah menjalankan usaha. Kini, sudah ada lebih dari 7,8 juta masyarakat yang telah bekerja sama dengan Tokopedia.

“Sebagai Super Ecosystem yang mencakup transaksi dari berbagai industri lewat kemitraan luas, Tokopedia berharap kampanye ini dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi negeri,” tutur William.

Tren belanja online makin meningkat semasa Pandemi Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan. Alinea.id/Dwi Setiawan.
 

Berita Lainnya