BI: Rupiah belum di fundamental sebenarnya

BI masih tetap melihat adanya tekanan dari global yang cukup besar.

BI: Rupiah belum di fundamental sebenarnya ilustrasi shutterstock.com

Bank Indonesia (BI) selaku pemegang penuh kewenangan moneter masih mewaspadai faktor internal. 

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) per 14 September diketahui, dollar AS dihargai Rp14.845

Namun demikian, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menyampaikan, nilai tersebut masih belum berada di fundamentalnya.  "Kami masih melihat nilai tukar belum stabil dan jauh dari fundamentalnya," terang Dody di kantornya, Jum'at (14/9). 

Selain itu, BI masih tetap melihat adanya tekanan dari global yang cukup besar. Salah satunya karena trade war belum berakhir. Retaliasi mungkin masih terus dilakukan oleh kedua belah pihak. Permasalahan lain yang juga diamati BI adalah kondisi Turki dan Argentina. 

Permasalahan yang biasanya muncul di emerging market adalah mengenai utang luar negeri (ULN). Pelemahan nilai tukar akan mempengaruhi pembayaran utang. 

Posisi Indonesia mengenai ULN masih tetap terjaga stabilitisanya. Rasio utang terhadap PDB masih dikisaran 35- 36%, yang artinya masih di batas aman. 

Selain itu, Indonesia memiliki prudential regulation untuk non bank koorporasi, apabila melakukan pinjaman dari luar negeri, harus melakukan hedging. 

Asumsi rupiah pada RAPBN 2019

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, asumsi rupiah sebesar Rp14.400 per US$ pada RAPBN 2019, membuat pendapatan negara, baik itu dari penerimaan perpajakan, penerimaan bukan pajak (PNBP), juga hibah bisa mencapai RP2.142,5 triliun. Adapun belanja negara diasumsikan sebesar Rp2.439,7 triliun. 

Lebih lanjut Sri Mulyani mencontohkan, apabila posisi untuk asumsi rupiah turun menjadi Rp14.300, maka penerimaan negara diasumsikan juga akan turun menjadi Rp2.138 triliun atau turun Rp4,66 triliun. 

"Terutama untuk pajak migas karena berbentuk dollar. Dengan rupiah menguat, pendapatan yang dollar ini akan turun," jelas Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR, Kamis (13/9).

Sementara, dari sisi belanja, apabila nilai tukar rupiah diasumsikan Rp 14.300 maka belanja negara juga akan turun sebesar Rp 3,4 triliun.

Sehingga, secara total apabila nilai tukar rupiah diasumsikan Rp14.300 per US$ di tahun depan, maka postur APBN 2019 akan turun Rp1,26 triliun. 

"Sebaliknya, jika rupiah diasumsikan lebil lemah Rp 100, maka penerimaan dan belanja masing-masing diasumsikan naik Rp 4,66 triliun, dan Rp 3,44 triliun. Sehingga akan ada nett benefit Rp 1,26 triliun," ucapnya.

Kendati demikian, kurs sebesar Rp14.400 per US$ dinilai sudah realistis dengan mempertimbangkan sejumlah dampak dan risiko. "Kami tidak gunakan untung atau rugi. Kami mengelola ekonomi Indonesia," pungkasnya. 
 


Berita Terkait