sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bos Garuda Indonesia: Industri penerbangan baru pulih pada 2024

Selama pandemi ini, beberapa maskapai telah menyerah dan menyatakan pailit.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 06 Okt 2020 14:55 WIB
Bos Garuda Indonesia: Industri penerbangan baru pulih pada 2024
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) Irfan Setiaputra mengatakan industri penerbangan bisa pulih kembali dari pandemi Covid-19 pada 2024.

Irfan mengatakan, mayoritas analis memperkirakan pemulihan akan terjadi selama 24 hingga 48 bulan ke depan.

"Diharapkan pemulihan ini bisa kembali 2022, tapi mayoritas percaya akan kembali normal pada 2024. Ini jadi tantangan terbesar bagi industri penerbangan dan perusahaan sebesar Garuda," ujar Irfan dalam Indonesia Knowledge Forum (IKF) 2020, Selasa (6/10).

Irfan mengakui, pandemi telah memukul industri penerbangan sangat dalam. Selama pandemi ini, beberapa maskapai telah menyerah dan menyatakan pailit. Ke depan, dia menuturkan, bukan situasi mengagetkan lagi kalau ada lebih banyak perusahaan penerbangan yang menyatakan pailit.

"Maskapai yang menyatakan masih bisa bertahan, tentu akan melakukan banyak upaya menurunkan biaya sambil menunggu situasi membaik," kata Irfan.

Meski demikian, Garuda Indonesia melihat masih ada beberapa peluang untuk perseroan. Pertama, Irfan mengatakan, dari riset yang dilakukan Garuda, 73% pelanggan Garuda menyatakan masih ingin terbang dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan.

Tetapi, keinginan tersebut masih dilingkupi sikap hati-hati alias wait and see. Pelanggan Garuda masih mempertimbangkan faktor keamanan dan kekhawatiran ancaman terpapar Covid-19 jika terbang.

Selanjutnya, selama pandemi ini, Irfan menuturkan Garuda Indonesia tidak pernah berhenti terbang sejak hari pertama pandemi ini dinyatakan memapar Indonesia. Perusahaan tetap terbang ke lokasi-lokasi di Indonesia, dengan mengurangi frekuensi terbang.

Sponsored

"Untuk rute yang tak terlalu ramai kami hentikan. Demikian juga internasional, kami tak pernah berhenti terbang. Kami hanya berhenti terbang ke China dan Saudi Arabia," tuturnya.

Selain itu, emiten berkode saham GIAA ini juga memanfaatkan penerbangan kargo sebagai peluang meraup penghasilan di tengah pandemi Covid-19. Dia mengatakan perseroan telah mendapatkan izin dari Kementerian Perhubungan untuk meletakkan barang kargo dengan berat maksimal 70 kilogram di atas kursi penumpang.

Berita Lainnya