close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Emas menjadi instrumen investasi paling aman dan tahan terhadap inflasi serta gejolak ekonomi. Investasi emas juga mendatangkan berbagai keuntungan karena harga emas relatif terus meningkat bahkan jarang menurun. / Antara Foto
icon caption
Emas menjadi instrumen investasi paling aman dan tahan terhadap inflasi serta gejolak ekonomi. Investasi emas juga mendatangkan berbagai keuntungan karena harga emas relatif terus meningkat bahkan jarang menurun. / Antara Foto
Bisnis
Minggu, 01 Desember 2019 19:21

Bunga bank terus turun, saatnya investasi emas batangan

Investasi emas lebih aman untuk saat ini. Berikut tips investasi emas untuk pemula.
swipe

Emas menjadi instrumen investasi paling aman dan tahan terhadap inflasi serta gejolak ekonomi. Investasi emas juga mendatangkan berbagai keuntungan karena harga emas relatif terus meningkat bahkan jarang menurun.

Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan saat ini adalah waktu yang tepat bagi investor untuk memegang aset yang aman seperti emas. 

Bhima menyebut emas memiliki tingkat pengembalian (return) 20,9% dalam satu tahun.  Jauh lebih besar dibandingkan investasi pada saham dengan dengan pengembalian hanya 5,25% bertenor 1 tahun.

Begitu pula dengan investasi di deposito, Bhima mengatakan, investor hanya akan mendapatkan tingkat pengembalian 6%-7% per tahun. Kemudian, investasi valuta asing untuk dolar Amerika Serikat (AS), tingkat pengembaliannya hanya 5,41%.

Dengan kebijakan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI 7 days reverse repo rate), maka bunga untuk deposito perbankan dan surat berharga lainnya juga terus turun.

Tercatat, sepanjang 2019 Bank Indonesia sudah empat kali menurunkan suku bunga acuan. Pada November, BI rate di level 5%. Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang mempengaruhi mata uang dunia justru menguatkan harga emas.

"Investasi di emas ini return-nya cukup tinggi dan akan berlangsung cukup lama, sampai terjadinya pemulihan makro ekonomi secara global maupun domestik," tutur Bhima kepada Alinea.id di Jakarta, belum lama ini.
 
Bhima pun mengatakan ada beberapa tips yang harus dipertimbangkan untuk berinvestasi emas. Pertama, melihat rekam jejak dan kredibilitas pembuat emas. Kedua, melihat rekam jejak distributor, sebaiknya yang lama di bidang jual-beli emas. Hal ini menjadi salah satu poin tambahan juga. 

Ketiga, adalah kepercayaan yang dibangun dengan proses pembayaran cepat, dan kurir yang mengantarkan berasal dari perusahaan yang terpercaya.

"Mau beli offline atau online, saya kira kriterianya sama, yang penting kredibel," ujar Bhima.

Sementara itu, CEO PT Sampoerna Gold Indonesia John Arynanda mengatakan investasi di emas bersifat likuid. Apabila harga emas turun, bisa kembali naik lagi dan bisa dijual kembali.

"Emas bisa dijual ke bank. Selalu likuiditasnya terjamin," kata John.

Ukuran emas batangan

John Aryananda juga menyarankan investor untuk berinvestasi di emas batangan dengan berat 10 gram. Sebab, menurut John, investasi emas dalam berat 10 gram ini sifatnya lebih likuid dan menguntungkan daripada harus berinvestasi di emas dengan berat 1 gram atau 100 gram.

Menurutnya, emas seberat 1 gram jumlahnya terlalu kecil untuk dijadikan investasi. Sementara untuk 100 gram, akan susah untuk dijual kembali.

Namun, John menyarankan bagi masyarakat yang tertarik berinvestasi agar tak menjadikan emas sebagai portofolio investasi utama mereka.

"Meskipun emas menguntungkan kita, untuk jadi investasi utama, itu tidak sehat. Imbauan kami selalu jadikan emas sebagai instrumen investasi pelengkap," tutur John.

Sebab, kata John, harga emas akan turun apabila instrumen investasi lainnya membaik seperti saham dan properti. John menyarankan investor untuk memiliki portofolio investasi di emas hanya sebesar 20%-30% saja.

"Kalau ekonomi melaju, harga emas akan turun. Kalau portofolionya di emas terlalu besar misalnya 70%, nanti investasinya akan anjlok," kata John. 

Perbandingan harga

Sementara, Presiden Direktur Asiana Group Loemongga Haoemasan, mengatakan perlambatan ekonomi global justru membuat investasi emas menjadi lebih stabil.

"Harga emas kan diproyeksikan akan stabil ya untuk 2-3 tahun ke depan. Tak ada salahnya membeli emas sebagai tabungan bagi anak-anak ke depan," kata Loemongga.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, sebelum berinvestasi di emas, Loemongga akan membandingkan harga terlebih dahulu karena harga emas berbeda-beda. 

Selain itu, Loemongga akan melihat emas seperti apa yang bisa dengan mudah dijual kembali ke pasar.

"Emas yang paling mudah dijual lagi biasanya yang memiliki berat 10 gram," ujar Loemongga.

Istri Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ini juga mengatakan investasi di emas cocok bagi orang yang tak suka berinvestasi di instrumen yang sifatnya pertaruhan. 

Loemongga mengatakan untuk investasi, dirinya lebih condong ke tipe konservatif, yaitu memilih instrumen yang dalam jangka panjang terbukti aman dan stabil. Ia juga menjadikan emas sebagai pelengkap investasi. 

"Kenaikannya (harga emas) memang tak terlalu signifikan, tapi relatif stabil. Saya menyimpan emas batangan, tapi saya juga menyimpan instrumen lain juga," tutur Loemongga. 

Loemongga pun menyarankan apabila ingin menjadikan emas sebagai investasi, investor bisa menyimpan emas mereka di deposit box milik bank.

img
Annisa Saumi
Reporter
img
Laila Ramdhini
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan