close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Freepik.
icon caption
Ilustrasi Freepik.
Bisnis
Senin, 30 Oktober 2023 09:54

Cara bank syariah sumbang pelestarian lingkungan dari dana kebajikan

Kontribusi bank syariah terhadap pelestarian lingkungan bisa berasal dari Dana yang Tidak Boleh Diakui Sebagai Pendapatan (TBDSP).
swipe

Penerapan environmental, social, and governance (ESG) menjadi poin penting bagi perusahaan demi mengejar target dalam parameter pelaksanaan pembangunan SDGs (Sustainable Development Goals). Namun bagi industri jasa keuangan, pelaksanaan komitmen ESG berbeda dengan industri yang berhubungan langsung dengan sumber daya alam seperti pertambangan.

Bagi perbankan misalnya, komitmen untuk mendukung ekonomi hijau ini diterapkan melalui green financing atau pembiayaan untuk proyek-proyek yang mendorong keberlanjutan. Namun, khusus bagi bank syariah, ada cara lain yang bisa mendorong kontribusi bank demi kelestarian lingkungan selain dari pembiayaan. 

Sekretaris Perusahaan PT Bank BCA Syariah Nadia Amalia Sekarsari mengatakan berbeda dengan bank konvensional, bank syariah memiliki dana kebajikan atau Qard yang bisa digunakan untuk isu lingkungan. Dia menambahkan, dana kebajikan di BCA Syariah salah satunya adalah pos titipan bagi transaksi non halal yang terjadi di dalam bank anak usaha BCA itu.

“Bank syariah masih pakai transaksi non halal karena ada transaksi-transaksi yang enggak bisa dihindari dalam menjalankan bisnis. Misal rekening giro di BCA untuk settlement transaksi. BCA pun enggak bisa me-nol-kan jasa gironya, karena bersumber dari transaksi non syariah, jadi kita simpan sebagai dana non halal,” bebernya saat ditemui Alinea.id di Sentul, Bogor, Jumat (27/10).

Kini, dana non halal telah berganti istilah menjadi Dana yang Tidak Boleh Diakui Sebagai Pendapatan (Dana TBDSP). Nadia mengungkapkan dana ini di BCA Syariah belum pernah digunakan. Adapun isi dana TBDSP BCA Syariah juga berasal dari denda nasabah serta sumbangan nasabah yang tidak ingin menikmati dana bagi hasil simpanan.

“Kami punya kebijakan dalam hal menyalurkan dana kebajikan ini jangan sampai sifatnya dikonsumsi manusia atau enggak masuk ke tubuh manusia misalnya bantuan sembako,” tambahnya. 

Saat ini sampai awal tahun 2023, dana kebajikan BCA Syariah berkisar Rp900 juta. Ke depan, bank yang berdiri pada 5 April 2010 ini akan menyalurkan dana kebajikan untuk lingkungan seperti penghijauan. “Misalnya penanaman mangrove. Karena dana non halal sebaiknya segera dikeluarkan dan manfaatnya lebih banyak untuk umat, insyaallah amanah dan disalurkan ke bentuk yang enggak bisa dikonsumsi,” bebernya.

Tidak hanya BCA Syariah, Bank Syariah Indonesia (BSI) juga menerapkan implementasi keuangan berkelanjutan selain green financing. Bank syariah terbesar di tanah air ini melakukan sustainable operation melalui program pengurangan emisi dan pelestarian lingkungan. Direktur Compliance & Human Capital BSI, Tribuana Tunggadewi mengatakan program ini di antaranya green building office Gedung Landmark BSI di Aceh dan penggunaan solar panel di BSI Mayestik dan Mataram. Selain itu, percepatan implementasi penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik berbasis Baterai (KBLBB) dengan penyediaan 35 unit motor listrik untuk kendaraan operasional di masjid BSI rest area Cipali KM 166A, serta paperless dokumen melalui e-doc BSI. 

Hingga Juni 2023, BSI telah menyalurkan dana zakat, infak dan dana kebajikan sebesar sebesar Rp122,2 miliar yang mencakup berbagai program sosio-economic. Program itu seperti pembangunan 15 Desa BSI yang tersebar di 10 provinsi, aspek spiritual berupa manajemen masjid, program Dai dan mobil musala, scholarship, santunan 2.222 anak yatim, mudik difabel, bantuan hewan potong 1444 H, serta program BSI sustainable movement berupa penanaman pohon, 50 mesin RVM, serta pelepasan 200 tukik ke laut.

Utamakan green financing

Selain untuk isu lingkungan, penggunaan dana kebajikan tersebut juga bisa untuk infrastruktur yang tidak akan dikonsumsi langsung masyarakat. Namun, Nadia menekankan napas komitmen ESG yang utama bagi bank syariah adalah tetap pembiayaan hijau. Di mana BCA Syariah pun telah menegakkan komitmen ESG tersebut.

“Kami melihat dana itu cocok untuk disalurkan ke sana, relevan biar bisa membantu kita di bagian Environment. Namun, target ekonomi berkelanjutan dari bank yang paling urgen kan terhadap pembiayaan,” tegasnya.

Jadi, meski penanaman mangrove merupakan langkah yang bagus namun BCA Syariah tetap akan mendorong pembiayaan pada proyek-proyek hijau atau berkelanjutan. Selain juga menerapkan gaya hidup ramah lingkungan dengan menghemat listrik dan transportasi karyawan di kantor BCA Syariah.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan BCA Syariah Tahun 2022, penyaluran pembiayaan KKUB (Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan) BCA Syariah mencapai Rp2,6 triliun. Di mana sebanyak 33,2% merupakan pembiayaan berwawasan lingkungan (non UMKM) dan 66,8% merupakan UMKM.

Pembiayaan kategori KKUB yang terdiri atas Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan  (KUBL) dan kegiatan UMKM ini mencakup 34,2% dari total portofolio pembiayaan BCA Syariah tahun 2022. Angka pembiayaan KKUB ini meningkat 29,8% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, pembiayaan UMKM mencapai Rp1,7 triliun, naik 21,6% secara tahunan (yoy). BCA Syariah juga mencatat 100% nasabah segmen komersial telah dipetakan berdasarkan 12 KKUB.

Sementara itu, BSI juga melaporkan hingga Juni 2023, portofolio pembiayaan keuangan berkelanjutan BSI mencapai Rp52,6 triliun atau 23,77% dari total pembiayaan BSI. Nilai ini tumbuh 4,99% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Direktur Compliance & Human Capital BSI, Tribuana Tunggadewi menambahkan BSI akan terus menjalankan praktik keuangan berkelanjutan dengan menyalurkan pembiayaan KKUB. Adapun total portofolio pembiayaan KKUB pada kuartal-III 2023 mencapai Rp52,6 triliun atau 23,77% dari total pembiayaan BSI tumbuh sebesar 4,99% secara tahunan (yoy). 

"Pembiayaan KUBL didominasi dari pembiayaan produk yang dapat mengurangi penggunaan sumber daya dan menghasilkan lebih sedikit polusi Rp4,7 triliun, penggunaan lahan yang berkelanjutan Rp4,1 triliun dan energi terbarukan Rp1,7 triliun," beber wanita yang akrab disapa Dewi ini, dalam keterangan tertulis, Selasa (26/9).

Berkat konsistensi tersebut, BSI meraih peringkat ke-3 perbankan syariah global berdasarkan ESG Risk rating yang dirilis oleh Sustainalytics. Berdasarkan penilaian dari Sustainalytics ESG Risk Report 2022,  BSI mendapat skor 26,8 kategori medium risk. Hal ini sejalan dengan dukungan perseroan dalam pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (umkm) yang memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat. 

"Bahkan jika dibandingkan dengan bank syariah global, ESG risk rating BSI berada di tiga terbaik," kata Dewi.


 

img
Kartika Runiasari
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan