sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Covid-19 dan akhir perjalanan GoLife

Pandemi hanya mempercepat penutupan layanan GoLife di tengah turunnya permintaan dan persaingan yang ketat.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 25 Jun 2020 06:45 WIB
Covid-19 dan akhir perjalanan GoLife
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Perusahaan decacorn Gojek terpaksa tunduk di tengah pagebluk Covid-19. Plaform penyedia layanan on demand itu akhirnya memutuskan untuk menutup layanan jasa GoLife akibat penurunan permintaan.

Co-CEO Gojek, Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo mengatakan pandemi global mengubah perilaku masyarakat yang kini lebih mengedepankan jaga jarak atau physical distancing. Aplikasi GoLife, yang menawarkan layanan pijat atau GoMassage dan jasa bebersih profesional yakni GoClean disebut tak bisa mengedepankan physical distancing.

"Layanan GoMassage dan GoClean terpaksa dihentikan di tengah pandemi ini, " ujar Kevin dan Andre dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu (24/6).

GoLife merupakan aplikasi dari Gojek yang fokus sebagai penyedia jasa terkait gaya hidup. Semula, GoLife menjadi satu dengan aplikasi Gojek, namun kemudian berpisah dan berdiri sendiri di awal tahun 2017. 

Pada awal keberadaannya, layanan dalam GoLife cukup komplet. Selain GoMassage dan GoClean, platform ini juga menjajakan layanan lain seperti GoAuto dan GoGlam. Sayangnya, bisnis Golife tak berjalan mulus. Akhir tahun lalu, Gojek mengumumkan rencana penutupan sebagian besar layanannya dan hanya mempertahankan GoMassage dan GoClean dalam aplikasi GoLife. Saat itu, Gojek beralasan kontribusi kedua layanan itu mencapai hampir 90% dari total order di dalam ekosistem GoLife.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan pandemi hanya mempercepat penutupan layanan GoLife di tengah turunnya permintaan dan kian ketatnya persaingan untuk layanan serupa. 

"Sebenarnya niat menutup layanan GoLife ini sudah lama, dia mau dimerger lagi sama Gojek ke beberapa layanan, tapi memang pandemi ini lebih mempercepat saja," katanya kepada Alinea.id, Rabu (24/6).

Menurut Huda, layanan yang ditawarkan GoLife seperti GoMassage, GoClean, GoAuto, dan GoGlam sudah berdarah-darah sejak sebelum pandemi. Layanan tersebut harus bersaing dengan sejumlah layanan serupa baik offline maupun online yang peminatnya terbatas.

Sponsored

Kondisi semakin sulit akibat munculnya pandemi Covid-19. Lebih lagi, menurut Huda, segmentasi yang disasar oleh GoLife adalah kelas menengah ke atas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan. Dus, kedua layanan jasa yang membutuhkan interaksi dekat antara pengguna dan pemberi jasa itu, kian sepi peminat. 

"Pengguna yang merupakan kelas menengah ke atas lebih care terhadap kesehatan, mereka cenderung memilih mengerjakan sendiri karena lebih higienis dan menghindari risiko tertular Covid-19," ucapnya.

Ilustrasi. Foto Pixabay.

Selain itu, masyarakat juga memiliki lebih banyak waktu di rumah seiring dengan diberlakukannya work from home (WFH). Akibatnya, kegiatan seperti bersih-bersih, berolahraga, atau memasak dikerjakan secara mandiri dibandingkan harus mengundang orang luar untuk datang ke rumah.

"Sebenarnya GoLife mengincar kelas menengah yang ingin praktis, tapi di satu sisi karena pandemi ini orang di rumah, kalau enggak melakukan apa-apa, ya mending bersih-bersih. Semuanya bisa dilakukan sendiri,  enggak perlu Gojek," ujarnya.

Potensi berkembang

Huda memprediksi bisnis sejenis seperti yang ditawarkan dalam aplikasi GoLife masih akan sulit untuk dapat menggaet pengguna di tengah pandemi Covid-19 dan situasi kenormalan baru atau new normal. Apalagi apabila pembatasan sosial berskala besar (PSBB) masih diberlakukan oleh sejumlah daerah.

Kendati demikian, menurut Huda, bisnis ini bisa laris jika perusahaan melakukan sejumlah inovasi, seperti menerapkan protokol kesehatan atau menyediakan layanan untuk menangkal penyebaran Covid-19.

"Perlu ada inovasi dari layanan, seperti menyediakan layanan penyemprotan disinfektan atau layanan penanganan kesehatan mencegah Covid-19. Layanan juga bisa laku jika menerapkan protokol kesehatan. Tapi di era new normal ini, permintaan akan turun," katanya.

Dia mengatakan, potensi layanan bisnis digital seperti GoLife hanya akan kembali normal jika kelas menengah telah kembali menemukan ritme kerja seperti sebelum adanya pandemi. Di sisi lain, tingkat pendapatan masyarakat yang kembali normal juga menjadi salah satu faktor penopang suksesnya bisnis ini.

"Bisnis akan normal kalau kelas menengah sudah menemukan cara baru dan menemukan kembali ritme pekerjaan yang lama. Saya melihat masih ada peluang bisnis GoLife untuk berkembang," tuturnya.

Sementara itu, selain menutup GoLife, Gojek juga mengumumkan untuk menghentikan layanan lain, yakni GoFood Festivals yang ada di sejumlah lokasi di Indonesia. Alasannya, layanan ini bersifat dapat mengundang keramaian. Penutupan kedua lini bisnis perusahaan tersebut berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 430 karyawan Gojek. 

Perusahaan yang belum lama ini mendapatkan suntikan dana dari Facebook itu akan memprioritaskan bisnis inti sebagai bagian dari rencana jangka panjang menghadapi pandemi. Kevin dan Andre mengatakan perusahaan akan fokus pada layanan uang elektronik, transportasi, serta pengiriman makanan dan minuman untuk memastikan keberlanjutan bisnis.

"Fokus kami pada bisnis inti adalah untuk memastikan pertumbuhan Gojek secara berkesinambungan dan mampu bertahan di tengah pandemi ini yang kita tidak tahu kapan berakhir. Gojek berupaya menjaga ekosistem secara keseluruhan agar tetap mampu memberikan dampak sosial secara luas kepada sekitar 2 juta mitra dan 500.000 UMKM," ujar Kevin dan Andre.

Layanan bisnis inti itu yaitu transportasi online (GoRide dan GoCar), lalu pesan-antar makanan dan kebutuhan pokok (GoFood), serta dompet digital (GoPay) dibutuhkan oleh masyarakat di tengah pandemi. Menyusul strategi ini, Gojek bakal mengonsentrasikan sebagian besar sumber daya untuk mendukung bisnis inti.

Di samping bisnis inti tersebut, bisnis lain yang tumbuh di tengah pandemi adalah layanan logistik GoSend dengan peningkatan permintaan mencapai 80% sejak diberlakukannya PSBB di sejumlah daerah. Begitu juga dengan transaksi belanja kebutuhan sehari-hari di GoFood yang naik dua kali lipat.

"Sejumlah layanan lainnya juga masih memiliki peluang untuk lebih berkembang, misalnya layanan di bidang kesehatan yang bekerja sama dengan Halodoc," kata Kevin dan Andre.

Berita Lainnya