close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Chief Economist & Investment Strategist Manulife Investment Management, Katarina Setiawan, optimistis ekonomis Indonesia 2023 tumbuh positif dalam paparannya pada 2023 Market Outlook secara daring, Selasa (17/1/2023). Alinea.id/Erlinda PW
icon caption
Chief Economist & Investment Strategist Manulife Investment Management, Katarina Setiawan, optimistis ekonomis Indonesia 2023 tumbuh positif dalam paparannya pada 2023 Market Outlook secara daring, Selasa (17/1/2023). Alinea.id/Erlinda PW
Bisnis
Selasa, 17 Januari 2023 16:18

Ekonom nilai ekonomi Indonesia 2023 tumbuh positif, ini alasannya

Ini ditunjukkan dengan baiknya kondisi pasar saham, pasar obligasi kondusif, dan kuatnya puncak likuiditas domestik.
swipe

Chief Economist & Investment Strategist Manulife Investment Management, Katarina Setiawan, menilai, perekonomian Indonesia pada 2023 akan tetap tumbuh positif. Ini ditunjukkan dengan baiknya kondisi pasar saham, pasar obligasi kondusif, dan kuatnya puncak likuiditas domestik.

Menurut Katarina, terdapat beberapa katalis pada 2023, seperti peralihan kebijakan suku bunga The Fed sudah mendekati puncak sehingga bakkal memangkas suku bunga pada akhir tahun nanti dan peralihan kebijakan China yang mulai kembali membuka keran ekonominya. Namun, masih ada beberapa risiko yang perlu dicermati, di antaranya geopolitik Rusia-Ukraina dan ketegangan-ketegangan di beberapa wilayah yang sudah mulai muncul, seperti China dan Amerika Serikat (AS).

"Risiko lainnya adalah perlambatan perdagangan karena adanya risiko resesi di beberapa negara di dunia. Dan ini menjadi risiko yang perlu dicermati Indonesia," kata Katarina dalam paparannya dalam "2023 Market Outlook" secara daring, Selasa (17/1).

Meskipun demikian, Katarina berpendapat, Indonesia memiliki daya saing yang menarik pada tahun ini. Misalnya, pertumbuhan PDB 2022 lebih baik daripada negara lain, tingkat inflasi juga lebih baik dibandingkan sejarah kenaikan suku bunga beberapa tahun lalu, dan kenaikan suku bunga masih terjaga.

"Pengetatan moneter yang lalu di 2013 saat itu karena inflasi kita di atas 8% karena inflasi kita sangat manageable dan nilai tukar kita sudah mulai membaik. Ini adalah potret daya saing Indonesia saat ini," tuturnya.

Katarina optimistis stabilitas eksternal perekonomian nasional akan jauh lebih baik. Hal tersebut ditandai dengan stabilitas jangka panjang Indonesia yang jauh lebih kuat.

Dirinya memperkirakan penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) akan terus meningkat tajam ke depannya. Alasannya, banyak preferensi investor global yang berpindah dan memilih ke arah ekonomi terbarukan.

"Indonesia ini adalah produsen nomor 1 terbesar di dunia untuk nikel dan nomor 7 untuk tembaga. Keduanya sangat dibutuhkan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik," ujar Katarina.

Hal tersebut, sambungnya, bakal meningkatkan nilai ekspor dan arus modal asing yang masuk ke sektor-sektor logam dasar dan pertambangan.

"Dulu, kita rentan karena bergantung pada harga komoditas. Komoditas naik, maka ekonomi Indonesia baik. Komoditas normal, ya, Indonesia biasa-biasa saja. Tapi, ke depan, dengan kebutuhan kendaraan listrik yang sangat tinggi ini, maka Indonesia akan diuntungkan dengan ekspor yang lebih stabil dan mata uang jauh lebih terjaga," urainya.

Katalis positif lainnya, menurut Katarina, adalah harapan peningkatan aktivitas domestik karena Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 pada kuartal I. Apalagi, anggaran yang dialokasikan mencapai Rp110 triliun dan sebagian besar akan dibelanjakan pada paruh kedua 2023. "Ini akan mendorong daya beli masyarakat dan perputaran ekonomi."

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan