sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ekonomi di Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan melambat

Namun, pertumbuhan ekonomi negara-negara yang lebih kecil di kawasan ini tetap kuat.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 10 Okt 2019 18:33 WIB
Ekonomi di Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan melambat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Bank Dunia memproyeksikan pelambatan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik, dari 6,3% pada 2018, menjadi 5,8% pada 2019. Kemudian akan melambat terus hingga 5,7% pada 2020 dan 5,6% pada 2021.

Berdasarkan laporan Bank Dunia East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2019 Weathering Growing Risk, mengatakan melemahnya permintaan global, termasuk dari China, dan meningkatnya ketidakpastian ketegangan perdagangan AS-China yang sedang berlangsung telah menyebabkan penurunan ekspor dan pertumbuhan investasi.

Laporan tersebut melanjutkan, di kawasan ini selain China, pertumbuhan konsumsi tetap stabil, meskipun sedikit lebih rendah dibandung periode yang sama tahun lalu. Namun, pertumbuhan ekonomi negara-negara yang lebih kecil di kawasan ini tetap kuat, mencerminkan keadaan spesifik negara termasuk pertumbuhan yang stabil di sektor pariwisata, real estat, dan ekstraktif.

Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Victoria Kwakwa mengatakan ketika pertumbuhan melambat, tingkat penurunan kemiskinan turut melambat.

“Kami sekarang memperkirakan hampir seperempat penduduk di negara berkembang Asia Timur dan Pasifik hidup di bawah garis kemiskinan kelas menengah-atas sebesar US$5,50 per hari," tutur Victoria.

Jumlah tersebut mencakup hampir tujuh juta orang lebih banyak dari yang proyeksi Bank Dunia pada April, ketika pertumbuhan kawasan terlihat lebih kuat.

Laporan ini juga menjelaskan meningkatnya ketegangan perdagangan menimbulkan ancaman jangka panjang terhadap pertumbuhan kawasan. Ketika beberapa negara berharap mendapatkan manfaat dari konfigurasi ulang lanskap perdagangan global, rantai nilai global yang tidak fleksibel akan membatasi dampak positif dari perang dagang terhadap sejumlah negara di kawasan dalam waktu dekat.

Sementara itu Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Andrew Mason mengatakan, ketika sejumlah perusahaan mencari cara menghindari tarif, akan sulit bagi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik untuk menggantikan peran China dalam rantai produksi global dalam jangka pendek.

Sponsored

"Sebab, infrastruktur sejumlah negara di kawasan ini yang tidak memadai dan skala produksi yang kecil, " kata Andrew Mason, dari Bangkok, Kamis (10/10).

Laporan Bank Dunia tersebut juga memperingatkan risiko penurunan pertumbuhan kawasan telah meningkat. Ketegangan perdagangan yang berkepanjangan antara China dan Amerika Serikat akan terus menekan pertumbuhan investasi, mengingat tingkat ketidakpastian yang tinggi.

"Perlambatan di China yang terjadi lebih cepat dari perkiraan, perkembangan di kawasan Eropa dan Amerika Serikat, serta Brexit yang kacau, selanjutnya dapat melemahkan permintaan eksternal untuk ekspor kawasan," kata Mason.

Mason melanjutkan, tingkat utang yang tinggi dan meningkat di beberapa negara juga membatasi kemampuan sejumlah negara di kawasan menggunakan kebijakan fiskal dan moneter untuk mengurangi dampak perlambatan.

Selain itu, setiap perubahan mendadak dalam kondisi keuangan global, dapat berdampak pada biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk kawasan tersebut, mengurangi pertumbuhan kredit, dan semakin membebani investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Bank Dunia pun merekomendasikan negara-negara dengan ruang kebijakan yang cukup untuk menggunakan Iangkah fiskal dan moneter untuk membantu merangsang ekonomi mereka, sambil menjaga kesinambungan fiskal dan utang.

"Negara di kawasan ini juga akan mendapatkan manfaat dengan terus mempertahankan keterbukaan perdagangan serta memperdalam integrasi perdagangan regional," tutur Mason.

Bank Dunia melanjutkan, perselisihan perdagangan AS-China yang sedang berlangsung, bersama dengan melambatnya pertumbuhan global, juga meningkatkan kebutuhan bagi sejumlah negara di kawasan melakukan reformasi agar produktivitas mereka meningkat dan mendorong pertumbuhan.

"Ini termasuk reformasi peraturan yang meningkatkan iklim perdagangan dan investasi untuk menarik investasi dan memfasilitasi pergerakan barang, teknologi, dan keterampilan," tutur Mason.

Berita Lainnya