sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Garuda Indonesia, Pertamina, dan Telkom tutup puluhan anak usaha

Tiga perusahaan BUMN akan melakukan efisiensi dengan menutup anak-cucu perusahaan atas persetujuan Erick Thohir.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Jumat, 03 Apr 2020 13:41 WIB
Garuda Indonesia, Pertamina, dan Telkom tutup puluhan anak usaha
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Tiga badan usaha milik negara (BUMN) siap melakukan efisiensi anak perusahaan dengan merger dan konsolidasi pada tahun ini.

Ketiga perusahaan BUMN yang akan menutup anak usaha tersebut yakni PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dan PT Pertamina (Persero). 

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya akan mengurangi enam anak perusahaan perseroan melalui merger. Karyawan yang bekerja pada enam anak usaha tersebut, kata Irfan, akan ikut dipindahkan ke perusahaan tujuan merger.

"Misalnya Garuda Tauberes, itu akan kita merger dengan anak usaha saat ini di bisnis kargo," ujar Irfan dalam konferensi video bersama Menteri BUMN Erick Thohir dari Jakarta, Jumat (3/4).

Irfan melanjutkan, pihaknya pun akan terus menerus melakukan evaluasi di unit usaha Garuda yang bukan merupakan bisnis inti perseroan.

Sementara itu, Direktur Telkom Ririek Adriansyah mengatakan perseroan saat ini memiliki total 49 anak dan cucu perusahaan. Beberapa di antaranya merupakan duplikasi yang kurang efisien dan bersifat overlapping.

"Dari 49 anak cucu usaha, sepanjang tahun 2020-2021 akan kita kurangi 20 perusahaan dengan merger. Ke depan bisa saja jumlahnya bertambah," tutur Ririek dalam kesempatan yang sama.

Ke depan, lanjut Ririek, Telkom ingin lebih fokus ke portofolio bisnis yang memang menjadi bagian inti bisnis mereka. Ririek juga mengatakan tak menutup kemungkinan ke depannya Telkom akan membentuk join venture baru dengan pihak swasta.

Sponsored

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan Pertamina akan melikuidasi dan mendivestasi 25 anak usahanya. Sebagian besar perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang secara operasional sudah tak berjalan.

"Dari 25 perusahaan, tahun ini yang akan diefisensikan ada 8 perusahaan. Sebanyak 7 perusahaan akan kami likuidasi dan satu sisanya akan kami divestasikan," ucap Nicke.

Lebih lanjut, Pertamina akan melakukan efisiensi untuk 17 anak perusahaan pada tahun depan. Nicke mengatakan dengan efisiensi tersebut, Pertamina bisa mengurangi beban usaha mereka dan membuat Pertamina lebih fokus ke perusahaan yang masih aktif.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan ketiga perusahaan tersebut akan berusaha untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau lay-off terhadap karyawan yang bekerja di anak perusahaan yang terkena efisiensi.

"Banyak sekali perusahaan yang akan kita efisiensikan, beberapa hanya perusahaan cangkang (shell company) yang sebenarnya bisa digabungkan," kata Erick.

Erick mengatakan pihaknya saat ini memperioritaskan perusahaan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan efisiensi. Sebab, menurut Erick perusahaan terbuka harus transparan agar membuat pemegang saham percaya.

"Pertamina ke depan juga bukannya tidak mungkin anak perusahaannya akan go public," ujarnya.

Kementerian BUMN, lanjut Erick, akan terus memantau dan menekankan agar konsolidasi anak usaha BUMN terus berjalan. Apabila efisiensi sudah terjadi, Erick mengatakan arus kas perusahaan BUMN akan kuat dan bisa mengakuisisi perusahaan luar negeri.

Berita Lainnya