logo alinea.id logo alinea.id

Harga baja melonjak, rugi Krakatau Steel menipis

Lonjakan harga baja sepanjang tahun ini, membuat rugi bersih PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. berhasil ditekan semakin menipis.

Sukirno
Sukirno Jumat, 26 Okt 2018 23:14 WIB
Harga baja melonjak, rugi Krakatau Steel menipis

Lonjakan harga baja sepanjang tahun ini, membuat rugi bersih PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. berhasil ditekan semakin menipis.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan kerugian perseroan berhasil ditekan hingga 50,85% menjadi US$36,89 juta per September 2018. Padahal, tahun sebelumnya rugi bersih mencapai US$75,05 juta.

Emiten bersandi saham KRAS itu membukukan peningkatan volume penjualan pada kuartal III-2018 sebesar 14,21% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 1,59 juta ton.

Peningkatan ini diperoleh dari kenaikan penjualan baja lembaran panas sebesar 26,20% menjadi 913.619 ton, serta penjualan long product sebesar 12,92% menjadi 216.738 ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan volume penjualan ini mendorong Perseroan meraih pendapatan bersih sebesar US$1,27 miliar atau meningkat 22,71% dibanding kuartal-III tahun 2017.

Mantan Dirut PT Pindad yang baru menjabat sebagai bos KRAS itu menjelaskan, pendapatan bersih ini ditopang oleh kenaikan harga baja pada 2018.

Puncak kenaikan harga baja canai panas (hot rolled coil/HRC) terjadi pada awal Juni 2018 yang mencapai US$740 per ton. "Memasuki September 2018, harga jual rata-rata HRC naik 5,67% di kisaran harga US$640-US$680 per ton dibanding harga pada periode yang sama tahun lalu di harga US$599 per ton," ujar Silmy, Jumat (26/10).

Beberapa peningkatan kinerja tersebut juga diiringi oleh menurunnya rugi dari entitas anak usaha dan afiliasi secara signifikan hingga kerugian di September 2018 mencapai US$7,73 juta AS dari yang sebelumnya US$37,55 juta di tahun sebelumnya.

Sponsored

Dari hasil ini, kinerja perseroan kembali membaik pada September 2018 ini. Rugi perseroan kembali turun secara tajam 50,85% yakni US$36,89 juta dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$75,05 juta.

"Raihan ini kembali menumbuhkan optimisme di perseroan untuk terus memperbaiki kinerja," ungkap Silmy.

Dalam rangka melakukan ekspansi kapasitas produksi, perseroan membangun pabrik baja lembaran panas #2 atau HSM#2, saat ini progres konstruksi fisiknya sudah mencapai 86,83% per September 2018. Proyek ini direncanakan menambah kapasitas sebesar 1,5 juta ton per tahun yang akan rampung pada kuartal-III 2019.

Progres pembangunan Blast Furnace juga telah menunjukkan hasil yang dinilai menggembirakan.

Pada 16 Oktober telah dilakukan pemanasan tungku blast stove yang merupakan tahapan penting dari beroperasinya keseluruhan pabrik Blast Furnace Complex. Pabrik ini akan melakukan produksi perdananya atau First Blow In pada 20 Desember 2018.

Untuk meningkatkan pemasaran, Perseroan kembali memperkuat pasar di wilayah Timur pulau Jawa dengan melakukan Long Term Supply Agreement (LTSA) dengan PT Sunrise Steel pada 3 Oktober lalu.

Sepanjang tahun 2017 Perseroan berhasil memasok baja lembaran dingin ke PT Sunrise Steel sebesar 62.000 ton dan diproyeksikan akan meningkat untuk pasokan di tahun 2018.

Selain dengan Sunrise, pada hari yang sama, Perseroan juga melakukan nota kesepahaman bersama beberapa BUMN seperti PT Barata Indonesia, PT Kereta Api Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Surabaya, dan PT Boma Bisma Indra.

Kesepahaman ini dilakukan untuk pengadaan produk baja dan jasa terkait lainnya. Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (26/10), saham KRAS stagnan di level Rp384 per lembar. Kapitalisasi pasar saham KRAS mencapai Rp7,43 triliun dengan imbal hasil negatif 22,89% setahun. (Ant).