close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H. Maming. Foto tanahbumbukab.go.id
icon caption
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H. Maming. Foto tanahbumbukab.go.id
Bisnis
Jumat, 03 Desember 2021 07:45

HIPMI minta pemerintah mewaspadai terjadinya cost-push inflation

Bank Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan perekonomian secara sehat dengan memperkuat kerja sama dengan kementerian terkait.
swipe

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H. Maming merespons target inflasi pemerintah pada tahun depan sebesar 3%. 

Menurut Mardani, upaya pemerintah mendorong inflasi ke angka 3% pada 2022 merupakan langkah tepat. Apalagi, pertumbuhan ekonomi harus disertai dengan kenaikan inflasi yang sesuai.

"Kita harus yakin pertumbuhan ekonomi di 2022 tumbuh maksimal, jika situasi pandemi bisa terkontrol," ujar Mardani H. Maming, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (2/12).

Inflasi Indonesia masih berada di tingkat yang rendah. Bank Indonesia (BI) mencatat per Agustus 2021, inflasi berada di 1,59%, angka terendah juga terjadi pada Juni 2021, yakni 1,33%.

Kendati begitu, HIPMI meminta pemerintah dapat berhati-hati terjadinya kenaikan inflasi yang berasal dari tekanan produksi atau distribusi, yakni cost-push inflation. Sebab hal itu dapat menurunkan daya beli masyarakat. Itulah sebabnya, kenaikan inflasi harus berasal dari naiknya permintaan.

"Jika angka inflasi 3% pada 2022 merupakan cost-push inflation, Indonesia justru akan menghadapi masalah baru. Pertumbuhan ekonomi pun dikhawatirkan tidak terjadi, atau tercapai dengan kondisi tidak sehat. Pengusaha muda pun akan sulit mengembangkan usaha," tandasnya.

Makanya, Bank Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan perekonomian secara sehat dengan memperkuat kerja sama dengan kementerian terkait. Pasalnya, upaya menjaga inflasi dari sisi moneter dinilai tidak akan cukup, jika terjadi cost-push inflation.

"HIPMI menyoroti masih tingginya ego sektoral kementerian-kementerian di Indonesia, sehingga perlu upaya ekstra untuk memastikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi terjadi dengan sehat. Kami menilai BI dan pemerintah harus memiliki komitmen yang sama untuk menjaga perekonomian dengan baik," ungkapnya.

Apalagi kenaikan inflasi, akan mendorong pengetatan moneter. Hal inilah yang harus diwaspadai karena akan berimplikasi secara global, termasuk di negara-negara berkembang. Maka dari itu perlu disertai dengan aktivitas ekonominya, seperti menciptakan pabrik baru. Agar terjadi penambahan permintaan (demand pull inflation).

Sekedar diketahui, tekanan inflasi global (imported inflation) menjadi salah satu risiko yang akan muncul pada 2022. Demand akan naik seiring aktivitas ekonomi global mulai bergerak, tetapi hal itu akan menyebabkan kelangkaan barang-barang pabrikan.

img
Ratih Widihastuti Ayu Hanifah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan