sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

IHSG menguat, saham BBCA dan ACES paling banyak dikoleksi asing

Sebanyak 27 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp18 triliun diperdagangkan pada Senin (14/12).

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 14 Des 2020 16:25 WIB
IHSG menguat, saham BBCA dan ACES paling banyak dikoleksi asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 1,25% ke level 6.012 pada perdagangan Senin (14/12). Penguatan didorong oleh sektor pertambangan yang naik 2,08% dan sektor perdagangan yang naik 2,5%.

Terdatat, sebanyak 27 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp18 triliun. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih senilai Rp214 miliar.

Saham-saham seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Ace Hardware Indonesia Tbk. (ACES), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Kalbe Farma Tbk.(KLBF), dan PT United Tractors Tbk.(UNTR) menjadi lima saham yang paling banyak dibeli oleh investor asing. Sedangkan lima saham seperti PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Bank Negara Indonesia Tbk.(BBNI), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), dan PT Astra International Tbk. (ASII) menjadi saham-saham yang paling banyak dijual asing.

Associate Director of Investment and Research Pilarmas Investindo Sekuritas Nico Demus mengatakan pasar saham Asia merespons positif distribusi vaksin yang saat ini sudah didistribusikan.

Sponsored

Sentimen lain dari global, kata Nico, datang dari rencana bantuan Covid-19 senilai US$908 miliar yang akan diperkenalkan di Amerika Serikat paling cepat Senin, pekan depan. Bantuan dibagi menjadi dua paket, yakni pertama sebesar US$748 miliar untuk usaha kecil, pengangguran, dan distribusi vaksin dan yang lainnya. Kemudian, paket kedua sebesar US$160 miliar untuk pemerintah negara bagian dan lokal.

"Dari dalam negeri, pelaku pasar berekspektasi positif menjelang rilis data neraca perdagangan yang rencananya akan dikeluarkan pada esok hari," ujar dia.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun oleh Tradingeconomics, neraca perdagangan diprediksi mencatatkan surplus sebesar US$2,3 miliar.

"Kami melihat momentum terhadap membaiknya harga acuan kelapa sawit ikut berkontribusi terhadap meningkatnya kinerja ekspor," tutur dia.

Permintaan ekspor disebut meningkat dari China dan India, juga didukung oleh pemotongan bea masuk di India. Di sisi lain, impor diproyeksikan masih melemah, di mana permintaan pada akhir tahun ini dinilai tidak lebih besar dibandingkan tahun lalu.

Berita Lainnya