sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Indonesia undang perusahaan kimia Jerman investasi

Pemerintah mengundang perusahaan kimia asal Jerman BASF untuk berinvestasi di Indonesia.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Kamis, 28 Nov 2019 11:17 WIB
Indonesia undang perusahaan kimia Jerman investasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 3293
Dirawat 2761
Meninggal 280
Sembuh 252

Pemerintah mengundang perusahaan kimia asal Jerman BASF untuk berinvestasi di Indonesia. Tawaran itu disampaikan Luhut Pandjaitan saat Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia serta Duta Besar Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno berkunjung ke Ludwigshafen, Jerman, Rabu (27/11).

Luhut Pandjaitan menjelaskan pemerintah Indonesia kini bertransformasi dari negara pengekspor yang berbasis komoditas menjadi pengekspor barang dengan nilai tambah.

"Puluhan tahun kami hanya mengekspor bahan mentah, diolah di luar negeri lalu diimpor lagi ke Indonesia. Sekarang kami ingin mengubahnya, diolah di Indonesia agar ada nilai tambah bagi masyarakat," jelas Luhut dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (28/11).

Sebagai contoh, Luhut menyebutkan, Indonesia memiliki potensi besar karena berbagai komponen pendukung pembuatan mobil listrik ada di Indonesia dan Indonesia juga yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia.

Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai bijih nikel kadar rendah atau limonite (dengan kandungan nikel 0,8%-1,5%) yaitu bahan baku untuk memproduksi baterai lithium ion. 

“Sekitar 70%-80% komponen utama kendaraan listrik yaitu baterai lithium ada di Indonesia," katanya.

VP of Business Management at BASF Battery Materials Europe Daniel Schönfelder yang menerima kunjungan rombongan Luhut menjelaskan potensi Indonesia sejalan dengan misi perusahaannya yang saat ini merupakan salah satu pemain utama produsen baterai mobil listrik.

"Elektrifikasi kendaraan saat ini berlangsung, terutama di kawasan Uni Eropa. Walaupun pangsanya masih kecil, tetapi diperkirakan akan tumbuh subur karena semakin banyak konsumen memilih produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," katanya.

Sponsored

Menurut Schönfelder, perusahaan tersebut akan menambah proporsi nikel pada produksi baterai kendaraan listrik mereka untuk meningkatkan performanya. Namun, pihaknya mempertanyakan soal kemungkinan tingginya biaya terkait lingkungan hidup.

Menanggapi hal tersebut, Luhut mengatakan Presiden Joko Widodo telah memerintahkan setiap kebijakan yang dibuat harus memikirkan nasib generasi yang akan datang. Oleh karena itu, Luhut memastikan tidak akan membuat kebijakan yang merusak lingkungan.

"Jadi jika Anda ingin berbisnis dengan harga yang kompetitif, logistik yang murah, sambil membantu kami menekan angka kemiskinan, serta ramah lingkungan, datanglah ke Indonesia," tutur Luhut.

Berita Lainnya