sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Industri dirgantara Indonesia tertinggal dari negara tetangga

Sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, telah berada di depan Indonesia.

Hermansah
Hermansah Sabtu, 20 Jun 2020 22:39 WIB
Industri dirgantara Indonesia tertinggal dari negara tetangga

Industri dirgantara Indonesia semakin tertinggal dari negara lain. Salah satunya disebabkan oleh minimnya dukungan pemerintah untuk memajukan industri dirgantara. Situasi ini jauh berbeda ketika almarhum BJ Habibie masih menjadi menristek.

Project Lead Digital Technologies in Aircraft Industry-former Senior Fatigue Engineer, Hamburg-Germany, Prio Adhi Setiawan, mengatakan, industri dirgantara di Indonesia sudah semakin tertinggal dengan negara lain. Sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, telah berada di depan Indonesia.

"Sejak beberapa tahun terakhir, Malaysia dan Singapura telah mengembangkan industri dirgantaranya dengan mempergunakan strategi kemitraan strategis kepada Airbus dan Boeing. Hasilnya sudah bisa dilihat sekarang," kata dia dalam diskusi daring Strategic Partnership Bersama Industri Dirgantara Dunia, Sabtu (20/6).

Sumber: Bahan diskusi strategic partnership bersama industri dirgantara dunia

Selain itu, adanya perubahan strategis bisnis yang dilakukan Boeing dan Airbus juga memengaruhi perkembangan industri ini. Di mana dua raksasa itu berupaya menekan biaya dalam menjalankan bisnisnya. Di antaranya mendekatkan diri dengan pasar. 

"Hal itu telah dimanfaatkan India untuk menarik Airbus dan Boeing datang ke India. Tak butuh waktu lama untuk terbentuknya ekosistem di India akibat didorong dari kebutuhan. Beberapa industri yang tadinya tidak ada, menjadi muncul. Ribuan lowongan pekerjaan baru dibuka," jelas dia.

Oleh karena itu, Indonesia harus mulai menentukan strategi agar dapat kembali menjadi negara yang dipandang pada bidang dirgantara. Salah satu strategi yang bisa dilakukan dengan membangun kemitraan strategis dibidang engineering rekayasa rancang bangun industri dirgantara. Jika itu dilakukan, akan semakin banyak bagian dari pesawat yang diproduksi di dalam negeri.

Sumber: Bahan pemaparan diskusi

Sponsored

Pemerintah juga harus membangun iklim ekosistem yang kuat dengan membentuk dan menunjuk badan yang bertindak sebagai perwakilan dan atas nama pemerintah indonesia. Badan tersebut bertindak sebagai integrator stakeholders dirgantara di Indonesia, untuk meningkatkan daya saing global penguasaan teknologi tinggi di bidang dirgantara.

Sementara Direktur Utama IPTN North America, Inc (anak perusahaan PTDI di Seattle, WA, USA) Gautama Indra Djaja, menegaskan, masih ada celah bagi Indonesia untuk dapat kembali menjadi pemain utama industri dirgantara di dunia.

"Masih ada celah. Tetapi mungkin tidak bisa cepat karena masih dalam tahapan pembuatan pesawat. Itulah sebabnya kolaborasi dengan dunia sangat perlu. Salah satunya dengan mengembangkan skema offset. Kerja sama dengan skema ini merupakan kompensasi dari industri asing sebagai persyaratan dari suatu negara ketika membeli produk tanpa harus menambah nilai transaksi dari pembelian. Tujuannya untuk mengembangkan industri lokal negara pembeli, transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja, dan mendapatkan akses terhadap pasar baru," papar dia.

Indra menambahkan, peluang offset ini harus diisi. Makanya sosialisasi harus terus dilakukan agar bisa dimanfaatkan dengan baik. Apalagi Indonesia sudah banyak membeli pesawat dari negara lain. Sehingga kerja sama offset atau keuntungan timbal-balik yang setimpal untuk Indonesia terhadap investasi perdagangan yang selama ini telah dilakukan, sangat terbuka. Kemitraan seperti itu juga sudah umum di industri ini.

Sementara anggota Komisi X DPR Ledia Hanifa Amaliah, mengharapkan ada afirmasi untuk memicu perkembangan industri dirgantara. Afirmasi dimaksudkan dalam rangka memperkuat industri agar dapat mempercepat perkembangannya sehingga menjadi lebih kuat.

Berita Lainnya