sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jadi konglomerat baru, bos Tokopedia rancang IPO

Setelah menjadi konglomerat baru, bos Tokopedia kini merancang untuk go public atau IPO demi pengembangan bisnis e-commerce unicorn.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 26 Sep 2018 21:31 WIB
Jadi konglomerat baru, bos Tokopedia rancang IPO

Setelah menjadi konglomerat baru, bos Tokopedia kini merancang untuk go public atau IPO demi pengembangan bisnis e-commerce unicorn bernilai Rp17,7 triliun.

Perusahaan rintisan atau start-up e-commerce PT Tokopedia yang telah dirintis sejak 17 Agustus 2009, kini telah menjadi perusahaan 'unicorn'. Artinya, perusahaan rintisan yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar, dalam hal ini Tokopedia bernilai US$1,2 miliar setara Rp17,7 triliun.

Tokopedia mengantarkan Sang Pendiri, Wiliam Tanuwijaya, sebagai salah satu dari 150 orang terkaya baru versi Majalah Globe Asia. Pria berusia 36 tahun ini menjadi konglomerat pada urutan 148 dengan kekayaan US$130 juta, setara Rp1,9 triliun.

Chief Executive Officer (CEO) Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan, tentu suatu hari nanti semua perusahaan teknologi besar bergarap bisa go public. 

"Namun, memang fokus kami saat ini masih di pengembangan bisnis di Indonesia atau pengembangan market-nya. Jadi dalam waktu dekat belum ada rencana go public," ungkap William di Jakarta, Selasa (25/9).

Dia mengaku belum ada target khusus pada tahun berapa Tokopedia akan menggelar penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). "Belum ada. Kami targetnya biar 100 juta penduduk menggunakan Tokopedia dengan mudah dulu," jelasnya.

Fokus Tokopedia dalam 3-5 tahun ke depan yaitu meningkatkan brand (merek) yang ada di Tokopedia.

"Jadi, bagaimana brand-brand yang ada di Tokopedia itu bisa IPO. Kalau mereka sudah IPO, kami akan fokus IPO," tuturnya.

Sponsored

Saat ini, Tokopedia memiliki 4 juta penjual dengan 80 juta pengguna setiap bulan. Pertumbuhan pengguna Tokopedia mencapai 300% setiap tahun. Ditargetkan, pengguna Tokopedia dapat mencapai 100 juta dalam waktu dekat.

CEO Tokopedia William Tanuwidjaya. (Facebook).

Go Start-up

Sementara itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) awal bulan lalu telah meluncurkan platform GSI atau Go Start-up Indonesia. GSI merupakan sebuah platform untuk mengakomodir pengembangan bisnis para pelaku perusahaan rintisan atau start-up.

Platform GSI ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan BEI pada bulan April 2018 tentang program IDX Incubator. Upaya ini sebagai bentuk dan pengembangan start-up ekonomi kreatif untuk mendorong akses permodalan bagi perusahaan rintisan melalui go public.

Saat ini, start-up memang mulai menjamur di Indonesia. perkembangan start-up di Indonesia setara dengan Uni Eropa.  

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengungkapkan, Indonesia kini memiliki 4 perusahaan start-up dengan status unicorn atau yang mempunyai nilai usaha di atas US$1 miliar. Capaian ini sama persis dengan Uni Eropa.

"Indonesia kita punya empat start-up unicorn yang nilai usahanya di atas US$1 miliar. Di seluruh Uni Eropa juga ada empat unicorn. Jadi di Indonesia kita punya jumlah unicorn yang sama seperti dimiliki oleh totalitas Uni Eropa," kata dia di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (24/7).

Sementara itu pihak Bursa saat ini juga tengah mendorong agar start-up bisa melantai di bursa. 

Syarat dan fakta startup menuju IPO. Alinea.id/Radityo PN