sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jangan gagap teknologi di era digitalisasi

Pekerjaan di era digital menuntut tenaga kerja akrab dengan perkembangan teknologi.

Nurul Nur Azizah
Nurul Nur Azizah Jumat, 01 Jan 2021 12:47 WIB
Jangan gagap teknologi di era digitalisasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Lulus dari jurusan Ilmu Komunikasi hampir tiga tahun silam, Wine Tesa (25), sempat gamang di awal-awal bekerja. Dia yang mengambil konsentrasi Hubungan Masyarakat (Humas) mengaku kurang sreg dengan bidang yang dilakoninya. Tak mau saklek dengan jurusan kuliah, perempuan yang juga pernah magang di kantor pemerintahan hingga korporat RI itu pun, memutuskan untuk mencari pengalaman lain. 

"Aku benar-benar buka diri eksplor yang lain. Enggak nge-limit. Untungnya komunikasi dan humas enggak terlalu spesifik, kalaupun mau shifting karir nggak terlalu berat," ujar Wine ketika berbincang dengan Alinea.id, Selasa (31/12/2020). 

Wine kemudian tertarik untuk menjajal masuk ke salah satu perusahaan konsultasi di Malaysia yang berfokus pada analisis data. Perannya sebagai Content Analysis yang mayoritas kliennya adalah perusahaan teknologi ternama global (giant tech) seperti Google. 

"Project-projectnya dealing sama teknologi. Dua tahun di Kuala Lumpur, aku analisis konten, data, tren," kata perempuan lulusan salah satu universitas negeri di Bandung itu.  

Tahun pertama, dia bilang, level pekerjaan yang dia kerjakan masih terbilang standar. Namun memasuki tahun kedua, konten-konten yang ia analisis semakin rumit. Ia pun bingung, konten-konten yang mudah sudah jarang dia temukan belakangan. 

Dikarenakan penasaran, Wine pun menanyakan ke sang supervisor mengapa ia hanya menerima konten yang relatif rumit. Sedangkan yang mudah sudah sangat jarang diminta oleh klien. 

"Jawaban supervisor aku, yang gampang itu sudah dihandle sama robot, sama Artificial Intelligence (AI) yang secara paralel dibangun sama klien," kata dia menirukan ucapan atasannya kala itu.

Dari situlah, Wine mulai berpikir bahwa perkembangan teknologi bisa makin canggih hingga mempengaruhi pekerjaan. Termasuk, ancaman banyaknya pekerjaan manusia yang lantas digantikan oleh robot. 

Sponsored

"Di KL semuanya juga sudah canggih. Jadi aku merasa, aku enggak bisa nih kayaknya di skill ini saja. At least, enggak harus jago kayak engineer data, tapi aku tahu gimana cara kerja mereka," lanjutnya. 

Ilustrasi. Pixabay.com.

Setelah kepulangannya ke Indonesia tahun ini, dia beralih profesi menjadi Inside Sales di salah satu perusahaan yang juga erat dengan data. Dia pun makin aktif mencari kesempatan menambah skill karena berpikir begitu pentingnya data. Salah satunya, melalui kursus Data Science.

Wine sempat kaget karena harga yang dibanderol untuk kursus tersebut cukup mahal. Sekitar Rp21 sampai Rp23 juta untuk satu bootcamp selama sekitar 6 bulan. Tanpa bekal pengalaman, akhirnya dia memutuskan untuk mencari alternatif lain yang lebih bisa terjangkau bagi pemula. 

"Waktu itu, kebetulan aku dapat diskon di-Udemy. Jadi in paralel, aku mengambil course yang masih murah, masih ratusan ribu rupiah sambil research dan tanya-tanya orang data scientist yang dari cross major," terangnya.

Tak hanya itu, perempuan asal Tasikmalaya tersebut juga rajin mengikuti webinar online hingga belajar otodidak dari berbagai channel youtube soal Data Science.

Dari selancar daring itulah kemudian dia menemukan informasi beasiswa bootcamp yang memberinya pelatihan gratis senilai Rp16 juta. Pelatihan online soal data ini masih berjalan tiap akhir pekan hingga genap 3,5 bulan periodenya.

Para peserta bootcamp data ini, katanya, berasal dari berbagai profesi digital yang dilatih dari nol soal data. Jumlahnya ada sekitar 41 orang.   

"Aku yang sangat gaptek, sudah bisa nge-run SQL, misalnya dikasih kasus apa, aku sudah bisa terjemahin ke Qwery (selector engine), Coding, Python (programming language), bikin data visualisasinya juga, kemarin baru beres statistik," tambahnya.  

Di balik upaya Wine untuk belajar data, ia mengakui bahwa di masa mendatang kebutuhan dunia kerja akan semakin kompleks. Utamanya, yang berkaitan dengan teknologi dan pengelolaan data. 

Jika dahulu, aset perusahaan berupa aset fisik seperti gedung dan tanah. Saat ini dan masa mendatang, ia berpendapat data sebagai aset digital akan menjadi tren baru yang penting. Terlebih dengan adanya pandemi Covid-19 yang menuntut digitalisasi ini.

"Sekarang, justru aset digital yang paling mahal. Kan ada tuh, platform-platform yang ngejual datanya, ya karena semahal itu. Sampai berani ngelanggar hukum, kasarnya," ucapnya. 

Maka dari itu, Wine menilai, peran regulator untuk memberikan jaminan keamanan data di masa mendatang begitu penting. Selain untuk melindungi pemilik data yakni masyarakat umum, juga agar iklim bisnis digital di perusahaan bisa berkembang tanpa merugikan pihak konsumen. 

Tren pekerjaan di era digital

Country Manager Jobstreet Indonesia, Faridah Lim menjelaskan kondisi pandemi Covid-19 memang memberikan dampak yang cukup signifikan bagi banyak dunia usaha yang menawarkan pekerjaan. 

Seperti halnya di platform pencarian kerja daring Jobstreet, yang sempat merosot tajam di masa awal pandemi. Namun, kondisinya sudah berangsur pulih seiring adaptasi kenormalan baru. 

"Di Jobstreet perbandingannya misalnya ada 200 lowongan jadi 50. Sekarang sudah makin baik, dropnya hanya 30%. Walaupun, belum menyamakan tahun lalu, sudah ada peningkatan," ujar Faridah kepada Alinea.id, Jumat (27/11/2020).  

Setiap bulannya, Jobstreet setidaknya memuat lebih dari 30 ribu lowongan pekerjaan dari berbagai latar belakang bidang hingga jabatan. Di kondisi saat ini, tambahnya, posisi pekerjaan yang sedang banyak dicari utamanya berhubungan dengan digitalisasi. Mulai dari e-commerce hingga berbagai sektor yang mengoptimalkan peran digital. 

Berdasarkan data internal perusahaan, paparnya, beberapa pekerjaan yang paling laris meliputi, sales dan customer service, admin daring dan human resource (HR). Ada pula, bidang accounting, engineering, IT, marketing, manufacturing, management, transportation, hingga banking dan finance yang terdigitalisasi. 

"Secara role position sebetulnya masih standar, hampir similar. Cuma, ada pergeseran kebutuhan di-skill atau capability yang dibutuhkan dari kandidat (mengerti teknologi)," jelasnya.

Per November 2020, Linkedin juga merilis berbagai pekerjaan yang pertumbuhan permintaannya paling cepat dari bulan per bulan. Di antaranya, food specialist (5 kali lipat), online specialist (4 kali lipat), training supervisor (nyaris 2 kali lipat), hingga python developer (1 kali lipat).

Data tersebut berasal dari semua unggahan pekerjaan premium di Linkedin pada Oktober-November 2020 yang paling banyak diminati dan jumlah posting pekerjaan tertinggi. 

Sementara itu, riset SMERU Research Institute (SMERU) baru-baru ini menunjukkan, memang akan ada berbagai sektor yang diperkirakan potensial menyerap tenaga kerja yaitu di bidang jasa pendidikan (edutech), informasi dan komunikasi, jasa kesehatan, dan kegiatan sosial dan jasa keuangan serta asuransi. 

Senada, hasil riset Akseleran juga menyebut beberapa profesi paling menjanjikan di masa pandemi Covid-19. Diantaranya, tenaga kesehatan, guru privat, psikolog, teknologi (IT), hingga akuntan publik yang berbasis teknologi.  
 
Bersiap sebelum terlambat

Pengamat Ekonomi Digital Heru Sutadi tak menyangkal tren pekerjaan yang berkaitan dengan digitalisasi penting di era sekarang dan mendatang. Kuncinya, perlunya kecakapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang disiapkan.  

Ilustrasi. Pixabay.com.

Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute itu menjelaskan, setidaknya ada dua hal yang perlu ditekankan untuk pengembangan SDM di masa mendatang. 

Pertama, kemudahan mendapatkan pelatihan dan edukasi secara digital. "Bahkan di masa pandemi, ini mendorong digitalisasi banyak pelatihan, les, bimbingan tes dan proses belajar mengajar serta perkuliahan," kata Heru dihubungi Alinea.id, Selasa (31/12/2020).

Kedua, ilmu baru terkait perkembangan digital terkini. Menurutnya, teknologi baru harus diadopsi dan dipelajari seiring dengan revolusi industri 4.0. "Seperti big data analytic, internet of things, blockchain, kecerdasan buatan, robotika dan lainnya," imbuhnya. 

Faridah Lim dari Jobstreet Indonesia menambahkan, di masa mendatang memang tidak bisa diabaikan para pekerja mesti bersiap. Kebutuhan teknologi dan digitalisasi sudah di depan mata. Dia mencontohkan, pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara konvensional oleh manusia telah banyak digantikan oleh mesin dan teknologi. 

"Sekarang semua beralih ke teknologi seperti monitoring, semua menggunakan tools, dan aplikasi. Kalau pencari kerjanya gaptek, ya gimana?" kata Faridah. 

Tak hanya kemampuan bekerja, Faridah juga mengingatkan bahwa kemampuan mencari kerja secara online pun menjadi kebutuhan. Tak terkecuali, keterampilan pekerja melamar di Jobstreet secara baik dan benar. 

Ada beberapa tips yang bisa diterapkan. Di antaranya, menyiapkan CV yang lengkap mencakup nilai lebih pekerja, pengalaman, kemampuan, hingga berbagai kursus yang pernah diikuti. Di sisi lain, soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, hingga kecakapan analisis juga bisa ditambahkan. 

"Sangat perlu CV relevan dan updated yang benar-benar menggambarkan situasi terakhir. Tidak hanya update, tapi komplit dan lengkap. Memberikan the whole information tentang diri kita," tegasnya. 

Selebihnya, etika saat mendaftar pekerjaan melalui platform Jobstreet, katanya, juga mesti bijak ke tiap perusahaan yang dilamar. Kuncinya, jangan asal kirim lamaran tanpa teliti spesifikasi yang dibutuhkan. Melakukan 'bombardir' lamaran pekerjaan secara sembarang juga tidak baik. 

"Jangan asal klik-klik apply," pungkasnya.      

Berita Lainnya