sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jejaring gudang pintar, pangkas biaya kirim belanja online

Pandemi meningkatkan volume pengiriman barang dari gudang pintar TokoCabang hingga lebih dari 2,5 kali lipat pada kuartal-II 2020.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Jumat, 16 Okt 2020 17:18 WIB
Jejaring gudang pintar, pangkas biaya kirim belanja online
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 365.240
Dirawat 64.032
Meninggal 12.617
Sembuh 289.243

Hampir delapan bulan sudah dunia menghadapi pandemi Covid-19. Anjuran jaga jarak (physical distancing) untuk memutus penularan Coronavirus pun mendorong perubahan kebiasaan masyarakat Indonesia.  Salah satunya, pola belanja yang kini beralih menjadi online. Platform belanja daring seperti marketplace, e-commerce, maupun aplikasi yang menyediakan layanan pesan-antar pun semakin diminati oleh banyak orang.

Wawie Wahyuningtyas (61) adalah salah satunya. Ibu dua anak ini beralih menggunakan platform daring untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan, buah-buahan, obat-obatan, suplemen, cairan pembersih, dan detergen. Padahal sebelumnya, ia biasa berbelanja ke supermarket, mal, atau pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan hariannya itu. Sesekali, ia juga memesan produk fesyen, perawatan kulit (skincare), bahkan tanaman hias melalui platform e-commerce.

“Enggak apa-apa mahal dikit, tapi kami jadi lebih aman. Kalau keluar rumah was-was harus antre. Cari amannya saja, apalagi sekarang ada orang yang tanpa gejala (Covid-19). Beda harga ongkos kirim pasti ada,” ujarnya soal keputusannya belanja secara online.

Ilustrasi belanja online. Pixabay.com.

Warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini mengaku semakin bersemangat belanja tatkala marketplace dan para penjual menggelar promo. Terkadang, harga barang yang didapatnya justru lebih murah dibandingkan supermarket.

“Iya, cari yang lebih murah di mana. Lalu yang barangnya bagus dan toko yang punya banyak bintangnya,” bebernya.

Menurut survei yang dilakukan oleh Kantar Indonesia yang dipublikasikan pada 14 April 2020, 14% responden konsumen Indonesia lebih banyak melakukan belanja secara daring dibandingkan sebelum pagebluk. Di lain pihak, hasil survei MarkPlus menunjukkan bahwa saluran e-commerce menjadi pilihan bagi 53,3% responden untuk berbelanja selama pandemi karena pelbagai kemudahan yang diberikan.

Pertumbuhan konsumen belanja daring selama pandemi Covid-19 (Sumber : McKinsey & Company Indonesia Consumer Pulse Survey 19-21 Juni 2020)
Jenis barang     Pertumbuhan
Bahan makanan    49%
Makanan bawa pulang/pesan antar   25%
Camilan 71%
Peralatan rumah tangga    65%
Perabot dan perlengkapan     36%
Perawatan diri     37%
Skincare dan make up     24%
Obat tanpa resep     75%
Vitamin/suplemen     65%
Kebugaran dan kesehatan     35%
Produk anak-anak non makanan     37%
Pakaian     25%
Alas kaki     43%
Aksesoris     0%
Perhiasan     76%
Elektronik rumah tangga     31%
Hiburan dalam rumah     11%
Majalah/buku/koran     43%
Produk tembakau     62%

Sejalan dengan hasil survei McKinsey & Company, Tokopedia juga mencatat kenaikan penjualan selama kuartal-III 2020. Bila dirinci, kategori makanan dan minuman meningkat hampir 3 kali lipat. Kategori rumah tangga pun meningkat lebih dari 2 kali lipat, sementara produk kesehatan hampir 2,5 kali lipat, dan kategori perawatan tubuh lebih dari 2 kali lipat.

Sponsored

“Kategori makanan dan minuman, kesehatan, rumah tangga, elektronik, serta handphone dan tablet menjadi lima kategori paling populer selama kuartal III-2020,” ungkap Vice President of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak kepada Alinea.id, Selasa (13/10).

Tak hanya itu, Tokopedia juga mencatat kenaikan jumlah penjual yang signifikan. Penjual yang telah bergabung mencapai 9,4 juta orang atau naik lebih dari 2,2 juta dibandingkan bulan Januari 2020. Sebanyak 86,5% di antaranya merupakan pedagang baru. Hal ini menunjukkan meningkatnya animo masyarakat yang baru terjun berwirausaha maupun para pedagang untuk menjajakan barangnya secara daring.

Jejaring pergudangan e-commerce

Tingginya transaksi jual-beli secara online itu turut mengerek aktivitas jasa logistik dan pengiriman barang. Di sisi lain, infrastruktur di Indonesia masih perlu banyak pembenahan. Berdasarkan Global Competitiveness Report yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF), daya saing infrastruktur Indonesia berada di peringkat 72 dari 141 negara dengan skor 67,7.

Hambatan lain juga muncul dari sisi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pegiat UMKM yang menjalankan bisnisnya secara daring berpotensi mengalami kendala dalam pengiriman barang. Padahal, menurut survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) pada Juni 2020, sebanyak 72,6% pelaku UMKM juga terdampak oleh pagebluk seperti penurunan penjualan, kesulitan bahan baku, hingga kesulitan permodalan. 

Berbagai latar belakang tersebut mendorong Tokopedia meluncurkan layanan pemenuhan pesanan (fulfillment service) TokoCabang bagi para penjualnya. Layanan yang diluncurkan sejak 2019 itu bertujuan memangkas biaya pengiriman dan mempercepat proses pengiriman barang.

Melalui layanan tersebut, para penjual Tokopedia dengan reputasi minimal Gold 1 atau Official Store dapat mempercayakan penyimpanan, pengemasan, dan pengiriman barang melalui jaringan gudang pintar yang dimiliki oleh TokoCabang. Bahkan, layanan ini juga memfasilitasi komunikasi pembeli dengan penjual melalui admin Tokopedia.

Associate Vice President of Fulfillment Tokopedia Erwin Dwi Saputra mengatakan penjual dapat meningkatkan pendapatannya melalui pengiriman ke berbagai daerah yang semakin luas berkat jaringan pergudangan yang dimiliki TokoCabang. Di sisi pembeli juga menguntungkan karena tidak perlu mengeluarkan biaya pengiriman yang besar.

“Benefit keberadaan TokoCabang yang paling dirasakan adalah saat peak season atau ketika penjual mendapatkan pesanan yang melimpah di waktu-waktu tertentu, seperti saat menjelang Lebaran atau ketika libur Natal dan Tahun Baru,” ungkapnya.

Erwin menjelaskan TokoCabang memiliki dua jenis biaya, yaitu handling fee dan penitipan barang. Penjual yang memanfaatkan fitur ini dapat menikmati biaya layanan gratis selama 30 hari pertama. Adapun penyimpanan barang tak dikenakan biaya selama barang berada di gudang hingga 60 hari. Tokopedia menetapkan biaya penjualan barang melalui TokoCabang hanya Rp3.000 per unit, sedangkan perawatan barang tersimpan usai 60 hari gratis hanya Rp2.000 per unit.

“Ketika Jakarta lockdown, banyak seller yang kesulitan memenuhi pesanan. Akhirnya ketika mereka memercayakan barang untuk dititipkan di TokoCabang, kami bisa membantu melayani tingginya permintaan tersebut. Kemudian, selama pandemi pada kuartal II-2020, jumlah pesanan di TokoCabang meningkat hingga lebih dari 2,5 kali lipat,” jelasnya.

Hingga kini, layanan TokoCabang telah hadir di Jakarta, Bandung (Jawa Barat), Surabaya (Jawa Timur), Makassar (Sulawesi Selatan), dan Palembang (Sumatera Selatan) dan Medan (Sumatera Utara).

Jaringan pergudangan seperti TokoCabang tentunya akan semakin berkembang seiring dengan bertumbuhnya transaksi e-commerce di Indonesia. Statista memprediksi pendapatan pasar e-commerce di Indonesia akan mencapai US$50,36 miliar pada 2024.

Tidak hanya aktivitas belanja ritel, Erwin menambahkan layanan TokoCabang juga dimanfaatkan oleh penyelenggara acara luring (offline) untuk mendistribusikan barang-barang jualannya. Salah satunya adalah Big Bad Wolf, bazar buku daring terbesar di dunia. Melalui teknologi pergudangan, ratusan ribu buku sudah terjual dan didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia.

Acara ini memungkinkan masyarakat dari Sabang hingga Merauke memperoleh akses yang lebih luas terhadap buku. Menurut Erwin, literasi dan pendidikan masyarakat secara umum pun dapat ditingkatkan. 

Omzet bisnis meningkat

Kemudahan yang ditawarkan oleh TokoCabang berdampak bagi meningkatnya omzet sejumlah penjual. Salah satunya dialami oleh PT Borwita Indah yang menjadi distributor produk Procter & Gamble (P&G) di Indonesia.

Head of Sales PT Borwita Indah Leo Chandra mengatakan omzet penjualan produk P&G melalui Tokopedia yang didistribusikan oleh perusahaannya naik tiga hingga lima kali lipat. Tercatat, 80% hingga 85% di antaranya memanfaatkan layanan TokoCabang.

Menurutnya, peningkatan tersebut disebabkan oleh kecepatan yang ditawarkan layanan pemenuhan pesanan tersebut. Pihaknya memanfaatkan gudang TokoCabang di Jakarta untuk operasional bisnis di wilayah Jabodetabek.

“Selain itu, lewat TokoCabang kami bisa mengirimkan produk lewat ojek online yang tidak bisa kami lakukan kalau menggunakan warehouse (gudang) kami di Karawang (Jawa Barat) karena tentu ongkos kirimnya akan lebih mahal dan makan waktu yang lebih lama untuk pesanannya tiba di pelanggan,” tuturnya.

Menurutnya, ongkos kirim menjadi salah satu kendala dalam memasarkan barang secara daring. Oleh karena itu, kata Leo, kehadiran TokoCabang dapat menekan biaya pengiriman barang kepada konsumen.

“Selama ini, kami juga merasa sangat terbantu untuk layanan ke konsumen kami. Lewat tim TokoCabang, kami jadi tak perlu menambah manpower (tenaga kerja). Kami juga enggak perlu ribet dengan sistem karena semuanya sudah ditangani oleh TokoCabang. Dari segi investasi pun tidak terlalu besar,” ujarnya.
 Ilustrasi Alinea.id/Dwi Setiawan.

Berita Lainnya