logo alinea.id logo alinea.id

Jual Meikarta, laba bersih Lippo Cikarang milik James Riady meroket

Meski telah melepas kepemilikan saham Meikarta kepada investor asing, kinerja PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK) masih melesat tinggi.

Sukirno
Sukirno Kamis, 01 Nov 2018 07:01 WIB
Jual Meikarta, laba bersih Lippo Cikarang milik James Riady meroket

Meski telah melepas kepemilikan saham Meikarta kepada investor asing, kinerja PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK) melesat tinggi.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Rabu (31/10), kinerja Lippo Cikarang begitu gemilang. Pendapatan dan laba bersih perseroan melambung.

Laba bersih LPCK pada kuartal III-2018 yang dapat diatribusikan kepada entitas induk melonjak 587%. LPCK berhasil meraup laba bersih Rp2,87 triliun pada periode Januari-September 2018 dari sebelumnya Rp418 miliar.

Perolehan itu sejalan dengan dengan raihan pendapatan perseroan yang juga mengalami lonjakan tinggi. Pendapatan LPCK melompat 50,2% menjadi Rp1,84 triliun dari Rp1,22 triliun year-on-year (yoy).

Saat bersamaan, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan sehingga hanya naik 13,1% yoy menjadi Rp740 miliar. Sehingga, laba kotor perseroan meroket 101,5% menjadi Rp1,05 triliun dari Rp523 miliar tahun sebelumnya.

Manajemen Lippo Cikarang, mencatatkan keuntungan investasi pada entitas anak senilai Rp2,35 triliun. Nilai tersebut adalah hasil penjualan saham PT Mahkota Sentosa Utama (MSU) sebagai pengembang Meikarta.

Dalam laporan keuangan itu, dijelaskan, sejak Maret 2018 konglomerasi milik James Riady tersebut telah mengalihkan 50,01% saham MSU kepada dua pihak. Yakni, Hasdeen Holdings Ltd., dan Masagus Ismail Ning.

Hasdeen ini didirikan di British Virgin Islands (BVI). Perusahaan ini masuk melalui anak usahanya PEAK Asia Investment Pte Ltd. Para pemegang saham MSU, yakni PT Megakreasi Cikarang Permai (MKCP) dan PT Great Jakarta Inti Development (GJID), menyetujui masuknya PEAK sebagai pemegang saham melalui penerbitan saham baru. Persetujuan tersebut mengacu kepada perjanjian 1 Februari 2017.

Sponsored

Kemudian, perjanjian tersebut ditindaklanjuti dengan perjanjian jual beli bersyarat pada 10 Maret 2017. Dalam perjanjian itu, Hasdeen melalui PEAK akan menyuntik modal sebesar US$300 juta atau sekitar Rp4,2 triliun secara bertahap hingga Desember 2018. Kepemilikan saham PEAK di MSU tidak melebihi 50%.

Melalui perjanjian investasi pada 15 Maret 2017, Lippo Cikarang, MKCP, GJID, dan PEAK menyepakati masuknya Masagus Ismail Ning sebagai pemegang saham baru di MSU dengan membeli 3 saham milik PEAK. Pasca perjanjian tersebut, komposisi kepemilikan MSU menjadi MKCP 49,99%, Peak 49,99%, dan Ismail Ning 0,002% saham. Hingga 31 Desember 2017, Hasdeen melalui PEAK telah menyetor modal sebesar Rp 3,1 triliun ke MSU.

Bahkan, dalam laporan keuangan juga disebutkan bahwa beban iklan dan kinerja Meikarta tak lagi dicatat sebagai konsolidasi perseroan sejak Juni 2018. 

Akhirnya, akibat perolehan itu, laba sebelum pajak yang dibukukan perseroan melambung. Perseroan meraup Rp2,92 triliun atau melonjak 583% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp427,2 miliar.

Untuk itu, laba periode berjalan yang dibukukan perseroan juga membumbung menjadi Rp2,9 triliun dari sebelumnya hanya Rp419,8 miliar. Laba per saham dasar juga melesat menjadi Rp4.126,53 dari sebelumnya Rp600,70.

Hingga 30 September 2018, total aset perseroan mencapai Rp9,39 triliun dari akhir tahun lalu Rp12,45 triliun. Sedangkan, liabilitas Rp1,85 triliun dari Rp4,73 triliun dan ekuitas Rp7,53 triliun dari Rp7,72 triliun.

Pada perdagangan Rabu (30/10), saham LPCK melonjak 5,1% sebesar 75 poin ke level Rp1.545 per lembar. Kapitalisasi saham LPCK mencapai Rp1,07 triliun dengan imbal hasil negatif 59,13% dalam setahun.