close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi beras. Foto Freepik.
icon caption
Ilustrasi beras. Foto Freepik.
Bisnis
Selasa, 02 Januari 2024 18:45

Kelangkaan pangan membayangi kenaikan inflasi

Beras menjadi penyumbang inflasi tahunan pada Desember 2023, bersamaan dengan cabai merah, rokok kretek filter, dan emas perhiasan.
swipe

Harga beras masih tak kunjung turun pada akhir tahun. Komoditas ini menjadi penyumbang inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2023, bersamaan dengan cabai merah, rokok kretek filter, emas perhiasan, dan cabai rawit.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi tahunan mencapai 2,61%. "Beras memberikan andil inflasi sebesar 0,53%. Penyumbang utama lainnya adalah cabai merah dengan andil 0,42%, rokok kretek filter 0,17%, emas perhiasan 0,11%, dan cabai rawit 0,11%," ujar Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Selasa (2/1).

Harga beras di tingkat eceran pada Desember 2023 naik sebesar 0,48% dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm).

Tak hanya terjadi pada rantai distribusi eceran, kenaikan harga beras juga terjadi pada penggilingan beras yang pada Desember 2023 naik sebesar 0,73% secara mtm dan naik sebesar 24,07% secara tahunan yoy. Begitu juga dengan harga beras grosir yang naik sebesar 0,58% secara mtm dan naik 18,44% secara yoy.

Dibandingkan dengan Desember 2022, rata-rata harga beras di penggilingan pada Desember 2023 untuk kualitas premium, medium, dan luar kualitas masing-masing naik sebesar 21,85%, 26,03%, dan 27,77%. 

Kenaikan harga beras terjadi seiring melambungnya harga gabah. Di tingkat petani, rata-rata harga gabah pada Desember 2023 untuk kualitas gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG), dan gabah luar kualitas masing-masing naik sebesar 19,58%, 25,21%, dan 29,37% dibandingkan Desember 2022. Adapun di tingkat penggilingan, rata-rata harga gabah pada Desember 2023 dibandingkan Desember 2022 untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing naik sebesar 19,70%, 24,86%, dan 29,10%.


Kelangkaan pasokan pangan

Sementara itu, Presiden Joko Widodo memastikan stok cadangan beras tetap aman agar stabilitas harga beras tetap terkendali meskipun musim panen mengalami kemunduran akibat fenomena El Nino. 

“Kita bisa mengendalikan karena stok Bulog saat ini juga sangat baik. Akhir tahun kemarin masih di angka 1,4 juta ton dan ini akan masuk lagi untuk cadangan strategis agar betul-betul kita aman, karena memang panennya nanti akan mundur sedikit,” ujar Jokowi dalam keterangannya, Selasa (2/2). 

Jokowi menyebut harga beras di seluruh negara mengalami kenaikan akibat adanya perubahan iklim dan fenomena El Nino. Namun, menurutnya, kenaikan harga beras di Indonesia tidak sedrastis negara lainnya.

“Ada perubahan iklim, ada super El Nino, kemudian 22 negara setop tidak mengekspor berasnya, sehingga terjadi keguncangan harga beras, harga pangan di dunia. Semua negara mengalami tetapi negara kita kenaikannya tidak sedrastis negara-negara lain,” tuturnya.

Mengutip Laporan Surveillance Perbankan Indonesia kuartal III-2023, harga sejumlah jenis beras meningkat tajam di tingkat global dalam beberapa tahun terakhir. Penyebabnya, terjadi kelangkaan pangan yang berasal dari padi ini. Indeks harga beras dunia mencatatkan rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir yaitu mencapai 142.4 poin pada Agustus 2023. Berdasarkan jenisnya, beras Indica memiliki indeks harga tertinggi dibandingkan jenis beras lainnya mencapai 151.8 poin pada September 2023.

Laporan itu menyebut, ketahanan pangan global mulai terancam sejak konflik geopolitik Rusia versus Ukraina yang diperburuk oleh fenomena cuaca El Nino, sehingga terjadi gangguan produksi serta distribusi pangan global. Pembatasan perdagangan beras oleh India memperparah kelangkaan pasokan beras dan mendorong harga secara global menjadi lebih tinggi.

"Hal tersebut dikhawatirkan dapat memicu negara-negara yang bergantung pada perdagangan beras untuk pendapatan, impor dan konsumsi mulai berspekulasi mengenai harga sehingga berpotensi mengundang situasi yang mirip dengan krisis harga pangan global pada tahun 2008," tulis laporan tersebut. 

Di sisi lain, United States Department of Agriculture (USDA) melaporkan Indonesia menempati urutan keempat produsen sekaligus konsumen beras terbesar di dunia. Indonesia merupakan importir beras sejak beberapa dekade terakhir meskipun menjadi salah satu negara penghasil beras terbesar di dunia. Pertumbuhan populasi penduduk Indonesia menjadi salah satu faktor utama penyebab negara agraris ini menjadi net importir beras sejak tahun 1980-an.

Kebutuhan konsumsi beras per kapita terus meningkat. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), rata-rata konsumsi per kapita beras di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 81,04 kilogram (kg) per kapita per tahun. Adapun standar konsumsi beras dunia yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) adalah sebesar 60 kg hingga 65 kg/kapita/tahun. Artinya, konsumsi beras penduduk Indonesia telah melebihi standar kecukupan global.

"Ironisnya, produksi beras dalam negeri terus menurun dalam beberapa tahun terakhir sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi beras per kapita nasional yang terus meningkat," tulis laporan tersebut.

Menurut laporan tersebut, kelangkaan pasokan beras perlu diwaspadai. Kondisi ini turut berimbas pada harga rata-rata beras pedagang eceran nasional yang merangkak naik. Kenaikan harga beras akan meningkatkan biaya hidup masyarakat terutama prasejahtera dan dapat menyebabkan penurunan daya beli hingga kenaikan angka kemiskinan dan kelaparan. Inflasi pun akan terkerek naik.

"Kenaikan harga pangan merupakan salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan inflasi global dalam beberapa waktu terakhir."

img
Satriani Ari Wulan
Reporter
img
Satriani Ari Wulan
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan