logo alinea.id logo alinea.id

Kimia Farma gencar ekspansi ke luar negeri

Setelah ekspansi ke Timur Tengah, emiten BUMN PT Kimia Farma (Persero) Tbk. kian gencar menggarap pasar di luar negeri.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 07 Mei 2019 20:09 WIB
Kimia Farma gencar ekspansi ke luar negeri

Setelah ekspansi ke Timur Tengah, emiten BUMN PT Kimia Farma (Persero) Tbk. kian gencar menggarap pasar di luar negeri.

Direktur Utama Kimia Farma Honesti Basyir mengatakan tahun ini perseroan menyiapkan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp4,27 triliun. 

Dana capex akan digunakan sebesar 37,6% untuk pengembangan ritel dan akuisisi. Sedangkan, sebesar 60% senilai Rp2,5 triliun akan digunakan untuk bisnis organik.

"Kami ekspansi ke Vietnam, tapi masih dalam proses mempelajari regulasi. Ada dua perusahaan yang sedang dijual, tetapi hanya mau melepas saham minoritas," ujarnya dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (7/5).

Tidak hanya ekspansi ke Vietnam, emiten bersandi saham KAEF itu juga akan memperkuat bisnis di Arab Saudi. Perseroan akan melakukan kerja sama di negara itu.

"Scope kerja samanya tidak sekadar retail, tetapi manufaktur farmasi juga. Kami sudah memiliki 34 outlet di Jeddah dan Madinah. Sementara untuk pengembangan pabrik farmasi di sana masih dalam bentuk studi kelaikan," kata dia.

Pembagian dividen

Sementara itu, emiten pelat merah itu membagikan dividen senilai Rp83,18 miliar. Rasio pembangian dividen mencapai 20% dari laba bersih perseroan tahun buku 2018. Rasio ini lebih rendah dari pembagian dividen tahun sebelumnya sebesar 30%.

Sponsored

Tahun buku 2018, KAEF mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai Rp415,9 miliar. Dengan demikian, RUPST memutuskan untuk membagikan dividen senilai Rp14,98 per lembar saham.

Dari sisi kinerja kuartal I-2019, laba bersih Kimia Farma yang dapat diatribusikan kepada entitas induk harus tertekan. Laba KAEF melorot 44,56% year-on-year (yoy) menjadi Rp20,63 miliar.

Kendati laba merosot, pendapatan perseroan justru melejit 21,79% yoy menjadi Rp1,81 triliun. Akan tetapi, beban pokok pendapatan perseroan melambung 22,16% menjadi Rp1,19 triliun.

"Tekanan lebih pada beban bunga dan penjualan yang belum optimal. Tapi di kuartal II menurut kami bisa dilakukan perbaikan," ujar Honesti Basyir.

Pada perdagangan Selasa (7/5) dikutip dari Bloomberg, saham KAEF ditutup melejit 6,9% sebesar 200 poin ke level Rp3.100 per lembar. Kapitalisasi pasar saham KAEF mencapai Rp17,21 triliun dengan imbal hasil 47,62% dalam setahun terakhir.