sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Lampu kuning ekonomi Singapura

Terakhir kali, pertumbuhan ekonomi Singapura melambat pada tahun 2009.

Mona Tobing
Mona Tobing Jumat, 12 Jul 2019 09:51 WIB
Lampu kuning ekonomi Singapura

Lampu kuning pertumbuhan ekonomi Singapura. Produk domestik bruto (PDB) ekonomi Singapura tumbuh hanya 0,1% pada kuartal dua tahun ini, pencapaian ini lebih rendah di bawah target. 

Kinerja ekonomi Singapura buruk pada kuartal kedua adalah pertumbuhan tahunan paling lambat selama satu dekade. Bahkan menyusut tajam dibandingkan tiga bulan sebelumnya. 

PDB meningkat 0,1% pada kuartal kedua, jauh di bawah perkiraan 1,1% dalam jajak pendapat yang dilakukan Reuters. Pada kuartal pertama, PDB meningkat 3,8% dari kuartal sebelumnya.

Ini adalah pertumbuhan PDB paling ciut, sejak kuartal kedua 2009 yang pernah turun 1,2%.

Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura dalam sebuah pernyataan menyebut faktor lesunya ekonomi Singapura adalah kinerja sektor manufaktur yang terus turun. 

Kepala Departemen Keuangan dan Strategi Bank OCBC Selena Ling bahkan menyebut Singapura sedang mengalami bencana dalam bidang ekonomi. Sebab, pencapaian kinerja di bawah perkiraan, kondisi ini kata Ling terpapar kinerja manufaktur yang sedang lesu. 

Pada kuartal kedua tahun ini, industri manufaktur mengalami kontraksi 3,8% dari tahun sebelumnya. Setelah menyusut 0,4% pada kuartal sebelumnya.

Pemerintah Singapura sebelumnya mengatakan mereka akan meninjau pertumbuhan PDB tahun 2019 mereka sebesar 1,5% -2,5%. Analis pun menyebut kemungkinan Singapura akan mengalami resesi pada tahun 2020. 

Sponsored

Ling pun merespons dengan menyarankan agar pemerintah memangkas pertumbuhan ekonomi setahun menjadi 0,5-1,5%. Toh, output manufaktur elektronik yang selama ini menjadi pendorong utama ekonomi Singapura dalam dua tahun terakhir juga sedang turun. 

Selama enam bulan ini, ekspor Singapura mengalami penurunan terbesar dalam lebih dari tiga tahun.

Pangkas suku bunga

Ekonomi Singapura yang melambat ini mendorong sejumlah ekonom kembali menyarankan agar MAS memangkas suku bunga. Gunanya, melonggarkan kebijakan moneter berbasis nilai tukar. 

Selama dua tahun terakhir, MAS memilih untuk memperketat kebijakan moneter. Alasannya untuk mengendalikan tekanan harga yang meningkat dan memperkuat mata uangnya. Sebagai informasi, langkah pengetatan tersebut telah berlangsung selama enam tahun. 

Akibat PDB yang susut, mata uang Dolar Singapura melemah menjadi S$ 1.3585 dari S$ 1.3570. 

Sumber : Reuters