sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Masyarakat gemar menabung, pertumbuhan wealth management terhambat

Wealth management Indonesia diprediksi bakal meningkat dalam empat hingga lima tahun mendatang.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 25 Nov 2020 19:47 WIB
Masyarakat gemar menabung, pertumbuhan wealth management terhambat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Bank DBS Indonesia menyebut perkembangan wealth management di Indonesia bakal tumbuh seiring dengan meningkatnya aset kekayaan di Indonesia.

Asumsi itu mempertimbangkan orang kaya atau ultra high net worth individual (UHNWI) Indonesia diproyeksikan menjadi yang tertinggi kelima di dunia dan jauh lebih tinggi dari rata-rata global dan Asia. Tak hanya itu, outlook IMF juga menyebut produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia akan mencapai US$5.000 pada 2024 sehingga lanskap wealth management Indonesia juga bakal meningkat dalam empat hingga lima tahun mendatang.

Executive Director, Wealth Management Talent Rotation Bank DBS Indonesia, Keng Swee mengatakan indikator utama peningkatan pasar wealth management adalah jumlah investor reksa dana yang tumbuh empat kali lipat dalam tiga tahun terakhir, dari 444.945 investor menjadi 1,7 juta investor pada akhir tahun 2019. 

Namun di sisi lain, pertumbuhan wealth management dinilai masih terhambat oleh berbagai faktor. Mengacu pada jurnal yang dirilis Hubbis September lalu, penetrasi asset under management (AUM) Indonesia hanya sekitar 4% dari PDB. Menurutnya, angka tersebut masih tergolong rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan lainnya yang sebesar 15%-25%.

“Indonesia merupakan pasar yang sangat berkembang dalam hal wealth management, namun pertumbuhannya terhambat oleh terbatasnya akses nasabah terhadap investasi dan pengelolaan aset kekayaan," kata Swee dalam keterangan resminya, Rabu (25/11).

Masyarakat juga disebut cenderung mendepositokan kekayaannya dibandingkan menginvestasikannya. Ditambah, dengan adanya pandemi, nasabah memilih untuk menyimpan kekayaannya dalam bentuk seperti deposito dan tabungan.

"Masyarakat masih membutuhkan lebih banyak edukasi mengenai investasi, sebagai pilihan dalam mengelola dan mengembangkan kekayaan," ujarnya.

Selain itu, pendapatan per kapita Indonesia yang berada di angka US$4.100 juga masih rendah. Menurut Swee, diperlukan pendapatan per kapita sebesar US$5.000 agar lanskap wealth management Indonesia dapat memaksimalkan potensinya

Sponsored

Sementara itu, Head of Sales and Distributions Consumer Banking Group Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom menuturkan, perseroan melakukan dua pendekatan wealth management, yakni investasi dengan pilihan penempatan di dalam dan luar negeri, serta asuransi yang disesuaikan dengan tujuan finansial nasabah.

Dia melanjutkan, untuk mempermudah akses wealth management di kondisi saat ini, Bank DBS Indonesia menyediakan berbagai inovasi digital, agar nasabah dapat melakukan transaksi dan investasi di mana saja dan kapan saja.

"Melalui aplikasi digibank by DBS, nasabah dapat melakukan beragam transaksi keuangan seperti penempatan deposito dalam 12 mata uang asing, pembelian obligasi pasar primer dan sekunder, serta transfer dana ke dalam dan luar negeri secara real time," tuturnya. 

Berita Lainnya