close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi beras. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi beras. Foto Pixabay.
Bisnis
Senin, 24 April 2023 09:34

Mengapa harga beras tetap tinggi, bahkan terus naik?

Panen raya padi sudah mencapai puncaknya. Tapi harga gabah dan beras tetap tinggi. Apa penyebabnya?
swipe

Pada pekan terakhir menjelang Idulfitri, Presiden Joko Widodo kembali mendatangi sejumlah pasar. Selain membagikan barang kebutuhan pokok dan amplop tunjangan hari raya atau THR, Presiden mengecek harga sejumlah kebutuhan pokok. Saat di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Presiden semringah. Harga aneka kebutuhan pokok terkendali.

”Harga bahan-bahan pokok tidak ada yang naik. Banyak yang turun. Yang naik hanya satu: bawang bombai. Yang lain, telur bagus, ayam baik, kemudian bawang merah juga baik. Cabai yang dulu sampai Rp100.000, sekarang di Rp35.000-Rp40.000. Semuanya baik,” kata Jokowi, Kamis (13/4).

Hal serupa ditemukan Jokowi saat mendatangi di Pasar Tugu Palsigunung, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat. Warga tidak mengeluh. Satu-satunya kebutuhan pokok yang harganya cukup tinggi adalah beras. ”Saya lihat bagus semua. Bawang merah bagus, telur turun, bawang putih stabil, ayam juga di angka Rp32.000, Rp35.000, stabil. Yang belum turun memang beras,” kata Jokowi.

Untuk mengatasi hal itu, Presiden mengaku telah menginstruksikan Bulog untuk segera melakukan langkah cepat. Salah satunya dengan menggelar operasi pasar agar harga beras stabil. ”Tadi, saya sudah perintahkan Bulog untuk segera ke pasar ini agar ada seperti operasi pasar,” kata Presiden.

Mengapa harga beras tetap tinggi?

Saat ini, merujuk Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, rata-rata harga beras medium di April 2023 (sampai 21 April 2023) berkisar Rp13.250-Rp13.450 per kg. Selain lebih tinggi dari awal Januari (Rp 12.450-Rp12.650 per kg), Februari (Rp12.950-Rp13.300 per kg), dan Maret 2023 (Rp13.150-Rp13.300 per kg), nilai ini melampaui harga eceran tertinggi (HET) baru seperti diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional No. 7/2023, yaitu Rp10.900-Rp11.800 per kg (tergantung wilayah).

Harga beras di semester pertama tahun 2022 bergerak stabil. Harga mulai naik pada Agustus 2022 dan terus naik sampai saat ini. Tidak hanya beras medium, harga beras kualitas premium pun mengalami nasib yang sama.

Perbedaan harga beras antar-wilayah amat lebar. Merujuk data PIHPS, harga beras medium per 21 April 2023 terendah terjadi di Jawa Timur (Rp11.100-Rp11.500 per kg) dan tertinggi di Kalimantan Selatan (Rp16.050-Rp18.550 per kg).

Menurut Wakil Kepala Bulog 1999-2000 Sapuan Gafar, harga beras masih tinggi karena pasar belum jenuh. Pasar masih 'lapar' beras. Salah satu indikatornya adalah rendahnya stok beras yang ada di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta, pasar yang menjadi referensi hampir semua pasar beras di Indonesia.

Dalam kondisi normal, stok beras harian di PIBC sekitar 30.000 ton. Pada 2021 dan 2022, stok beras harian selalu dalam kondisi normal. Stok beras harian terendah sekitar 27.000 ton. Stok ini anjlok drastis sejak Januari 2023. Bahkan, di Februari stok beras harian tinggal separuh dari kondisi normal. Sempat naik di Maret, tapi stok turun lagi di April 2023.

Karena stok terbatas sementara permintaan tetap, mengikuti hukum pasar pasokan-permintaan, harga terkerek ke atas. Seperti data PIHPS, harga beras IR di PIBC naik sejak Agustus 2022. Harga beras IR terus melonjak hingga mencapai Rp11.950 per kg pada 20 April 2023.

Untuk menahan kenaikan harga, salah satunya pemerintah melakukan operasi pasar beras melalui Bulog. Operasi pasar umum bernama Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) digelar setiap hari, sepanjang tahun tanpa jeda. Agar masif, operasi pasar juga dilakukan di seluruh wilayah.

Pada semester pertama tahun 2022, volume bulanan operasi pasar beras masih kecil. Volume operasi pasar membengkak seiring kenaikan harga beras, yakni sejak Agustus. Rentang Agustus - Desember 2022, Bulog menyuntikkan beras ke pasar sebanyak 1.001.970 ton.

Tiga bulan pertama 2023, volume operasi pasar juga besar. Jumlah beras operasi pasar bulanan sejak Agustus lalu itu amat besar apabila dibandingkan periode 2014-2016 yang rata-rata hanya 177.823 ton beras per tahun. Akan tetapi, tanda-tanda harga beras akan turun belum tampak.

Menurut Sapuan Gafar, operasi pasar akan efektif apabila pasar dijenuhi beras. Berapapun kebutuhan beras dipenuhi. Masalahnya, stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog menipis. Penyerapan beras Bulog dari produksi domestik tahun 2022 hanya 1 juta ton, lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Stok yang rendah ini terus terkuras untuk operasi pasar di semester II 2022.

Akhir 2022, stok CBP di Bulog sebesar 326.643 ton. Ini stok terendah sepanjang sejarah. Karena masalah cuaca dan kapal, impor beras 500.000 ton yang diharapkan bisa segera menutupi stok CBP yang menipis dan dipakai operasi pasar tidak tiba sesuai rencana. Ini diyakini Sapuan Gafar membuat harga beras terus naik.

Di lapangan, operasi pasar beras pun diselewengkan. Salah satunya, seperti terjadi di Polda Banten. Ini terjadi karena keuntungan yang mungkin ditangguk pelaku amat menggiurkan. Beras operasi pasar dilepas Bulog Rp8.300 per kg. Kepada pedagang dan downline-nya diminta menjual tak melebihi HET beras medium, seperti diatur Permendag No. 57/2017: Rp9.450-Rp10.250 per kg. Karena beras operasi pasar ini kualitas premium, dilepas sesuai HET beras premium (Rp 12.800-Rp 13.600 per kg) pun laku keras. Ada margin besar: Rp1.150-Rp5.300 per kg.

Kini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah memperbaharui aturan HET beras. Seperti diatur di Peraturan Bapanas No. 7/2023, HET beras dibagi tiga zona dan dibedakan antara beras medium dan premium. Aturan ini diundangkan pada 30 Maret 2023.

HET Beras Medium dan Premium (Rp/kg)
  Wilayah               HET Medium   HET Premium
Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, Sulawesi    10.900       13.900
Sumatera kecuali Lampung dan Sumatera Selatan, NTB, Kalimantan 11.500 14.400
Maluku, Papua       11.800 14.800

Sumber: Peraturan Bapanas No. 7/2023 tentang HET Beras

Dalam kondisi demikian, panen raya pada Februari-Mei 2023 menjadi harapan terakhir untuk meredam 'panas'-nya harga beras. Sayangnya, merujuk data Kerangka Sampel Area BPS (amatan Februari 2023), produksi Januari-Mei 2023 diproyeksikan sebesar 15,48 juta ton beras, lebih rendah dari periode yang sama pada 2022: 16,09 juta ton beras.

Pada Januari 2023 masih minus 1,2 juta ton untuk mencukupi konsumsi bulanan 2,53 juta ton beras. Surplus terjadi mulai Februari (0,32 juta ton beras) dan potensi surplus besar di Maret (2,84 juta ton) dan April (1,26 juta ton). Pada Mei minus 0,43 juta ton untuk memenuhi konsumsi bulanan 2,54 juta ton beras.

Surplus gabah/beras hasil panen Februari-April baru mengisi sebagian pipa (pipeline) distribusi, milik penggilingan dan pedagang beras, yang kerontang karena terus terkuras sejak musim paceklik Oktober 2022. Karena pasar jauh dari jenuh, perebutan gabah/beras oleh pelaku pasar tidak terelakkan. Panen di satu wilayah akan diperebutkan, termasuk oleh pembeli dari luar wilayah.

Menurut Deputi bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, penggilingan menengah-besar dan pedagang beras harus tetap melayani jejaring distribusi mereka. "Bisa dibilang mereka (penggilingan menengah-besar dan pedagang beras) sebagai price maker, tapi itu untuk menjaga operasional penggilingan tetap berjalan dan pelayanan terhadap jejaring distribusi tetap terlayani," tutur Astawa kepada Alinea.id, Senin (17/4).

Selain itu, menurut Sapuan, dari panen hingga beras masuk ke pasar setidaknya perlu 3-4 minggu. Ini semua jadi penjelas yang benderang bahwa pasar beras memanas karena suplai (masih) terbatas.

Tahun ini, Bapanas menugaskan Bulog menyerap 2,4 juta ton beras. Dari jumlah itu, 70% diharapkan diserap ketika musim panen raya Februari-Mei. Pada akhir tahun, Bulog diharapkan memiliki stok akhir 1,2 juta ton beras. Sejak awal 2023 hingga saat ini, Bulog baru bisa menyerap 222.000 ton beras. Sebanyak 128.000 ton beras di antaranya diserap pada medio April.

Infografik irama panen dan harga beras. Alinea.id/Firgie Saputra.

Kepala Divisi Pengadaan Pangan Lain Bulog, Yayat Hidayat Fatahilah, mengatakan, tren penyerapan Bulog meningkat akhir-akhir ini. Itu tecermin dari penyerapan harian yang mencapai 8.000-9.000 ton beras. Namun, penyerapan tetap menghadapi tantangan akibat harga gabah dan beras di pasar yang tinggi.

Kecenderungan harga gabah dan beras di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sudah terjadi sejak 2006. Harga, jelas Yayat, akan mendekati HPP menjelang puncak panen raya, sehingga Bulog bisa menyerap. Harga gabah setelah memasuki panen raya Maret-April bergerak turun. Dari kisaran Rp5.800 per kilogram (kg) menjadi Rp5.200 per kg. Meskipun menurun, harga ini masih di atas HPP untuk pembelian Bulog, yaitu Rp5.000 per kg.

Ketika musim panen raya lewat, jelas Yayat, harga gabah diperkirakan akan lebih tinggi lagi. Itu berarti harga beras masih berpeluang untuk tetap bertahan di level tinggi, bahkan terus naik. Sampai kapan?

img
Satriani Ari Wulan
Reporter
img
Khudori
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan