sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mimpi milenial di dunia digital

Dunia startup menjadi tumpuan harapan kebanyakan milenial.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Rabu, 08 Sep 2021 17:01 WIB
Mimpi milenial di dunia digital

Selepas lulus dari almamaternya Januari lalu, Ernawati langsung menebar lamaran ke berbagai startup. Perusahaan rintisan berskala unikorn maupun perusahaan yang benar-benar baru merintis menjadi incarannya.

Kini, ia merasa sudah menggapai mimpinya. Di usianya yang menginjak 22 tahun, ia akhirnya diterima di perusahaan rintisan lokal sebagai content writer atau copywriter - profesi yang sudah menjadi mimpinya sejak di bangku kuliah.

Selain dapat menyalurkan hobi menulisnya, bekerja di perusahaan rintisan juga dinilai cocok untuknya yang tak begitu suka bekerja di lingkungan terlampau formal dengan rutinitas berulang.

“Aku bosenan orangnya. Kalau startup kan kerjanya bisa di mana saja, enggak harus di kantor. Jadi ingin fleksibel,” ungkap alumni Antropologi Universitas Diponegoro itu, kepada Alinea.id, Kamis (26/8).

Ia juga kerap mendengar cerita para senior yang telah terlebih dulu mengecap pengalaman bekerja di startup. Lingkungan kerja startup dinilai lebih mudah untuk mengembangkan pengetahuan dan menambah ilmu para pekerjanya.

Saat ini, generasi Y atau kini lebih dikenal dengan generasi milenial telah mendominasi jumlah penduduk Indonesia. Milenial pun dipastikan menggeser dominasi generasi X yang lahir di era 1965 sampai 1980 di dunia kerja.

Survei Penduduk (SP) 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) September lalu mencatat jumlah penduduk yang lahir antara 1981-1996 ada sebanyak 69,38 juta jiwa. Artinya, dari total seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 270,2 juta jiwa, 69,38% di antaranya adalah milenial.

“Kalau dilihat dari demografinya, mereka (generasi milenial) segera mendominasi angkatan kerja Indonesia dan menggantikan generasi sebelumnya (generasi X),” kata Haryo Utomo Suryosumarto, Managing Director salah satu perusahaan konsultasi dan rekrutmen di Indonesia kepada Alinea.id, beberapa waktu lalu.

Sponsored
Komposisi penduduk Indonesia 2020 (Sumber: Survei penduduk 2020, Badan Pusat Statistik).
Pre-Boomer (≤ 1945)  5,03 juta jiwa 1,87%
Baby Boomer (1946-1964) 31,01 juta jiwa  31,01%
Gen X (1965-1980)         58,65 juta jiwa 58,65%
Milenial (1981-1996)         69,38 juta jiwa 69,38%
Gen Z (1997-2012)        74,93 juta jiwa  27,94%
Post Gen Z (≥ 2013)         29,17 juta jiwa 10,88%

Melansir hasil Survei Tren Minat dan Perilaku Pencari Kerja di Era New Normal yang dirilis Deka Insight bersama Job2Go pertengahan tahun lalu, startup atau perusahaan rintisan menempati peringkat kedua untuk perusahaan atau instansi yang diminati para pencari kerja sejak pandemi Covid-19, dengan perolehan suara 36%.

Kemudian disusul oleh lembaga pemerintahan di peringkat tiga dengan suara 25%. Adapun peringkat pertama diduduki Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan suara 62%.

Sebagai informasi, survei dilakukan pada 17 Juli-3 Agustus 2020 di wilayah Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Denpasar, dan Makassar. Survei dilakukan secara daring dengan jumlah responden sebanyak 522 orang yang terdiri dari 53% laki-laki dan 47% perempuan.

Ilustrasi pekerja. Pixabay.com.

Kontribusi startup

Memang, meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia dan tersedianya infrastruktur teknologi digital menjadi katalis startup dapat tumbuh pesat di tanah air. Saking pesatnya, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mencatat Indonesia menduduki peringkat kelima negara dengan jumlah startup tertinggi setelah Amerika Serikat (AS), India, Inggris, dan Kanada, yaitu mencapai 2.193 perusahaan.

Ditambah, kinerja perusahaan startup yang cemerlang menjadi salah satu alasan bagi milenial menggandrunginya. Catatan Alinea.id, ada lima startup nasional yang menyandang status Unikorn, dengan nilai valuasi sebesar US$1 juta  atau lebih pada tahun 2020. Perusahaan tersebut adalah Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, OVO, dan JD.ID. Sedangkan Gojek dinobatkan menjadi Decacorn di Indonesia.

Di samping itu, dampak startup juga cukup besar bagi perekonomian nasional. Berdasarkan hasil riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 2020, Tokopedia berkontribusi dalam membantu pelaku usaha, khususnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk bertahan, bangkit, dan tumbuh selama pandemi ini.

Tercatat, tujuh dari sepuluh pelaku usaha mengalami peningkatan volume penjualan dengan median sebesar 133%. Sebesar 68,6% dari penjual yang bergabung di Tokopedia saat pandemi adalah pencari nafkah tunggal di keluarga.

“Hampir seluruh penjual yang terdaftar di Tokopedia merupakan UMKM, di mana 94% berskala ultramikro dan 86,5% di antaranya adalah pengusaha baru,” kata Kepala Divisi Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Daerah Tokopedia, Emmiryzan kepada Alinea.id, Selasa (24/8).

Kepala Divisi Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Daerah Tokopedia, Emmiryzan. Sumber: Tokopedia.

Tokopedia mencatat, per Juni 2021 terdapat lebih dari 11 juta penjual. Ada kenaikan sebesar lebih dari 3,8 juta dari 7,2 juta penjual sejak sebelum pandemi Januari 2020. Adapun jumlah pengguna aktif bulanan Tokopedia pun tercatat meningkat lebih dari 10 juta, dari 90 juta pada Januari 2020 menjadi lebih dari 100 juta saat ini. 

Menurut Emmiryzan, perusahaan juga gencar melakukan pembekalan dan pemberdayaan untuk UMKM. Ada beberapa langkah yang dilakukan perusahaan besutan William Tanuwijaya ini yakni, memberikan pendampingan dalam pembukaan dan pengaturan toko. 

Lalu, memberikan edukasi regular lewat materi dalam berbagai bentuk seperti artikel, video, dan webinar yang dapat ditemukan di halaman Tokopedia Seller ataupun di laman Pusat Edukasi Seller Tokopedia dengan topik-topik yang disesuaikan dengan kebutuhan penjual.

Selain itu, Tokopedia juga senantiasa memberikan panggung yang seluas-luasnya bagi UMKM, salah satunya lewat Program Bangga Buatan Indonesia (BBI) yang dirintis perusahaan bersama kementerian terkait, seperti Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Pariwisata, dan masih banyak lagi.

Emmiryzan mengaku, dengan program BBI, mitra UMKM lokal Tokopedia dapat merasakan dampak positif. Bahkan, beberapa kategori produk lokal selama kampanye Hari Bangga Buatan Indonesia juga mengalami peningkatan, seperti kategori fesyen dan elektronik lokal mengalami peningkatan lebih dari enam kali lipat, kategori kesehatan mengalami peningkatan lebih dari tiga kali lipat, serta kategori makanan dan minuman mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat.

Perusahaan hijau tersebut juga ikut mendorong penjualan makanan dan minuman (F&B) untuk Go Digital melalui Tokopedia Nyam. Kampanye ini membuat jumlah penjual makanan siap masak di Tokopedia meningkat hampir tiga kali lipat selama pandemi. Transaksi makanan siap masak juga tumbuh signifikan menjadi lebih dari tiga kali lipat jika dibandingkan dengan periode sebelum pandemi.

Untuk mendukung UMKM di daerah, Tokopedia juga meluncurkan Inisiatif Hyperlocal, program yang bertujuan mempermudah masyarakat mendapatkan beragam produk dari penjual setempat sekaligus membantu penjual setempat, khususnya UMKM lokal.

Dengan program ini diharapkan dapat mempertahankan bisnis UMKM, sekaligus bisa memberikan kontribusi ke perekonomian daerah. Digitalisasi pasar tradisional merupakan salah satu wujud Inisiatif Hyperlocal Tokopedia. Pasar Cikurubuk dan Pasar Sehat Sabilulungan Cicalengka adalah contoh pasar tradisional yang merasakan dampak positif dari digitalisasi pasar melalui Tokopedia di Jawa Barat.

“Tokopedia percaya melalui teknologi, kami dapat membantu semua orang memulai dan menemukan apa pun serta mendapatkan lebih, tanpa harus berpindah ke kota-kota besar,” imbuh Emmiryzan.
 
Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo. 
 

Berita Lainnya