close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Bagus Priyo.
Bisnis
Rabu, 07 September 2022 07:45

Peluang investasi di reksa dana saham masih menarik

Hal ini didorong juga dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang lebih solid yang disertai dengan pertumbuhan laba perusahaan.
swipe

Kondisi perekonomian Indonesia sedang menunjukkan potensi penguatan yang solid dan akan berlangsung hingga akhir tahun. Hal itu berbeda dengan perekonomian dunia seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China yang sedang mengalami normalisasi.

Beragam indikator ekonomi masih menunjukkan pemulihan ekonomi yang kuat hingga beberapa waktu ke depan, meski potensi kenaikan inflasi dalam jangka pendek akan terjadi usai adanya faktor kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Adanya inflasi tentu akan memengaruhi daya beli masyarakat, dan hal ini menurut Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Krizia Maulana, telah diantisipasi oleh pasar. Sementara itu, momentum pemulihan ekonomi Indonesia saat ini telah berada di level penguatan, sehingga dampak dari kenaikan telah dimitigasi.

“Dari sisi anggaran negara, kenaikan harga BBM membuat anggaran pemerintah menjadi lebih terjaga dan tepat sasaran, sehingga Indonesia masih menjadi pasar yang dilirik oleh investor asing,” jelas Krizia dalam keterangan resminya, Rabu (7/9).

Dalam berinvestasi di masa seperti ini, yang harus diwaspadai oleh investor adalah faktor global yang terjadi, seperti pengetatan bank sentral yang terlalu agresif. Aksi bank sentral tersebut tentunya berpotensi mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi global.

Belum rampungnya konflik Rusia-Ukraina juga berdampak pada harga komoditas dan tekanan inflasi yang bisa mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral global.

Berkaca pada hal tersebut, dalam jangka panjang, maka peluang investasi di reksa dana saham jelas masih menarik. Hal ini didorong juga dengan kondisi makroekonomi Indonesia yang lebih solid yang disertai dengan pertumbuhan laba perusahaan diperkirakan pada laju yang sehat sehingga bisa memacu pergerakan pasar saham.

Namun, karena pasar global masih volatile atau tidak stabil, maka Krizia menyarankan agar investor melakukan diversifikasi aset dan menambah porsi kepemilikan investasi di instrumen yang memiliki tingkat korelasi rendah antaraset pada portofolionya, contohnya seperti di reksa dana campuran.

“Kondisi pasar yang dinamis menawarkan peluang yang menarik bagi investor. Berinvestasi pada beragam jenis kelas aset reksa dana sekaligus, seperti saham, obligasi, dan pasar uang dalam satu portofolio investasi dapat menjadi cara yang efektif untuk meraup peluang guna memacu pertumbuhan investasi kita. Reksa dana campuran memungkinkan investor untuk mendapatkan return yang lebih optimal dengan risk yang lebih terjaga,” ujar Krizia.

Lebih lanjut, ia mencontohkan reksa dana campuran Manulife Dana Tumbuh Berimbang (MDTB). Bukan semata mengejar imbal hasil, MDTB dijaga ketat untuk memberikan tingkat fluktuasi dan imbal hasil yang lebih konsisten, yang tentunya lebih rendah dibandingkan fluktuasi portofolio investasi yang hanya fokus pada saham.

“MDTB memungkinkan investor untuk meraih peluang dari dua sisi, sambil meredam risiko berlebih di tengah riuh rendah gerakan pasar modal. Dalam setahun terakhir, reksa dana MDTB mencatatkan kinerja 7,91% per akhir Juli 2022,” tandasnya.

Krizia berpandangan, ke depan pasar saham masih memberikan peluang menarik. Yang terpenting saat ini, investor sebaiknya tetap melakukan diversifikasi pada investasinya, terlebih karena masih ada tekanan dari global.

“Tetap perhatikan bahwa dalam memilih portofolio investasi, investor harus menyesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, dan jangka waktu investasi masing-masing,” tutup Krizia.

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan