close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Perekonomian semakin baik, ekonom ungkap potensi untung masuk ke pasar obligasi. Foto Alinea/Erlinda
icon caption
Perekonomian semakin baik, ekonom ungkap potensi untung masuk ke pasar obligasi. Foto Alinea/Erlinda
Bisnis
Jumat, 04 November 2022 06:49

Perekonomian semakin baik, ekonom ungkap potensi untung masuk ke pasar obligasi

Harga obligasi 10 tahun bisa naik, sehingga menekan yield nya hingga ke level 7,26% pada akhir tahun dengan asumsi skenario moderat.
swipe

Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai, perbaikan ekonomi domestik saat ini sangatlah penting karena dapat menopang pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat mencapai level Rp15.600 per dollar Amerika Serikat (AS) dan tekanan terhadap harga obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN). Jika harga obligasi menurun, tentu akan memicu kenaikan tingkat imbal hasil atau yield di pasar sekunder.

Terjadinya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar obligasi menurut Rully disebabkan naiknya suku bunga acuan AS yakni Federal Funds Rate (FFR) yang cukup agresif di tahun ini. FFR diketahui telah menaikkan suku bunganya mencapai 375 basis poin (bps) menjadi 3,75% hingga 4% pada Oktober 2022. Nilai 100 bps sama dengan 1%.

Kenaikan FFR juga turut diimbangi oleh kenaikan suku bunga bank sentral di beberapa negara di dunia termasuk Indonesia. Bank Indonesia (BI) juga kini telah menaikkan suku bunga acuan BI-7 Days Repo Rate (BI-7DRR) total mencapai 125 bps hingga 4,75%. Langkah ini diambil sebagai pengendalian laju inflasi, yang pada bulan September 2022 tercatat inflasi sebanyak 5,95% dan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2015 karena dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di awal September lalu.

“Kami memprediksi FFR dapat naik lagi hingga 4,5% pada akhir tahun. Di dalam negeri, kami memprediksi inflasi periode 2022 akan mencapai 7,13% sehingga BI7-DRR dapat naik kembali 25bps di bulan ini menjadi 5% dari posisi sekarang 4,75%,” jelas Rully pada pemaparannya di Media Day Mirae Sekuritas bertajuk “Economic and Bond Market Updates, Will the Volatility Remain?”, Kamis (3/11).

Kemudian di sektor pasar utang, Fixed Income Research Mirae Asset Sekuritas Dhian Karyantono pada kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa terjadi tren penurunan harga SBN. Ini terbukti dari adanya kenaikan yield seri acuan 10 tahun hingga 7,67% pada 25 Oktober 2022 sebelum cenderung melandai hingga 7,54% di akhir Oktober 2022.

“Potensi melandainya yield SBN di akhir tahun dibandingkan kondisi saat ini bisa menjadi momentum untuk masuk ke instrumen SBN,” tutur Dhian.

Ia menilai kondisi pasar obligasi saat ini cenderung undervalued dan memprediksi harga obligasi 10 tahun bisa naik, sehingga menekan yield nya hingga ke level 7,26% pada akhir tahun dengan asumsi skenario moderat.

Dhian juga mengatakan, bagi korporasi yang memiliki obligasi suku bunga dalam bentuk mata uanharga obligasi 10 tahun bisa naik, sehingga menekan yield nya hingga ke level 7,26% pada akhir tahun dengan asumsi skenario moderat.g dolar, maka ia menyarankan agar obligasi tersebut dipertahankan mengingat akan ada peluang investor yang masuk ke pasar obligasi. Hal ini karena Dhian memprediksi tingkat yield akan bagus yaitu sebesar 7,5% hingga 7,6% terutama di tahun 2023 pasar obligasi akan bergerak positif di semester II tahun depan. 

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan