sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

IPO MRT akan disambut positif, bila iklim investasi baik

MRT dinilai menciptakan peluang bisnis baru bagi kebutuhan pasar.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Jumat, 29 Nov 2019 18:59 WIB
IPO MRT akan disambut positif, bila iklim investasi baik

Analis memprediksi rencana PT MRT Jakarta melantai di bursa pada tahun 2022 bakal mendapat sambutan positif dari investor. Meski begitu, semua bergantung pada iklim investasi dalam negeri. 

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gustama meyakini, rencana IPO PT MRT akan mendapat perhatian khusus dari calon investor.

"Pelaksanaan IPO akan direspons positif bagi pelaku pasar. MRT Jakarta akan menggunakan hasil dana tersebut dalam rangka ekspansi bisnis," ujar Nafan kepada Alinea.id pada Jumat (29/11).

Sebagai informasi, MRT Jakarta menargetkan akan membangun sepanjang 230 km lintasan hingga tahun 2030. Saat ini baru terbangun 16 km lintasan pada MRT Fase 1 (Lebak Bulus - Bundaran HI). 

Rencananya MRT Fase II (Bundaran HI - Ancol Barat) mencapai 13 km. Perpanjangan rute disebut Nafan terjadi karena ada peningkatan animo masyarakat untuk menggunakan jasa MRT. 

Pasar disebut Nafan akan antusias berkaca pada pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) yang efektif dari PT MRT. MRT dinilai menciptakan peluang bisnis baru bagi kebutuhan pasar, mulai dari: ritel, consumer goods, properti, advertising, dan lain sebagainya.

"Jika iklim investasi tersebut berjalan dengan baik, maka tren pertumbuhan pada kinerja fundamental PT MRT akan meningkat," kata Nafan.

Sebelumnya, MRT memproyeksikan perolehan laba senilai Rp60 miliar hingga Rp70 miliar pada tahun ini. Perolehan laba tersebut ditopang oleh pendapatan yang diproyeksikan mencapai Rp1 triliun. 

Sponsored

Angka itu didapat dari pendapatan tiket Rp180 miliar, pendapatan kewajiban pelayanan publik atau public service obligation atau PSO senilai Rp560 miliar.

Sisanya berasal dari pendapatan non-farebox Rp225 miliar. Lalu, pendapatan lain-lain senilai Rp40 miliar. Sementara, pengeluaran operasional MRT dan lain-lain mencapai Rp940 miliar.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif stabil dan demand terhadap MRT masih meningkat didukung tarif yang terjangkau didukung subsidi Pemprov DKI. Seyogyanya masih bisa tercapai target tersebut (Rp60 miliar hingga Rp70 miliar)," kata Nafan.

Meski demikian, Nafan menyebut ada beberapa hal yang menjadi kendala IPO Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI ini. Beberapa di antaranya yaitu perlambatan pertumbuhan ekonomi yang mempengaruhi kinerja fundamental perusahaan serta penghapusan subsidi.

"Hambatan lainnya yaitu di proses bookbuilding. Karena itu memerlukan waktu," ucap Nafan.

Sebelumnya, Presiden Direktur MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, rencana IPO ini berdasarkan dari perolehan laba yang didapat. MRT Jakarta menargetkan laba bersih senilai Rp60 miliar hingga Rp70 miliar hingga akhir 2019.

Untuk 2020, pihaknya memproyeksikan laba mencapai Rp200 miliar hingga Rp250 miliar. Sedangkan pada 2021, laba ditaregetkan mencapai Rp300 miliar hingga Rp350 miliar.

"Kalau tiga tahun berturut-turut keuangan kita seperti ini, maka pada 2022 kita bisa IPO," kata William di Wisma Nusantara, Jakarta, Rabu (27/11).