close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi perbankan. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi perbankan. Foto Pixabay.
Bisnis
Rabu, 28 Februari 2024 16:58

Punya saham BTPN? Tahan dulu…

PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) mengumumkan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 3% pada tahun 2023. Bagaimana rekomendasi sahamnya?
swipe

PT Bank BTPN Tbk. (BTPN) mengumumkan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 3% pada tahun 2023 secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp12,04 triliun dari Rp11,68 triliun pada tahun sebelumnya. Margin bunga bersih (NIM) juga terkerek menjadi 6,45%, ketimbang periode yang sama tahun lalu sebesar 6,32%.

Peningkatan pendapatan bunga bersih terutama dikontribusi oleh pendapatan bunga dari kredit yang diberikan, juga menyebabkan peningkatan pendapatan operasional Bank BTPN sebesar 3% secara tahunan. Hal ini mengakibatkan laba usaha sebelum pencadangan (PPOP) meningkat dari Rp6,498 miliar menjadi Rp6,511 miliar pada periode yang sama.

"Dukungan yang diberikan nasabah Bank BTPN melalui program-program unggulan seperti Daya, menjadi faktor kunci dalam menciptakan pertumbuhan yang memberikan dampak positif bagi nasabah," ujar Direktur Utama Bank BTPN Henoch Munandar, belum lama ini. 

Adapun kredit BTPN naik 7% secara tahunan menjadi Rp156,56 triliun dari Rp146,12 triliun pada tahun 2022. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh penyaluran kredit kepada nasabah korporasi, usaha kecil dan menengah (UKM), dan Jenius. BTPN juga mencatat pertumbuhan rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) menjadi 29,14% per akhir Desember 2023 dari 24,57% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Untuk rasio kredit bermasalah (NPL) bruto tercatat turun dari 1,43% pada akhir tahun sebelumnya menjadi 1,36% pada akhir tahun 2023. Angka itu lebih rendah dibandingkan rata-rata industri yang sebesar 2,2% pada akhir tahun 2023.

Saldo current account dan saving account (CASA) atau dana murah BTPN tercatat meningkat sebesar 10% yoy dari Rp40,16 triliun di 2022 menjadi Rp44,19 triliun pada akhir 2023. Rasio CASA juga mengalami peningkatan dari 35% menjadi 40,8%.

Sementara, total deposito mengalami penurunan sebesar 14% yoy menjadi Rp64,01 triliun, yang berdampak pada penurunan total dana pihak ketiga (DPK) sebesar 6% yoy dari Rp114,87 triliun pada akhir Desember 2022 menjadi Rp108,20 triliun pada akhir Desember 2023. Penurunan ini terkait upaya Bank BTPN untuk mengoptimalkan biaya dana. 

Laba bersih setelah pajak BTPN (konsolidasi) yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp2.358 miliar pada akhir tahun 2023, lebih rendah 24% yoy. Penurunan ini disebabkan oleh keputusan perusahaan untuk menambah pencadangan kredit sebesar Rp1.210 miliar. Hal itu sebagai bentuk antisipasi berakhirnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) relaksasi kredit restrukturisasi pada 31 Maret 2024.

Meski demikian, rasio likuiditas dan pendanaan, yakni liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 199,7% dan net stable funding ratio (NSFR) 113,8% per 31 Desember 2023. Perseroan mencatat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) di level 29,9%.

Rekomendasi analis

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan meski laba bersih perusahaan tercatat melambat, namun masih dalam tren pertumbuhan. Di sisi lain, ujarnya, BTPN perlu meningkatkan likuiditas untuk mendorong ekspansi. Salah satu yang bisa dilakukan yakni melalui penutupan cabang, 

"Langkah ini untuk meningkatkan potensi pertumbuhan di masa mendatang. BTPN memiliki prospek yang menjanjikan, terutama jika dapat mengatasi tantangan likuiditas dan terus meningkatkan kinerja laba bersihnya secara konsisten," ujar Nafan kepada Alinea.id. 

Menurutnya, prospek pertumbuhan BTPN akan diperkuat oleh potensi pertumbuhan kredit di pasar dalam negeri. Kondisi politik yang stabil selama pemilihan umum (pemilu) dan kebijakan yang menjamin stabilitas sektor keuangan domestik diramal akan mendorong kredit. 

"Prospek BTPN akan didukung oleh potensi pertumbuhan kredit di pasar domestik, terutama dengan adanya target pertumbuhan ganda yang diterapkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Potensi penerapan kebijakan ekspansi oleh BI (Bank Indonesia) juga akan memberikan dorongan positif bagi sektor keuangan, khususnya dalam upaya meningkatkan likuiditas dan mendukung pertumbuhan kredit," tuturnya.

Nafan merekomendasikan untuk menahan atau hold saham BTPN dengan take profit (TP) Rp2.700 per saham. Pada perdagangan Rabu (28/2) saham BTPN ditutup melemah 0,10% ke Rp2.620 per saham dari penutupan Selasa (27/2) yang di level Rp2.622 per saham. 

img
Aldo Ariyanto
Reporter
img
Satriani Ari Wulan
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan