sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Saham produsen Blueprint auto reject atas saat IPO

PT Berkah Prima Perkasa Tbk. menawarkan 168 juta sahamnya ke publik.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 08 Jul 2019 12:29 WIB
Saham produsen Blueprint auto reject atas saat IPO

PT Berkah Prima Perkasa Tbk. resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten yang bergerak di bisnis tinta isi ulang, kertas foto dan toner, serta perlengkapan Point of Sale (POS) dengan merek Blueprint ini menjadi emiten ke-23 yang tercatat di BEI tahun ini.

Emiten berkode BLUE ini menawarkan 168 juta sahamnya ke publik dengan harga penawaran Rp130 per lembar saham. Dengan IPO ini, BLUE memperkirakan akan memperoleh dana sekitar Rp21,84 miliar.

Pada pembukaan perdagangan pagi ini, saham BLUE naik 69,23% ke level Rp220 dari harga pembukaan Rp130 dan langsung mengalami auto reject atas. Tercatat terjadi pembelian dengan frekuensi dua kali, dengan volume 20, dan dengan nilai Rp440.000.

Direktur Utama Blueprint Herman Tansri mengatakan dana yang dihimpun pihaknya  dari IPO ini sebagian besar akan mereka gunakan untuk pembelian gudang tempat produksi perusahaan, memperluas varian produk yang akan mereka jual, dan untuk ekspansi divisi baru mereka yaitu percetakan tekstil. 

"Percetakan tekstil adalah turunan dari salah satu jenis tinta yang kami jual, yaitu tintan untuk laminasi. Ini adalah industri yang sedang naik daun di luar negeri, harganya memang lebih mahal dari cetak tradisional," ujar Herman di gedung BEI, Senin (8/7).

Herman menyebutkan keunggulan percetakan kain mereka yakni lebih ramah lingkungan daripada percetakan kain tradisional yang menggunakan banyak air dan mencemari lingkungan dengan limbah air bekas cetak. Herman pun menyebut saat ini pihaknya banyak menerima pesanan cetakan kain dari desainer ternama Indonesia seperti Ivan Gunawan dan Barly Asmara.

Untuk diketahui, BLUE pada 2018 mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp12,84 miliar. Laba tersebut turun sebesar Rp1,98 miliar atau 13,39% dari laba tahun berjalan tahun 2017 sebesar Rp14,82 miliar. Penurunan ini disebabkan karena adanya adanya biaya perbaikan dan perawatan gudang yang dilakukan perseroan di tahun 2018. 

Sementara untuk penjualan perseroan di kuartal-I tahun ini, Herman mengatakan jumlahnya sama dengan tahun lalu sebesar Rp33,2 miliar. Kontribusi terbesar penjualan tersebut, lanjut Herman, datang dari penjualan tinta dengan porsi 50% dari penjualan, lalu kertas foto, kertas thermal, dan toner. 

Sponsored

"Untuk pendapatan, saya menargetkan pendapatan tumbuh 7% tiap tahun. Pada tahun ini pemilu membuat diler kami melakukan penahanan pembelian, tapi hingga bulan Juni penjualan kami tidak ada penurunan," kata Herman.