sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Darurat sapi sakit kulit dan ancaman kian mahalnya daging sapi

Ancaman penyebaran wabah akan menurunkan produksi sapi yang pada akhirnya mengerek harga daging sapi kian mahal.

Qonita Azzahra
Qonita Azzahra Jumat, 29 Apr 2022 06:30 WIB
Darurat sapi sakit kulit dan ancaman kian mahalnya daging sapi

Belasan sapi ternak di Indragiri Hulu, Riau mengalami benjolan pada kulit yang menimbulkan rasa gatal. Beberapa hewan sapi bahkan terlihat gelisah dan mengalami kenaikan suhu badan. Bertarikh 9 Februari lalu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau untuk pertama kali menemukan sapi-sapi tersebut terjangkit wabah Lumpy Skin Disease alias LSD.

Penyakit kulit pada sapi yang disebabkan oleh virus LSD (LSD Virus/LSDV) itu berasal dari family Poxviridae. Menurut penelitian Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) pertengahan Februari lalu, virus LSD yang ditemukan di Riau memiliki kesamaan 98,87% dengan strain atau varian virus LSD Cina. Ini dibuktikan dengan target gen GPCR (G-Protein-coupled Chemokine Receptor), salah satu cara pengujian virus yang memanfaatkan perbedaan temperature melting point. 

Hingga 1 April, virus yang masif menyebar di dunia sejak 2019-2021 ini telah menyebar hampir di seluruh Provinsi Riau dan mulai merambah ke Sumatera. Untuk Riau, tercatat ada sebanyak 215 kasus di Indragiri Hulu, disusul Siak sebanyak 78 kasus, Kota Dumai 51 kasus, Pelalawan 39 kasus, Indragiri Hilir 21 kasus, Bengkalis 21 kasus, dan Kampar 8 kasus. 

“Sampai saat ini kasus terbanyak masih di Indragiri Hulu,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau Faralinda Sari, kepada Alinea.id, Sabtu (23/4).

Dua bulan berselang, virus yang semula hanya menyebar di Riau ini pun meluas hingga Pulau Sumatera. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, hingga 20 April LSD telah menyerang sekitar 1.181 ekor hewan ternak. Dengan Aceh menjadi penyumbang terbanyak, yakni 564 kasus, kemudian Riau 527 kasus, Sumatera Utara 73 kasus, Jambi 13 kasus, serta Sumatera Barat 4 kasus. 

Ancaman krisis produksi

Meski menurut berbagai penelitian LSD tidak begitu mematikan dan tidak bersifat zoonosis atau menular ke manusia, virus yang pertama kali ditemukan di Zambia pada 1929 ini dapat menyebar cepat ke hewan ternak, khususnya sapi dan kerbau. Apalagi, penyebaran virus atau yang biasa disebut vector penular LSD ini dapat menjelajah hingga 28 kilometer. 

Jika tidak segera dibendung penularannya, LSD dikhawatirkan akan menjadi wabah dan menyebar hingga ke seluruh wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa yang merupakan sentra peternakan sapi dan kerbau.

Sponsored

Foto Pixabay.com.

“Sekarang saja, LSD ini sekarang sudah bukan lagi kecil, tapi sudah membesar dan jangan sampai diabaikan oleh semua pihak,” ujar Ketua Pusat Kajian Pangan Pertanian dan Advokasi (Pataka) Ali Usman, dalam Webinar "Wabah Lumpy Skin Disease, Bagaimana Penanggulangan dan Pencegahan yang Tepat?" pada Rabu (20/4) lalu. 

Kondisi ini, jelas akan menimbulkan kerugian tersendiri bagi peternak, pedagang dan pihak lainnya yang terlibat dalam rantai pasar perdagangan (supply chain) sapi dan produk sapi. Sebab, untuk meminimalisir penyebaran virus, bisa jadi akan ada pembatasan perdagangan sapi dan produk sapi di wilayah wabah terjadi. 

Dengan kondisi ini lalu lintas perdagangan sapi dan produk sapi, baik di tingkat lokal, regional, maupun internasional pun akan terhenti. “Artinya, pendapatan para peternak akan nol. Akan bangkrut semua. Karena mereka harus menutup peternakan mereka,” ungkap Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Subendro, saat dihubungi Alinea.id, Senin (25/4).

Selain itu, dia juga khawatir, minat masyarakat terhadap konsumsi daging sapi akan semakin turun, lantaran jijik dengan kondisi sapi atau kerbau yang telah tertular virus LSD. Meskipun dalam praktiknya, saat pemotongan dilakukan, daging yang mana kulitnya telah terinveksi LSD akan dibuang. Hal yang sama berlaku juga pada kulit sapi atau kerbau yang juga telah terinfeksi.

“Jadi, yang digunakan baik kulit atau daging untuk konsumsi itu memang benar-benar yang masih bagus. Tempat yang ada benjolannya, akan dibuang dari kulit sampai ke dalam-dalamnya. Sehingga yang bagus aja yang dikonsumsi,” jelasnya.
 
Di saat yang sama, ternak yang telah terinfeksi LSD, juga dipastikan akan mengalami penurunan harga jual. Nanang mengasumsikan, untuk kulit sapi normal, biasanya dapat dijual dengan harga Rp500.000 per satu ekor sapi. 

Namun, ketika sapi tertular, kulit mamalia ini tidak akan bisa digunakan lagi, atau hanya bagian yang masih bagus saja yang bisa digunakan. Dengan demikian, kulit sapi atau kerbau akan mengalami penurunan atau bahkan tidak lagi bernilai jika penyakit kulit sudah parah.
 
Belum lagi, ternak yang sakit juga akan mengalami penurunan berat badan, lantaran tidak memiliki nafsu makan. Hal ini jelas membuat presentase daging sapi atau kerbau yang terjangkit akan mengalami penurunan. Begitu juga untuk sapi perah.

“Ditambah daging yang harus dibuang, kerugiannya bisa sampai 40% dari nilai sapi itu. Jadi kalau misal harga Rp20 juta per ekor, bisa cuma jadi Rp8 jutaan,” imbuhnya. 

Foto Pixabay.com.

Karenanya, jika wabah tidak segera ditangani dan berlangsung dalam waktu lama, industri ternak regional dan nasional berpotensi hancur. Hal ini akan diperparah dengan impor bakalan sapi dari Australia yang juga berpotensi dihentikan. 

Melansir ABC News, Menteri Pertanian Australia David Littleproud pada awal Maret lalu telah memberikan sinyal akan menyetop sementara impor sapi hidup ke negara-negara yang telah terjangkit LSD, termasuk Indonesia. Padahal, menurut data Meat & Livestock Australia 2020, sekitar 70% total kebutuhan daging sapi dan sapi bakalan nasional berasal dari impor, utamanya dari Australia. 

Jika hal ini terjadi, Nanang khawatir harga daging sapi akan semakin melonjak. Belum lagi, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha juga semakin dekat. 

“Takutnya, kalau semakin banyak sapi yang tertular dan harus dipotong atau dibuang (bagian kulit dan daging yang telah terinfeksi-red), stok daging sapi Indonesia akan semakin sedikit. Jadi harganya bisa akan semakin mahal. Padahal kan Idul Fitri dan Adha ini momen meningkatnya permintaan daging,” tutur dia.
 
Terpisah, Ketua II Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) Tri Satya Putri Naipospos menilai, jika wabah LSD berlangsung dalam waktu yang lama, dia khawatir jika nantinya ketahanan pangan nasional akan terganggu. 

Seperti yang pernah terjadi di Afrika, di mana wabah LSD parah menyebabkan penurunan output produksi ternak, peningkatan biaya ternak untuk vaksinasi serta pemeriksaan daging, gangguan perdagangan ternak dan produknya yang pada akhirnya bisa berdampak juga pada potensi kehilangan tenaga kerja ternak. 

Dalam waktu yang lebih panjang, virus LSD dapat menyebabkan infertilitas temporer atau tidak dapat menghasilkan keturunan sementara, atau bahkan mengalami sterilitas permanen alias kemandulan. 

“Untuk sapi induk bunting, kalau tertular dapat mengalami keguguran dan infertilitas yang berlangsung selama beberapa bulan,” katanya, pada Alinea.id, Senin (25/4).

Foto Pixabay.com.

Pada kasus yang lebih berat, LSD juga dapat menyebabkan kematian pada hewan ternak, meski tidak banyak. Berdasarkan penelitian, lanjut Tri, LSD memiliki tingkat kesakitan alias infeksi hingga 45%, dengan tingkat kematian kurang dari 10%. Namun, penyebaran virus yang juga baru masuk di Singapura ini dapat terjadi sangat cepat. 

“Karena itu, pemerintah harus segera menangani wabah ini dengan cepat, agar tidak semakin meluas,” ujar dia. 

Penyebaran Lumpy Skin Desease

Wilayah

Tahun

Penyebaran

Afrika

1929

Pertama kali ditemukan di Zambia

 

1943

Botzwana, Zimbabwe, Afrika Selatan

 

1957

Kenya

 

1974-1977

Sudan, Nigeria, Mauritania, Mali, Ghana, Liberia

 

1981-1986

Tanzania, Kenya, Zimbabwe, Somalia, Kameron

Timur Tengah

1988-2006

Palestina, Israel, Mesir, Bahrain, Kuwait, Oman, Libanon, Jordania, Yaman, Turki, Saudi Arabia, Irak

Eropa Tenggara

2015-2016

Bulgaria, Siberia, Albania, Kroasia, Kazakhstan, Yunani, Bosnia, Herzegovina, Yugoslavia, Rumania, Kroatia, Kosovo

Asia

2019

Bangladesh, Cina, India

 

2020

Taiwan, Vietnam, Bhutan, Nepal, Hongkong, Myanmar

 

2021

Sri Lanka, Laos, Malaysia, Thailand

 

2022

Indonesia, Singapura

 

 

Perbanyak vaksinasi

Sementara itu, pengendalian virus LSD paling baik dilakukan dengan langkah vaksinasi. Utamanya pada sapi atau kerbau yang belum terinfeksi. Sedang bagi ternak yang telah terjangkit, hanya bisa diisolasi, agar tidak menulari ternak lain.

Sebagai bentuk penanganan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan telah berkomitmen untuk melakukan vaksinasi di berbagai daerah, khusunya di Riau yang mana virus LSD telah menjadi wabah di sana.

Pada tahap pertama, yakni pertengahan Maret lalu, pemerintah yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Riau telah memberikan 100 dosis vaksin pada sapi-sapi di zona kontrol (pengendalian) dengan radius 10 kilometer dari desa kasus. 

Sementara secara keseluruhan, Kementan sampai saat ini hanya mampu menyediakan sebanyak 476 ribu dosis vaksin. Jumlah ini, diakui Direktur Kesehatan Hewan Kementan Nuryani Zainuddin masih kurang dari kebutuhan vaksinasi hewan ternak, yang berjumlah 2,7 juta ekor. 

Hal ini dikarenakan tidak cukupnya anggaran yang dimiliki oleh Kementan untuk menyediakan vaksin LSD. “Sebenarnya kami butuh setidaknya Rp104 miliar untuk kebutuhan vaksinasi sebanyak 80% dari populasi ternak di Sumatera yang sedang terjadi wabah,” katanya Rabu (21/4) lalu. 

Karenanya, untuk pelaksanaan vaksinasi yang masif, pihaknya masih terus mengupayakan dukungan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN), selain juga Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemda Riau. 

“Selain itu, kita juga dapat dukungan dari program Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) dan Global Health Security Program Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO),” ungkap dia, saat dihubungi Alinea.id, Senin (25/4).

Tidak hanya vaksinasi, Kementan pun juga masih terus melakukan sosialisasi terkait apa itu LSD yang dapat menjangkiti sapi dan kerbau, bagaimana penanganan, serta pencegahannya kepada masyarakat. Hal ini tak kalah penting untuk dilakukan, karena sampai sekarang LSD masih menjadi persoalan asing, bahkan untuk para peternak. 

"Kita gencarkan juga sosialisasi tentang LSD melalui berbagai media serta webinar berseri tentang kesiapsiagaan terhadap LSD pada tahun 2021," imbuh Nuryani.

Upaya peningkatan kewaspadaan ini, didukung juga oleh petugas di lapangan dapat mendeteksi secara cepat kejadian LSD secara real-time. Sehingga, setelah terdeteksi virus pada ternak di suatu daerah, petugas dapat segera melaporkan dan menanganinya. 

"Strategi utama adalah vaksinasi, namun ini harus didukung dengan deteksi dini dan penelurusan kasus, pengendalian lalu lintas, pengendalian vektor, serta komunikasi, informasi dan edukasi," tandas dia.

Ilustrasi Alinea.id/Firgie Saputra.
 

Berita Lainnya